,
menampilkan: hasil
Keberagaman Kekuatan Persatuan Kalbar
HUT ke-9 Perkumpulan Penggemar Budaya Jawa Kalbar
PONTIANAK – Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Pontianak Yusnaldi mengajak masyarakat untuk terus menjaga keberagaman budaya sebagai kekuatan dalam mempererat persatuan. Keberagaman tersebut merupakan modal pembangunan, terutama di tanah Khatulistiwa yang heterogen. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Hari Ulang Tahun ke-IX Perkumpulan Penggemar Budaya Jawa Kalimantan Barat di Rumah Radakng, Sabtu (18/7/2026) malam.
“Semoga di usia yang semakin matang, komunitas ini semakin solid, maju, dan terus menjadi pelestari budaya Jawa, sekaligus menjadi jembatan persaudaraan di tengah masyarakat Kalimantan Barat yang majemuk,” ujarnya.
Menurut Yusnaldi, Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan keberagaman budaya. Budaya Jawa, lanjutnya, merupakan salah satu warisan luhur bangsa yang sarat dengan nilai kesopanan, gotong royong, tata krama, dan semangat kebersamaan.
Nilai-nilai tersebut tetap relevan untuk dipelihara dalam kehidupan masyarakat Kalimantan Barat. Terlebih, Kalbar merupakan rumah bagi berbagai suku, agama, adat, dan budaya yang hidup berdampingan.
“Kalimantan Barat merupakan rumah bagi berbagai suku, agama, dan budaya. Keharmonisan yang selama ini terjalin harus terus kita jaga,” katanya.
Yusnaldi menegaskan, keberagaman bukan penghalang dalam membangun persatuan. Sebaliknya, keberagaman menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan sosial dan memperkokoh semangat Bhinneka Tunggal Ika.
“Keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang memperkaya persatuan dan memperkokoh semangat Bhinneka Tunggal Ika,” ungkapnya.
Ia berharap Perkumpulan Penggemar Budaya Jawa Kalimantan Barat terus berperan aktif dalam melestarikan seni, bahasa, adat, dan budaya Jawa. Peran tersebut penting agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai warisan budaya bangsa.
Selain itu, Yusnaldi juga mendorong komunitas budaya Jawa untuk terus membangun kolaborasi dengan komunitas budaya lainnya. Menurutnya, kerja sama lintas budaya akan mempererat persaudaraan dan memperkuat identitas budaya bangsa. Pemkot Pontianak ujarnya, terbuka untuk segala bentuk kontribusi dari warganya.
Yusnaldi berharap peringatan HUT ke-9 ini tidak hanya menjadi ajang perayaan, tetapi juga ruang silaturahmi dan inspirasi bagi masyarakat. Termasuk agar Perkumpulan Penggemar Budaya Jawa Kalimantan Barat semakin maju, kompak, dan terus berkarya dalam mendukung pelestarian budaya di tengah masyarakat yang majemuk.
“Selamat ulang tahun kepada Perkumpulan Penggemar Budaya Jawa Kalimantan Barat yang ke-9. Semoga semakin maju, semakin kompak, dan terus berkarya untuk Indonesia maju,” pungkasnya. (prokopim)
Pemusatan Latihan Kafilah MTQ Mesti Serius dan Terukur
PONTIANAK – Ketua Umum LPTQ Kota Pontianak Amirullah meminta pemusatan latihan kafilah Kota Pontianak untuk menghadapi MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Barat ke-34 di Kayong Utara dikelola secara serius, terarah, dan terukur. Training center harus benar-benar dimaknai sebagai proses memusatkan perhatian, tenaga, dan strategi untuk menyiapkan peserta secara maksimal sebelum bertanding.
“Karena ini pemusatan latihan, arahannya adalah benar-benar latihan. Semua komponen harus berjalan dengan baik,” ujar Sekretaris Daerah Kota Pontianak ini ketika membuka TC Kafilah Kota Pontianak di Aula Gedung LPTQ Kota Pontianak, Jumat (10/7/2026).
Menurutnya, dalam sebuah pemusatan latihan terdapat banyak unsur yang saling berkaitan, mulai dari peserta atau kafilah, pelatih, sarana dan prasarana, hingga pengurus dan panitia yang mengelola seluruh kebutuhan latihan. Semua unsur tersebut harus bekerja harmonis agar proses pembinaan berjalan optimal. Setiap kegiatan harus dirancang, diorganisasi, dilaksanakan, dimonitor, dievaluasi, dan dilaporkan.
“Mengurus itu artinya mengelola. Kerja harus dirancang, diorganisir, dikerjakan, dimonitor, dievaluasi, dan dibuat laporan,” katanya.
Amirullah meminta seluruh pengurus dan panitia menggunakan pendekatan yang berpusat pada peserta atau kafilah. Menurutnya, yang paling utama dalam pemusatan latihan adalah memastikan peserta benar-benar siap, terlatih, terbimbing, dan terfasilitasi dengan baik.
“Pendekatannya harus pendekatan peserta. Apa kebutuhan mereka, itu yang harus diperhatikan, supaya mereka bisa maksimal dan optimal,” jelasnya.
Ia mengingatkan, peserta yang mengikuti MTQ memiliki karakter, cabang, dan kebutuhan yang berbeda. Tidak hanya cabang tilawah, tetapi juga cabang lain seperti hifzil Quran, kaligrafi, dan bidang perlombaan lainnya. Karena itu, pola pembinaan harus menyesuaikan kebutuhan masing-masing peserta.
“Ini sebuah kompetisi, pertandingan, dan perlombaan. Kita harus melihat lawan, bukan musuh, agar kita tidak terlena dan tertinggal,” ungkapnya.
Ia menekankan, semangat kompetisi harus tetap dibangun secara sehat. Tujuannya bukan sekadar mengikuti perlombaan, tetapi membawa kafilah Kota Pontianak tampil lebih baik dan meraih hasil terbaik. Selain aspek teknis, Amirullah juga mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam mengurus kegiatan keagamaan. Menurutnya, LPTQ memiliki tugas mulia dalam pengembangan Al-Quran, sehingga seluruh pengurus dan panitia harus bekerja dengan ikhlas.
“Luruskan niat semata-mata untuk mengembangkan Al-Quran dan mencari pahala. Ini kerja mulia,” katanya.
Amirullah berharap pemusatan latihan ini menjadi momentum memperkuat kesiapan kafilah Kota Pontianak. Dengan persiapan yang matang, ia optimistis para peserta dapat tampil maksimal pada MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Barat ke-34 di Kayong Utara.
“Mudah-mudahan tujuan kita untuk menjadi lebih baik bisa tercapai,” pungkasnya. (prokopim)
Yanieta: Lomba HKG PKK Tingkat Kota Pontianak Lahirkan Inovasi dan Perkuat Kebersamaan Kader
PONTIANAK – Ketua TP PKK Kota Pontianak, Yanieta Arbiastutie, mengajak seluruh kader PKK terus berinovasi dan menjaga semangat kebersamaan melalui berbagai lomba yang digelar dalam rangka Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Tingkat Kota Pontianak Tahun 2026. Hal itu disampaikannya saat penyerahan penghargaan kepada para pemenang lomba di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Rabu (8/7/2026).
Yanieta menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan pemenang yang telah berpartisipasi dalam berbagai perlombaan. Menurutnya, setiap lomba tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sarana edukasi dan penguatan peran kader PKK di tengah masyarakat.
"Lomba bukan semata-mata tentang menjadi juara. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana prosesnya melahirkan ide-ide baru, mempererat kerja sama, meningkatkan kreativitas, dan menghadirkan inovasi yang dapat diterapkan di wilayah masing-masing," ujar Yanieta.
Ia menjelaskan, Lomba penyuluhan Keluarga Indonesia Sadar Administrasi Kependudukan (KISAK) menjadi media untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya administrasi kependudukan sebagai hak dasar setiap warga. Sementara lomba Satu Kader Satu Cerita dan Tas Baca PKK mendorong tumbuhnya budaya literasi di lingkungan keluarga dan masyarakat.
Selain itu, lomba Vlog Kelopak Bunga PKK, Lomba pembuatan Vlog Cintailah Lingkungan, Parodi Pelayanan Posyandu Integrasi Layanan Primer dan lomba pengolahan perca TP PKK menunjukkan bahwa edukasi kepada masyarakat dapat dikemas secara kreatif, menarik, dan mudah dipahami.
Yanieta juga mengajak seluruh kader untuk terus memperkuat kolaborasi antar kecamatan dan kelurahan agar program PKK semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
"Mari kita jadikan PKK sebagai organisasi yang terus bergerak, terus belajar, terus berinovasi, dan terus hadir memberikan solusi bagi masyarakat. Tidak ada kecamatan yang berjalan sendiri, tidak ada kelurahan yang bekerja sendiri. Kita adalah satu keluarga besar TP PKK Kota Pontianak," tutupnya.
Berikut para pemenang Lomba HUT Hari Kesatuan Gerak PKK Ke 54 Tingkat Kota Pontianak
Pemenang Lomba Penyuluhan KISAK
1. Azzahra Syafiqa - Kecamatan Pontianak Utara
2. Miftah Fathiyah Azra - Kecamatan Pontianak Utara
3. Rina Kecamatan - Pontianak Selatan
4. Meri Fitri Susanti - Kecamatan Pontianak Kota
5. Krisminda Tjan - Kecamatan Pontianak Selatan
6. Lina Safitri - Kecamatan Pontianak Barat
*Pemenang Lomba Satu Kader Satu Cerita dan tas baca PKK Kota Pontianak*
1. Lilik Handayani - Pontianak Utara
2. Ainun Fariah - Kecamatan Pontianak Timur
3. Suryati - Kecamatan Pontianak Barat
4. Aminiatul Jannah - Kecamatan Pontianak Tenggara
5. Ayulfari Dikaalfiah - Kecamatan Pontianak Selatan
6. Dewa Ayu Raka - Pontianak Kota
*Pemenang Lomba Video Vlog Kelopak Bunga PKK Tingkat Kota Pontianak Tahun 2026*
1. Kelurahan Batulayang - Pontianak Utara
2. Kelurahan Sungai Jawi Luar
3. Kelurahan Sungai Jawi
4. Kelurahan Siantan Hilir
5. Kelurahan Siantan Hulu
6. Kelurahan Pal Lima
*Pemenang Lomba Pokja IV Parodi Pelayanan Posyandu Integrasi Layanan Primer*
1. Kelurahan Sungai Jawi
2. Kelurahan Siantan Tengah
3. Kelurahan Siantan Hilir
4. Kelurahan Pal V
5. Kelurahan Tengah
6. Kelurahan Parit Mayor
*Pemenang Lomba Pembuatan Vlog Cintailah Lingkungan*
1. Kelurahan Siantan Tengah
2. Kelurahan Sei Jawi
3. Kelurahan Pal V
4. Kelurahan Siantan Hilir
5. Kelurahan Benua Melayu Laut
6. Kelurahan Bansir Laut
*Lomba Pengolahan Perca TP PKK*
1. Kecamatan Pontianak Barat
2. Kecamatan Pontianak Timur
3. Kecamatan Pontianak Selatan
4. Kecamatan Pontianak Tenggara
5. Kecamatan Pontianak Kota
6. Kecamatan Pontianak Utara
Wako Edi Suarakan Aspirasi Kota se-Kalimantan di Forum Nasional
Rakernas XVIII APEKSI
MEDAN – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyuarakan aspirasi dan keresahan kota-kota di Kalimantan di forum Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) 2026. Menurutnya, suara daerah harus diperjuangkan secara kolektif agar mendapat perhatian serius di tingkat nasional.
“Ini bukan hanya suara satu kota, tetapi suara bersama kota-kota di Kalimantan yang menghadapi tekanan fiskal, beban pelayanan publik, dan tantangan pembangunan yang semakin kompleks,” ujarnya dalam rangkaian Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVIII APEKSI 2026 di Medan, Rabu (1/7/2026) malam.
Salah satu poin utama yang disuarakan adalah perlunya keadilan fiskal dalam alokasi Transfer Keuangan Daerah dalam APBN. Pemerintah pusat diminta mempertimbangkan kontribusi daerah, luas wilayah, tingkat kebutuhan pelayanan, serta karakteristik masing-masing kota dalam menentukan besaran transfer. Selama ini pemerintah kota dituntut meningkatkan pelayanan publik, namun tidak diimbangi dengan kapasitas fiskal yang memadai.
“Daerah terus diminta meningkatkan pelayanan, tetapi kemampuan fiskalnya terbatas. Karena itu, kebijakan transfer keuangan harus lebih adil dan berpihak pada kondisi riil daerah,” kata Edi yang juga selaku Ketua Komwil V APEKSI Regional Kalimantan ini.
Ia juga mendorong penguatan Dana Bagi Hasil, pemulihan fungsi Dana Alokasi Khusus fisik, serta evaluasi formula Dana Alokasi Umum agar lebih mencerminkan kondisi perkotaan. Termasuk indeks kemahalan konstruksi, tekanan urbanisasi, dan beban pelayanan.
Isu kesehatan juga menjadi perhatian, khususnya terkait pembiayaan Jaminan Kesehatan Nasional dan kebijakan Universal Health Coverage. Pemerintah pusat diminta meninjau ulang kebijakan yang berpotensi menambah beban fiskal daerah.
“Urusan kesehatan adalah kebutuhan dasar masyarakat. Tapi skema pembiayaannya harus adil, jangan sampai daerah semakin terbebani,” jelasnya.
Selain itu, kota-kota di Kalimantan juga meminta evaluasi terhadap kebijakan batas maksimal belanja pegawai sebesar 30 persen dari APBD yang direncanakan berlaku pada 2027. Kebijakan tersebut dinilai perlu mempertimbangkan kondisi riil daerah, termasuk struktur pegawai dan konsekuensi pengangkatan PPPK.
Dalam konteks pembangunan IKN, Edi menegaskan pentingnya pemerataan manfaat bagi seluruh kota di Kalimantan, tidak hanya wilayah penyangga langsung. Ia mendorong penguatan konektivitas, logistik, tenaga kerja, hingga sektor ekonomi agar kota-kota lain turut merasakan dampak positif pembangunan nasional tersebut.
“Kami ingin pembangunan IKN menjadi peluang bersama, bukan hanya untuk wilayah tertentu. Kota-kota di Kalimantan harus menjadi bagian dari ekosistemnya,” ungkapnya.
Untuk itu, Komwil V APEKSI mendorong percepatan pembangunan infrastruktur konektivitas, seperti peningkatan jalan Trans-Kalimantan, studi jalan tol, pembangunan jaringan kereta api, peningkatan rute penerbangan, serta perluasan jaringan telekomunikasi.
Selain infrastruktur, isu ketahanan energi juga disoroti. Pemerintah pusat diminta mengevaluasi kebijakan pengurangan kuota BBM di Kalimantan serta memastikan distribusi yang sesuai kebutuhan daerah.
Edi berharap, aspirasi kota se Kalimantan di forum APEKSI nasional dapat menjadi pintu masuk bagi pemerintah pusat untuk lebih memahami kondisi daerah dan merumuskan kebijakan yang lebih berpihak.
“Kami membawa harapan masyarakat Kalimantan. Keresahan ini harus sampai ke pusat, agar kebijakan nasional benar-benar menjawab kebutuhan daerah,” pungkasnya. (prokopim)