,
menampilkan: hasil
SKM Online Resmi Diberlakukan, Setda Kota Pontianak Latih 104 Operator UPP
PONTIANAK – Bagian Organisasi Sekretariat Daerah (Setda) Kota Pontianak menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Survei Kepuasan Masyarakat (SKM) Online Tahun 2026. Kegiatan ini bertujuan menyosialisasikan penggunaan aplikasi SKM Online yang mulai tahun ini wajib diterapkan oleh seluruh Unit Pelayanan Publik (UPP) sesuai arahan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN RB).
Kepala Bagian (Kabag) Organisasi Setda Kota Pontianak, Margaretha, menjelaskan bahwa bimtek merupakan tindak lanjut dari surat edaran mengenai penerapan SKM Online yang kini menggantikan mekanisme survei konvensional.
"Tahun ini amanah dari KemenPAN RB, kita menggunakan SKM Online secara penuh. Hari ini akan kami sampaikan bagaimana penerapannya di masing-masing UPT maupun kelurahan," ujarnya usai memberi sambutan, di Aula Sultan Syarif Abdurrahman Lantai 3 Kantor Wali Kota, Selasa (21/7/2026).
Pada kesempatan yang sama, Margaretha menekankan pentingnya peran operator dalam memantau pelaksanaan survei. Berbeda dengan sistem sebelumnya, hasil penilaian pada SKM Online akan langsung terkirim ke sistem KemenPAN RB setelah diisi oleh responden sehingga tidak dapat lagi dikendalikan secara manual.
"Khusus SKM Online ini, kita tidak bisa mengontrol data yang sudah masuk. Karena itu operator di setiap UPP harus rutin melakukan pengecekan, kalau bisa setiap hari atau minimal setiap minggu," jelasnya.
Ia berharap capaian Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Kota Pontianak yang pada tahun sebelumnya mencapai nilai 93 dapat dipertahankan, bahkan ditingkatkan.
Bimtek menghadirkan dua narasumber, Hendri dan Anggi, yang memberikan materi mengenai penyusunan survei, pengelolaan data, penyusunan laporan, hingga penandatanganan laporan SKM.
Peserta juga mendapatkan penjelasan mengenai pembagian kewenangan akun, mulai dari akun operator instansi yang mengelola jenis layanan dan survei, hingga akun level 1 dan level 2 yang bertanggung jawab terhadap pelaporan di tingkat instansi maupun unit pelayanan.
Setelah sesi pemaparan materi, peserta mengikuti praktik langsung penggunaan aplikasi SKM Online, mulai dari proses masuk ke sistem, pengelolaan dashboard, pemantauan hasil survei, hingga penyusunan laporan.
“Sebagai tindak lanjut, kami akan melakukan pendampingan dan pemantauan ke setiap UPP agar mereka mampu mengoperasikan SKM Online secara optimal serta melaksanakan SKM sesuai ketentuan yang berlaku,” tutupnya. (kominfo)
Bantuan Perlengkapan Pemkot Dongkrak Penghasilan Nelayan
PONTIANAK - Romadon, perwakilan Kelompok Nelayan Cahaya Pelangi dari Kelurahan Banjar Serasan, Kecamatan Pontianak Timur, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Pontianak atas perhatian yang diberikan kepada nelayan. Kelompoknya jadi salah satu penerima bantuan genset dari pemerintah. Ia senang, dapat berdialog langsung dengan Wakil Wali Kota.
Tahun ini, sebanyak lima kelompok nelayan memperoleh bantuan mesin genset, tujuh kelompok mendapat bantuan alat tangkap, dan 151 keluarga nelayan diberi bantuan beras. Mereka tersebar di tiga kecamatan.
“Saya mewakili kawan-kawan dari kelompok nelayan Pontianak Timur, Kelurahan Banjar Serasan, mengucapkan banyak terima kasih. Kami senang dengan adanya bantuan ini,” ujar Romadon usai penyerahan di kampung nelayan Gg. H. Sanusi, Kelurahan Banjar Serasan, Pontianak Timur, Selasa (21/7/2026).
Ia mengaku senang bisa bertemu langsung dengan Wakil Wali Kota, Dinas terkait, camat, lurah, dan kelompok masyarakat lainnya. Menurutnya, kegiatan seperti ini penting karena menjadi ruang bagi nelayan untuk menyampaikan kondisi di lapangan. Salah satu kegembiraan lain yang ia bagikan adalah perihal BBM.
Saat ini nelayan sudah mulai mendapatkan BBM subsidi melalui rekomendasi pelabuhan. Hal itu sangat membantu karena biaya operasional terbesar nelayan adalah BBM. Sebelumnya, mereka membeli dengan Harga Rp15 ribu per liter.
“Alhamdulillah sekarang kami sudah dapat BBM subsidi dengan harga normal. Itu yang paling kami harapkan, karena biaya paling besar bagi kami adalah BBM,” ungkapnya.
Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan menyebut Pemerintah Kota Pontianak akan terus berupaya hadir dan memberi perhatian kepada nelayan kecil, terutama nelayan dengan kapal di bawah 10 gross tonnage atau GT. Salah satunya lewat bantuan yang diharapkan dapat meringankan beban nelayan dalam jangka pendek maupun mendukung aktivitas melaut.
“Untuk meringankan beban mereka, pemerintah kota memberikan bantuan genset, ada lima genset. Kemudian ada bantuan pangan berupa beras cadangan pangan kepada warga nelayan di tiga kecamatan,” jelasnya.
Bahasan menyebut, bantuan beras yang diberikan masing-masing sebanyak 10 kilogram. Meski bersifat jangka pendek, bantuan tersebut dinilai tetap berarti karena dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga nelayan. Ia menambahkan, bantuan jaring diberikan untuk mendukung nelayan yang menggunakan sampan bermesin. Bantuan tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan dengan baik untuk meningkatkan hasil tangkapan.
Meski demikian, Bahasan mengakui bantuan genset yang diberikan belum mencukupi seluruh kebutuhan nelayan. Misalnya kebutuhan genset yang idealnya diberikan ke masing-masing nelayan.
“Insya Allah pemerintah kota akan mengikhtiarkan agar nelayan itu semuanya bisa mendapatkan bantuan,” katanya.
Bahasan menegaskan, program bantuan kepada nelayan akan diupayakan menjadi agenda rutin. Menurutnya, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian dan kehadiran pemerintah untuk berterima kasih kepada nelayan yang telah berjuang memenuhi pasokan ikan. Kondisi mereka kini masih dalam proses menuju lebih sejahtera dan lebih mapan. Dengan adanya kemudahan BBM bersubsidi serta bantuan sarana pendukung, ia berharap beban nelayan dapat berkurang secara bertahap.
“Kalau saya lihat, ini masih menuju ke arah lebih sejahtera, lebih mapan. Untuk menuju ke sana, pemerintah harus hadir,” ujarnya.
Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak Irwan Prayitno mengatakan jumlah nelayan di Kota Pontianak memang tidak terlalu banyak dibandingkan daerah pesisir lainnya. Meski demikian, Pemkot Pontianak tetap memberikan perhatian kepada kelompok nelayan, terutama nelayan kecil yang masih aktif.
Pihaknya akan melakukan pendataan ulang terhadap kelompok nelayan yang masih aktif. Pendataan tersebut penting agar bantuan dan program pemerintah dapat lebih tepat sasaran sesuai kondisi di lapangan. Perhatian khusus akan diberikan kepada nelayan kecil yang masih menggunakan sampan bermesin untuk menangkap ikan di sekitar Sungai Kapuas. Ke depan, pemerintah akan mendorong peningkatan kapasitas mereka secara bertahap.
“Terutama kelompok nelayan kecil yang masih menggunakan sampan bermesin untuk melakukan penangkapan di sekitar Sungai Kapuas. Insya Allah nanti secara perlahan akan kita tingkatkan menuju kapal-kapal di bawah 10 GT,” ungkapnya.
Selain bantuan, dinasnya juga akan memperkuat pendampingan bagi nelayan. Pendampingan dilakukan melalui kerja sama dengan penyuluh perikanan yang ada di Kota Pontianak.
“Mulai Januari 2026, penyuluh perikanan di Kota Pontianak sudah diambil alih oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan. Nanti kita akan berkoordinasi dan meminta bantuan penyuluh untuk terus melakukan pendampingan terhadap nelayan, terutama nelayan tangkap,” pungkasnya. (prokopim)
Manfaatkan IGA untuk Perkuat Inovasi Pelayanan Publik
Sosialisasi IGA 2026 dan Penyerahan Apresiasi Inovasi Unggulan 2025
PONTIANAK – Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mendorong seluruh aparatur sipil negara di lingkungan Pemerintah Kota Pontianak memanfaatkan Innovative Government Award atau IGA sebagai momentum memperkuat inovasi pelayanan publik. IGA memberi ruang yang sama bagi seluruh perangkat daerah untuk menunjukkan gagasan, kerja keras, dan prestasi. Menurutnya, setiap ASN memiliki kesempatan untuk berkontribusi melalui inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Semua punya kesempatan. Manfaatkan ini untuk berkarier, untuk membuat prestasi. Jadi ASN ini tergantung dirinya masing-masing,” ujarnya dalam Sosialisasi Innovative Government Award (IGA) Tahun 2026 dan Penyerahan Apresiasi Inovasi Unggulan Tahun 2025 di Gedung Konferensi Universitas Tanjungpura, Selasa (21/7/2026).
Ia menekankan, penilaian inovasi berbasis data dan fakta lapangan. Setiap inovasi yang diajukan tidak cukup hanya bagus secara administrasi, tetapi harus benar-benar terbukti berjalan dan memberi manfaat bagi pelayanan publik.
“Semuanya pakai data. Data yang masuk harus dipastikan dengan fakta di lapangan,” katanya.
Bahasan berharap sosialisasi IGA dapat membangun optimisme dan semangat baru bagi ASN. Apalagi, masyarakat saat ini semakin kritis dan mudah menyampaikan laporan maupun keluhan melalui berbagai kanal, termasuk media sosial dan pesan langsung kepada pemerintah.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pemerintah harus semakin responsif. Setiap laporan warga perlu dicek langsung agar persoalan dapat dipahami secara utuh dan ditindaklanjuti dengan solusi yang tepat.
“Kalau ada laporan, cek ke lapangan langsung. Kita harus hadir kepada masyarakat dan memberikan solusi,” jelasnya.
Bahasan menyebut, pelayanan publik yang baik harus berangkat dari prinsip mempermudah masyarakat. Ia mengingatkan ASN agar tidak membuat urusan warga menjadi rumit jika sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara yang lebih sederhana.
“Saya selalu menekankan pelayanan publik yang terbaik, kalau bisa dipermudah, kenapa harus dipersulit,” tegasnya.
Ia mencontohkan sejumlah persoalan yang kerap menjadi perhatian masyarakat, mulai dari jalan lingkungan, penerangan jalan umum, hingga layanan dasar lainnya. Menurutnya, hal-hal tersebut harus ditangani secara cepat karena langsung dirasakan warga.
Bahasan mengatakan, masyarakat membayar kewajiban seperti retribusi penerangan jalan umum. Karena itu, ketika masih ada ruas jalan yang gelap, pemerintah harus segera mencari solusi agar pelayanan sesuai dengan harapan masyarakat.
Ia menambahkan, ASN harus memiliki pola pikir untuk menyejahterakan masyarakat. Makna menyejahterakan, menurutnya, bukan selalu memberikan bantuan uang, melainkan menghadirkan pelayanan, menyelesaikan persoalan, dan menjalankan program yang dibutuhkan warga.
“Sebagai ASN, kita harus punya mindset bagaimana menyejahterakan masyarakat. Artinya hadir memberikan solusi dengan program-program yang ada di setiap perangkat daerah,” katanya.
Bahasan juga menyinggung pentingnya komitmen integritas dalam pelayanan, termasuk dalam sistem penerimaan murid baru. Ia menegaskan praktik titip-menitip harus dihindari agar pelayanan berjalan adil, transparan, dan tidak menimbulkan tekanan bagi pemerintah maupun sekolah.
“Komitmen semua, tidak ada yang namanya titip-menitip. Kalau tidak ada titip-menitip, semuanya aman,” ujarnya.
Ia menyebut, tantangan pelayanan pendidikan harus dijawab dengan solusi yang lebih sistematis, seperti memperbaiki sistem, mendeteksi wilayah yang membutuhkan layanan, serta membangun atau memperkuat fasilitas sekolah di kawasan yang masih kekurangan.
Bahasan berharap inovasi-inovasi unggulan yang mendapat apresiasi tidak berhenti sebagai penghargaan semata. Inovasi tersebut harus menjadi kebiasaan kerja dan menginspirasi perangkat daerah lain untuk terus melakukan perbaikan.
“Jadikan ini kebiasaan. Kita bergerak bersama-sama, karena kita punya kemampuan dan kapasitas. Tinggal kemauan dan keyakinan kita,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, turut diserahkan sertifikat Penghargaan Inovasi Unggulan Kota Pontianak Tahun 2025 yang merupakan bentuk apresiasi Pemerintah Kota Pontianak kepada 73 inovasi unggulan kota dalam pengukuran Indeks Inovasi Kota Pontianak tahun 2025 yang dilakukan Kementerian Dalam Negeri.
Penyerahan secara simbolis diberikan kepada inovasi dalam sejumlah kategori, antara lain:
Kategori Perangkat Daerah/BUMD dengan skor kematangan inovasi tertinggi:
1. Inovasi Baca Meter Mandiri dari Perumda Air Minum Tirta Khatulistiwa dengan skor kematangan 102;
2. Inovasi PERPUSG2S (Perpus Goes to School) dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak dengan skor kematangan 99;
3. Inovasi D'Master (Data Masyarakat Miskin Terintegrasi) dari Dinas Sosial Kota Pontianak dengan skor kematangan 98.
4. Inovasi NGIDAM BERAS SECANTING (Kunjungi, Dampingi, Beri Edukasi Pencegahan Stunting) dari Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak Kota Pontianak dengan skor kematangan 98.
5. ELEKTRONIFIKASI PAJAK ONLINE TERINTEGRASI (E-PONTI) dari Badan Pendapatan Daerah Kota Pontianak dengan skor kematangan 97.
Kategori UPT/Kelurahan dengan skor kematangan inovasi tertinggi:
1. Inovasi BINTANG INKUSI (Bimtek dan Penguatan Guru Sekolah Inklusi dari UPT Layanan Disabilitas dan Assesmen Center (LDAC) Kota Pontianak dengan skor kematangan 96;
2. Inovasi Layanan Pengaduan Permasalahan Pertanahan Kelurahan Bansir Darat dari Kelurahan Bansir Darat dengan skor kematangan 94;
3. Inovasi MAKELAR (Metode Asuhan Keperawatan dari UPT RSUD Sultan Syarif Mohammad Alkadrie Kota Pontianak dengan skor kematangan 93.
4. Inovasi GEMA BUBA TAHU (Gerakan Makan Telur Rebus Untuk Ibu Hamil Dan Balita Stunting Tanjung Hulu) dari UPT Puskesmas Tanjung Hulu dengan skor kematangan 92.
5. Inovasi CERIA (Cerdik Cegah Penyakit Tidak Menular dengan Skrining oleh Kader Kesehatan) dari UPT Puskesmas Telaga Biru dengan skor kematangan 91.
Kategori sertifikat Apresiasi Khusus:
1. Inovasi Digitalisasi Hutan Sekolah dari SMP Negeri 29 Pontianak sebagai penerima apresiasi Satuan Pendidikan;
2. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Pontianak sebagai perangkat daerah/BUMD yang mengirimkan lebih dari satu inovasi;
3. Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Pelindungan Anak (DP2KBP3A) Kota Pontianak sebagai perangkat daerah/BUMD dengan 1 (satu) inovator yang berhasil mengirimkan lebih dari satu inovasi.
4. UPT RSUD Sultan Syarif Mohammad Alkadrie Kota Pontianak sebagai UPT/Kelurahan yang berhasil mengirimkan lebih dari satu inovasi. (prokopim)
Tumpah Ruah Warga Nonton Spanyol Juara Piala Dunia 2026
PONTIANAK – Ribuan warga tumpah ruah memadati Jalan Rahadi Oesman, tepat di depan Kantor Wali Kota Pontianak, untuk menyaksikan nonton bareng final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina, Senin (20/7/2026) dini hari. Suasana semakin meriah setelah Ferran Torres mencetak gol pada babak tambahan, dan peluit akhir memastikan Spanyol keluar sebagai juara dunia.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menilai laga final tersebut menjadi salah satu pertandingan terbaik. Menurutnya, pertandingan berlangsung sengit, menegangkan, dan menyajikan kualitas permainan tinggi hingga menit-menit akhir.
“Final Piala Dunia tahun 2026 ini menurut saya partai final yang terbaik. Sampai menit terakhir, sampai perpanjangan waktu, masih menegangkan,” ujarnya usai laga.
Edi yang mendukung Spanyol mengaku puas dengan jalannya pertandingan. Ia menilai Spanyol tampil dengan permainan yang aktif, sportif, dan tidak kasar.
Selain jalannya pertandingan, Edi juga mengapresiasi antusiasme warga Pontianak yang hadir dalam nonton bareng tersebut. Ia menyebut ribuan masyarakat memadati kawasan depan Kantor Wali Kota Pontianak untuk menyaksikan laga final bersama-sama.
“Antusiasme masyarakat Kota Pontianak luar biasa. Ribuan masyarakat yang nonton pada malam hari ini,” ungkapnya.
Menurut Edi, nonton bareng bukan hanya soal menyaksikan pertandingan sepak bola, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi warga. Meski kejuaraan berlangsung jauh di Amerika, masyarakat Pontianak tetap menunjukkan kecintaan yang besar terhadap sepak bola dunia.
“Walaupun kejuaraan ini jauh di Amerika, di Indonesia, khususnya Kota Pontianak, banyak penggemar sepak bola yang menantikan pertandingan ini,” jelasnya.
Ia melihat penonton yang hadir didominasi anak-anak muda. Hal itu, menurutnya, menunjukkan sepak bola masih menjadi olahraga yang digemari lintas generasi, terutama karena banyak pemain idola yang tampil dalam ajang bergengsi tersebut.
“Kalau kita lihat di tempat-tempat nonton bareng, memang didominasi anak-anak muda. Mereka punya idola-idola yang bermain,” katanya.
Salah seorang warga Sungai Jawi, Wandi, mengaku sengaja datang lebih awal untuk mendapatkan tempat menonton yang nyaman. Ia menyebut suasana nonton bareng final Piala Dunia terasa jauh lebih seru dibanding menyaksikan pertandingan di rumah.
“Kalau nonton ramai-ramai begini rasanya beda. Semua ikut tegang, ikut teriak, dan ikut senang waktu Spanyol juara,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Reza, warga Pontianak Utara. Menurutnya, nonton bareng di ruang terbuka menjadi hiburan yang positif bagi masyarakat, sekaligus mempertemukan warga dari berbagai kawasan di Pontianak.
“Ini nonton sama teman-teman kuliah dulu. Jadi silaturahmi juga. Apalagi finalnya seru sampai akhir,” katanya. (prokopim)