,
menampilkan: hasil
Satpol PP Sosialisasikan Pembatasan Jam Malam Anak di Pontianak Timur
PONTIANAK – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Pontianak bersama personil Kecamatan Pontianak Timur dan Babinsa menyosialisasikan Peraturan Wali Kota (Perwa) Pontianak Nomor 22 Tahun 2025 tentang Pembatasan Jam Malam Anak. Dalam kegiatan tersebut, petugas menjaring 47 anak yang masih berada di sejumlah titik aktivitas malam di wilayah Pontianak Timur, untuk selanjutnya didata dan diberikan pembinaan.
Kepala Satpol PP Kota Pontianak, Ahmad Sudiyantoro, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari implementasi Perwa sekaligus upaya memberikan perlindungan kepada anak dari potensi dampak negatif aktivitas pada malam hari. Ahmad menyebut, personilnya juga memasang poster imbauan terkait pembatasan jam malam anak yang berlaku mulai pukul 22.00 hingga 04.00 WIB.
"Sosialisasi dan pembinaan ini menyasar sejumlah lokasi seperti kafe, tempat bermain Play Station, serta titik-titik nongkrong di wilayah Kecamatan Pontianak Timur," ujarnya, Minggu (2/8/2026).
Menurut Ahmad, penerapan aturan tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak, terutama orang tua dan pengelola tempat usaha. Pengawasan bersama diperlukan agar anak-anak tidak melakukan aktivitas di luar rumah pada jam yang telah ditetapkan tanpa alasan yang diperbolehkan.
"Pembatasan jam malam ini merupakan bagian dari upaya memberikan perlindungan kepada anak. Karena itu, peran orang tua dan pengelola usaha sangat penting dalam memastikan aturan ini dapat berjalan dengan baik," jelasnya.
Ahmad menambahkan, kegiatan sosialisasi dan pembinaan akan terus dilakukan sebagai bagian dari implementasi Perwa Nomor 22 Tahun 2025. Pendekatan yang dilakukan tidak semata-mata penindakan, tetapi juga memberikan edukasi agar anak, orang tua, dan masyarakat memahami tujuan diberlakukannya pembatasan jam malam.
"Kami berharap sinergi bersama, termasuk orang tua dan masyarakat agar dapat terus diperkuat untuk menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak," tutupnya. (Sumber: Satpol PP Kota Pontianak)
Mobil Hias Tanjak Pontianak Curi Perhatian di Pawai MTQ ke-34 Kalbar
KAYONG UTARA – Kafilah Kota Pontianak menampilkan mobil hias berbentuk tanjak pada Pawai Pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-34 Tingkat Provinsi Kalimantan Barat di Bundaran Tugu Durian Kayong Utara, Minggu (2/8/2026) pagi. Mobil hias tersebut menjadi salah satu penanda identitas Kota Pontianak dalam pawai. Bentuk tanjak yang diangkat bukan sekadar ornamen budaya Melayu, tetapi memiliki makna filosofis tentang adab, tanggung jawab, dan komitmen dalam membaca serta mengamalkan Al-Qur’an.
Ketua LPTQ Kota Pontianak Amirullah mengatakan, tanjak dipilih karena melambangkan kehormatan, kebijaksanaan, dan keberanian dalam bersikap. Dalam konteks MTQ, lipatan demi lipatan tanjak dimaknai sebagai keteguhan untuk membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, serta menjadikannya pedoman dalam kehidupan.
“Mahkota tanjak ini membawa pesan tentang komitmen membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar, tanggung jawab kepada Allah SWT, kebijaksanaan dalam bertingkah laku, dan keberanian dalam bersikap,” ujar Amirullah yang juga Sekretaris Daerah Kota Pontianak ini.
Amirullah menjelaskan, keikutsertaan Kota Pontianak dalam pawai bukan hanya untuk memeriahkan pembukaan MTQ. Pawai menjadi ruang untuk memperkenalkan karakter daerah, memperkuat silaturahmi, serta menunjukkan semangat syiar Al-Qur’an.
Menurutnya, pawai ini penting bagi kafilah sebelum memasuki rangkaian perlombaan. Kegiatan ini menjadi momentum membangun kebersamaan, meneguhkan mental peserta, dan mempererat hubungan antarkafilah dari kabupaten/kota se-Kalimantan Barat.
“Ini ruang silaturahmi dan penyemangat bagi kafilah sebelum mengikuti perlombaan,” katanya.
Pesan utama yang dibawa Kota Pontianak dalam pawai tersebut adalah semangat menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber nilai dalam kehidupan masyarakat. Identitas budaya yang ditampilkan melalui tanjak dan ornamen khas Pontianak diharapkan dapat memperlihatkan bahwa syiar agama dan budaya daerah dapat berjalan beriringan.
Amirullah menambahkan, seluruh peserta kafilah Kota Pontianak diharapkan tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga menjaga akhlak, adab, dan nama baik daerah selama mengikuti MTQ ke-34 Kalbar.
“Harapan kami, peserta tampil maksimal, menjaga kesehatan, menjaga kekompakan, dan membawa nama baik Kota Pontianak. Prestasi penting, tetapi akhlak dan adab sebagai peserta MTQ juga harus dijaga,” ungkapnya.
Pada MTQ kali ini, Pontianak menurunkan 55 kafilah. Amirullah berharap keikutsertaan tersebut tidak hanya menghasilkan prestasi, tetapi juga memperkuat pembinaan generasi Qur’ani.
“Semoga kafilah Kota Pontianak diberi kelancaran, kesehatan, dan hasil terbaik. Yang paling utama, semoga MTQ ini semakin menguatkan kecintaan kita kepada Al-Qur’an,” pungkasnya. (prokopim)
MTQ Ruang Silaturahmi dan Penguatan Qur’an
Malam Taaruf MTQ ke-34 Kalbar
KAYONG UTARA – Sekretaris Daerah Kota Pontianak Amirullah mengajak seluruh kafilah Kota Pontianak menjadikan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-34 Tingkat Provinsi Kalimantan Barat di Kabupaten Kayong Utara sebagai ruang memperkuat silaturahmi, syiar Al-Qur’an, dan pembinaan generasi Qur’ani.
Hal itu disampaikan Amirullah yang juga menjabat Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Kota Pontianak dalam agenda Malam Taaruf MTQ ke-34 Kalbar di Kayong Utara, Sabtu (1/8/2026) malam.
Amirullah mengatakan, Malam Taaruf menjadi momentum penting sebelum seluruh peserta memasuki rangkaian perlombaan. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang perkenalan antarkafilah, tetapi juga memperkuat semangat kebersamaan antar kabupaten/kota se-Kalimantan Barat.
“MTQ bukan hanya tentang perlombaan, tetapi juga silaturahmi, memperkuat ukhuwah, dan meneguhkan kecintaan kita kepada Al-Qur’an,” ujarnya.
Ia menyebut, kafilah Kota Pontianak telah melalui proses pembinaan dan pemusatan latihan sebelum tampil pada MTQ tingkat provinsi. Karena itu, ia berharap seluruh peserta dapat menjaga kondisi, kekompakan, dan mental bertanding selama berada di Kayong Utara.
Amirullah berpesan agar para peserta tampil dengan kemampuan terbaik, namun tetap menjunjung tinggi akhlak, sportivitas, dan adab sebagai duta Kota Pontianak. Menurutnya, membawa nama daerah dalam ajang MTQ adalah amanah yang harus dijaga dengan sikap rendah hati dan penuh tanggung jawab.
“Kita ingin peserta tampil maksimal, tetapi yang tidak kalah penting adalah menjaga nama baik Kota Pontianak melalui sikap, tutur kata, dan akhlak selama mengikuti MTQ,” katanya.
Ia menambahkan, MTQ memiliki peran strategis dalam membumikan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat. Melalui cabang-cabang yang dilombakan, generasi muda didorong untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an. Keberhasilan MTQ pun tidak hanya diukur dari capaian juara. Lebih jauh, MTQ harus mampu melahirkan generasi yang mencintai Al-Qur’an dan menjadikan nilai-nilainya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
“Prestasi tentu kita harapkan, tetapi yang lebih utama adalah bagaimana Al-Qur’an hadir dalam perilaku, dalam keluarga, dan dalam kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Amirullah juga mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Kayong Utara sebagai tuan rumah MTQ ke-34 Kalbar. Ia menilai penyelenggaraan MTQ tingkat provinsi menjadi ruang mempererat hubungan antardaerah sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam pembinaan keagamaan.
Ia berharap seluruh kafilah Kota Pontianak dapat mengikuti rangkaian MTQ dengan tertib, sehat, dan penuh semangat. Dukungan pelatih, pendamping, official, serta doa masyarakat Kota Pontianak diharapkan menjadi kekuatan bagi para peserta.
“Mudah-mudahan kafilah Kota Pontianak diberikan kelancaran, kesehatan, dan hasil terbaik. Semoga ikhtiar ini menjadi bagian dari syiar Al-Qur’an dan membawa keberkahan bagi Kota Pontianak,” pungkasnya. (prokopim)
Inklusi Keuangan Harus Berdampak bagi Masyarakat
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menegaskan penguatan inklusi keuangan di Kota Pontianak harus memberi dampak langsung bagi masyarakat. Mulai dari pelajar yang dibiasakan menabung, UMKM yang terdorong naik kelas, hingga pekerja rentan yang mendapat perlindungan jaminan sosial.
Pemkot sendiri telah memiliki Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) yang menjadi wadah kolaborasi penting antara pemerintah, lembaga jasa keuangan, sekolah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat. TPAKD Kota Pontianak yang terbentuk sejak 2020 juga melibatkan perangkat daerah, instansi vertikal, perguruan tinggi, serta berbagai perhimpunan di kota ini. Pada tahun 2025, capaian program kerja TPAKD Kota Pontianak secara agregat mencapai 145,74 persen.
"Capaian tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor mampu mendorong perluasan akses keuangan secara lebih nyata dan terukur," ujarnya dalam asesmen TPAKD Award Tahun 2026 di Pontive Center, Jumat (31/7/2026) sore.
Salah satu program unggulan adalah Satu Rekening Satu Pelajar atau KEJAR. Jumlah rekening pelajar meningkat dari 107.121 rekening pada 2023 menjadi 167.210 rekening pada akhir 2025, dengan rata-rata kenaikan 25,99 persen. Nominal tabungan pelajar juga naik dari Rp20,18 miliar menjadi Rp31,74 miliar.
Edi menilai capaian tersebut penting karena membangun kebiasaan finansial sejak dini. Apalagi, persentase rekening dormant atau tidak aktif turun dari 27,56 persen pada 2023 menjadi 19,74 persen pada akhir 2025. Artinya, pelajar tidak hanya membuka rekening, tetapi mulai aktif menabung.
Pemkot Pontianak juga mengembangkan kampanye menabung melalui pendekatan kreatif, di antaranya Tabungan dari Barang Bekas atau TABUNGKU serta literasi melalui Tundang, yakni tradisi Melayu pantun dan gendang. Pendekatan ini membuat edukasi keuangan lebih dekat dengan budaya lokal sekaligus mendorong kepedulian lingkungan.
Di sisi lain, TPAKD Kota Pontianak memperkuat perlindungan bagi pekerja rentan dan informal melalui jaminan sosial ketenagakerjaan. Peserta aktif pekerja bukan penerima upah meningkat 69,13 persen dalam tiga tahun, dari 8.702 peserta pada 2023 menjadi 14.718 peserta pada akhir 2025.
"Pada 2025, sebanyak 6.489 peserta terlindungi melalui dukungan APBD," tambahnya.
Untuk UMKM, digitalisasi menjadi salah satu fokus utama. Pada 2025, jumlah merchant QRIS di Kota Pontianak mencapai 186.753 atau naik 12,89 persen secara tahunan. Dalam lima tahun terakhir, pertambahan merchant rata-rata mencapai 28.154 per tahun dengan rata-rata pertumbuhan 26,44 persen.
Pemkot Pontianak juga mengembangkan Elektronifikasi Pendapatan Online Terintegrasi atau e-Ponti untuk memudahkan pembayaran pajak dan retribusi daerah.
"Pada 2025, penerimaan melalui QRIS retribusi tercatat Rp493,33 juta dan turut mendorong pendapatan sektor retribusi sebesar Rp29,32 miliar," katanya.
Keberhasilan digitalisasi ini juga mengantarkan Pemkot Pontianak meraih empat penghargaan dari Bank Indonesia pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2025. Edi berharap TPAKD Kota Pontianak terus menjadi ruang kolaborasi untuk memperluas literasi, inklusi, dan akses keuangan.
“Tujuan akhirnya adalah masyarakat lebih berdaya. Pelajar cerdas finansial, UMKM naik kelas, pekerja rentan terlindungi, dan ekonomi kota semakin kuat,” pungkasnya. (prokopim)