,
menampilkan: hasil
Pemkot Pontianak Konsisten Jalankan Program Selaras RPJMD 2025-2029
Wawako Sampaikan Jawaban atas Pandangan Umum Fraksi-fraksi DPRD terhadap RPJMD 2025-2029
PONTIANAK - Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan menyampaikan pidato jawaban atas pandangan umum fraksi-fraksi DPRD Kota Pontianak terhadap Rancangan Peraturan Daerah tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Pontianak Tahun 2025-2029.
Bahasan menyampaikan apresiasi atas dukungan dari delapan fraksi DPRD Kota Pontianak terhadap RPJMD 2025-2029. Fraksi-fraksi tersebut antara lain Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi Partai Gerindra, Fraksi Partai Golongan Karya, Fraksi Partai Nasional Demokrat, Fraksi PKS, Fraksi Partai Demokrat, Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa dan Fraksi PPP, Hanura dan PAN.
Menanggapi pandangan Fraksi PDI Perjuangan, Wakil Wali Kota menegaskan komitmen pemerintah kota untuk terus mendorong peningkatan pendapatan daerah dari sektor pajak, retribusi dan sumber pendanaan lain. Pertumbuhan ekonomi Kota Pontianak akan diarahkan pada sektor perdagangan dan jasa, terutama pariwisata, pendidikan, kesehatan serta UMKM.
"Kota Pontianak tidak memiliki sumber daya alam, sehingga diperlukan upaya inovatif seperti diversifikasi ekonomi dengan mendorong produk unggulan, pengembangan destinasi wisata dan event wisata seperti wisata sejarah, budaya maupun olahraga," jelasnya saat menyampaikan pidato jawaban atas pandangan umum fraksi-fraksi di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Pontianak, Jumat (9/5/2025).
Untuk peningkatan sumber daya manusia, Pemerintah Kota Pontianak berkomitmen meningkatkan kualitas melalui pendidikan, pelatihan vokasional yang sesuai kebutuhan pasar serta pendidikan karakter dengan menjalin kolaborasi bersama pemerintah provinsi, nasional dan dunia usaha.
Menanggapi Fraksi Partai Gerindra, Wakil Wali Kota sepakat bahwa penerapan digitalisasi tata kelola pemerintahan terutama pelayanan publik tetap harus memperhatikan masyarakat lanjut usia dan kelompok rentan lainnya.
Terkait penanganan genangan air, dijelaskan bahwa Kota Pontianak merupakan daerah pesisir dengan topografi relatif datar dan rentan terhadap perubahan iklim.
“Dalam penanganan genangan memerlukan pemeliharaan dan pembangunan drainase, peningkatan ruang terbuka hijau!dan tata kota. Di masa depan dibutuhkan penggunaan pompanisasi pada sistem pengendalian genangan atau banjir," tutur Bahasan.
Untuk penanganan sampah, ia menjelaskan bahwa volume sampah Kota Pontianak mencapai 400 - 500 ton per hari. Sementara pemerintah kota telah mampu mengelola sebanyak 98 persen dengan pengurangan sampah dari sumbernya sebanyak 25,06 persen.
"Pengelolaan sampah akan ditangani lebih baik dengan membangun TPST per kecamatan dan mengubah TPA Batu Layang menjadi tempat pengolahan akhir sampah terpadu," tambahnya.
Kemudian menjawab pandangan umum dari Fraksi Partai Golkar, Bahasan menerangkan bahwa penyusunan RPJMD Kota Pontianak telah mempedomani regulasi yang berlaku dan melibatkan partisipasi masyarakat, akademisi serta seluruh stakeholder melalui forum konsultasi publik dan musrenbang.
"Pemerintah Kota Pontianak akan konsisten menjalankan program yang selaras dengan visi dan misi RPJMD yang bertujuan memberikan kesejahteraan bagi warga dan berorientasi pada nilai kemanusiaan dan keadilan," katanya.
Dalam mendorong peningkatan investasi, Pemerintah Kota Pontianak telah menyusun peta investasi, pembangunan Mal Pelayanan Publik, serta peningkatan kualitas pelayanan publik.
Terkait pandangan Fraksi PKB, Wakil Wali Kota menegaskan pentingnya pembinaan UMKM dan pengembangan pusat kuliner yang sejalan dengan kebijakan dalam RPJMD.
"Pemerintah Kota Pontianak menetapkan pemberdayaan UMKM dan penguatan ekonomi kreatif sebagai salah satu program prioritas daerah," tegasnya.
Mengenai persoalan pelayanan air bersih oleh PDAM, terutama di wilayah pinggiran kota, RPJMD 2025-2029 secara tegas menetapkan peningkatan cakupan layanan air bersih sebagai salah satu tujuan strategis.
Menanggapi Fraksi PPP, Hanura dan PAN terkait keterbatasan lahan, Bahasan sependapat bahwa Pemerintah Kota Pontianak perlu mengeluarkan kebijakan pembangunan vertikal, baik untuk rumah tinggal maupun perkantoran. (prokopim)
Wali Kota Pontianak Tanam Pohon Ketapang Kencana di Taman Surabaya
Wali Kota se-Indonesia Tanam Pohon Serentak APEKSI di Surabaya
SURABAYA - Sebanyak 98 wali kota dari seluruh Indonesia melakukan penanaman pohon secara serentak di Taman Surabaya. Penanaman pohon ini merupakan bagian dari rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) VII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) yang sedang berlangsung di Kota Pahlawan.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mendapat bagian menanam bibit pohon Ketapang Kencana atau dalam bahasa latin dikenal dengan nama Terminalia mantaly. Dibantu sang istri, Yanieta Arbiastutie Kamtono, Edi menanam bibit pohon Ketapang Kencana yang telah disediakan panitia di lokasi yang telah ditentukan.
"Penanaman pohon ini merupakan bentuk komitmen para kepala daerah terhadap pelestarian lingkungan dan upaya penghijauan kota," ujarnya usai menanam pohon, Jumat (9/5/2025).
Edi menambahkan bahwa kegiatan penanaman pohon secara serentak ini juga menandakan kebersamaan para kepala daerah dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
"Ini bukan sekadar seremonial, tapi bentuk nyata kepedulian kami terhadap keberlanjutan lingkungan untuk generasi mendatang," tambahnya.
Yang menarik, di dekat setiap pohon yang ditanam, terdapat papan kecil bertuliskan barcode yang dapat dipindai untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai identifikasi pohon tersebut.
"Dengan adanya barcode ini, masyarakat bisa mengetahui jenis pohon, manfaat, serta kapan dan siapa yang menanamnya. Ini adalah cara modern untuk edukasi lingkungan," jelas Edi.
Ketapang Kencana yang ditanam oleh Wali Kota Pontianak merupakan jenis pohon yang dikenal memiliki nilai estetika tinggi dan cocok sebagai tanaman peneduh di kawasan perkotaan. (prokopim)
Produk UMKM Pontianak Curi Perhatian di Indonesia City Expo
Rangkaian Munas VII APEKSI
SURABAYA - Produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) asal Kota Pontianak berhasil mencuri perhatian pengunjung dalam ajang Indonesia City Expo (ICE) yang digelar dalam rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) VII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI).. Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, mengungkapkan antusiasme pengunjung terhadap produk lokal Pontianak sangat luar biasa.
"Alhamdulillah untuk Indonesia City Expo, kita menampilkan hasil produk UMKM di Kota Pontianak dan kopi khas Pontianak, yaitu Kopi Aming. Pengunjung yang datang ke stand kita cukup luar biasa," ujarnya saat meninjau Stand Kota Pontianak di Exhibition Hall, Grand City Surabaya, Kamis (8/5/2025) malam.
Edi menyebut, keikutsertaan Pontianak dalam pameran ini diharapkan dapat memperkenalkan produk UMKM Pontianak secara lebih luas sekaligus mendorong transaksi yang menguntungkan pelaku usaha lokal.
"Mudah-mudahan ini bisa memperkenalkan produk-produk kita, sekaligus terjadi transaksi untuk kemajuan UMKM Kota Pontianak," tambahnya.
Tidak berhenti di situ, Pemerintah Kota Pontianak juga tengah mempersiapkan berbagai program untuk mendukung pengembangan UMKM ke depannya. Salah satunya adalah pembangunan rumah kemasan gratis yang saat ini sedang dalam proses pengerjaan.
"Ke depan, harapan kita ada sinergisitas seperti rumah kemasan gratis yang sedang kita bangun dan banyak program-program unggulan lain yang akan mengangkat hasil produk UMKM, termasuk pembangunan packaging dan sebagainya," jelasnya.
Dengan berbagai inisiatif tersebut, Pemerintah Kota Pontianak berkomitmen untuk terus mendorong pertumbuhan sektor UMKM sebagai salah satu penggerak ekonomi lokal. (prokopim)
APEKSI Wadah Komunikasi Pemkot dengan Pemerintah Pusat
Wali Kota Edi Kamtono Hadiri Munas VII APEKSI di Surabaya
SURABAYA - Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) VII Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Convention Hall, Grand City Surabaya, Kamis (8/5/2025). Sebanyak 98 pemerintah kota seluruh Indonesia berkumpul di Surabaya untuk mengikuti rangkaian Munas VII APEKSI.
Edi menilai APEKSI bisa menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat terkait berbagai permasalahan di perkotaan. Banyak hal yang menjadi isu untuk dibahas dalam pertemuan wali kota seluruh Indonesia ini, mulai dari tata kelola pemerintahan, bagaimana masalah kemampuan fiskal, bagaimana masalah-masalah koordinasi yang berkaitan dengan regulasi yang dibuat oleh pemerintah pusat.
“Ini bisa menjadi jembatan untuk berkomunikasi dengan pemerintah pusat," ujarnya usai menghadiri Munas VII APEKSI.
Ia menekankan pentingnya jaringan APEKSI sebagai wadah silaturahmi dan kolaborasi antar pemerintah kota di Indonesia dalam mendorong pembangunan daerah.
"APEKSI adalah wadah silaturahmi pemerintah kota seluruh Indonesia untuk bersinergi, berkolaborasi dan mensinkronisasi kegiatan pembangunan di kota-kota," ungkapnya
Menurut Wali Kota Edi Kamtono, pertemuan APEKSI menjadi kesempatan berharga untuk saling belajar dan mengeksplorasi potensi daerah. Ia yakin setiap kota memiliki keunggulan masing-masing sehingga bisa saling berbagi informasi berkaitan dengan potensi yang dimiliki.
"Dalam momentum ini, kita harus mengambil kesempatan, selain kita belajar dan mengeksplorasi, kita juga bisa menampilkan potensi-potensi daerah yang ada seperti pada Indonesia City Expo (ICE) 2025 yang sekarang sudah berlangsung," jelasnya.
Terkait kolaborasi antar kota melalui jaringan APEKSI, Edi menyampaikan beberapa poin penting. Pertama, menyiapkan persepsi yang sama tentang kepentingan-kepentingan yang ada di kota, berbagai masalah yang ada selama ini. Kedua, bagaimana saling menutupi kekurangan yang ada di setiap kota.
“Karena pada dasarnya kota itu sebagai konsumen, bukan produsen,” sebutnya.
Setelah mengikuti Munas VII APEKSI, Edi mengaku mendapatkan banyak inspirasi dan contoh dari kota-kota yang sudah maju. Contoh-contoh kota yang sudah maju menjadi pembelajaran baginya untuk dapat diterapkan di Kota Pontianak.
"Sebenarnya banyak, karena saya juga banyak mendapat pembelajaran, contoh-contoh kota yang sudah maju. Baik dari sisi tata kelola pemerintahan, digitalisasi, hingga bagaimana mengatasi masalah sosial ekonomi dan sebagainya,” imbuhnya.
Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya menekankan bahwa Munas APEKSI bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan momentum untuk memperkuat sinergi dan saling menginspirasi antar kepala daerah. Ia juga memberikan pesan kepada para kepala daerah yang hadir, terutama yang baru terpilih.
"Di sini sebagian besar wali kota baru. Ada 25 orang saja wajah lama. Untuk yang lama, selamat terus berjuang. Untuk yang baru, selamat terus berjuang," tuturnya.
Wamendagri mengingatkan, masa jabatan kepala daerah terasa cepat berlalu, bukan karena fasilitasnya atau popularitasnya, tetapi karena kesempatan untuk memudahkan urusan warga dan melakukan hal-hal kemanusiaan cepat berlalu.
"Sejatinya menjadi kepala daerah adalah pengabdian dan kemanusiaan. Bukan soal ketenaran, bukan hanya keuangan, apalagi kekuasaan. Dan saya yakin bapak-ibu pasti sangat merasakan itu. Menjadi wali kota adalah pengabdian dan kemanusiaan," tegasnya. (prokopim)