,
menampilkan: hasil
Kolaborasi Kunci Entaskan Stunting
Bahasan Minta OPD Hilangkan Ego Sektoral Dalam Penanganan Stunting
PONTIANAK - Persoalan stunting terus menjadi perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak. Data terakhir menunjukan, stunting di Kota Pontianak berada di angka 19,7 persen. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2021 yang berada di angka 24,4 persen. Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan menyampaikan, saat ini jajarannya sedang bergerak di lapangan untuk mengintervensi balita pengidap stunting. Pihaknya tengah memprioritaskan intervensi gizi spesifik dan gizi sensitif pada seribu hari pertama kehidupan.
"Intervensi gizi spesifik adalah intervensi yang berhubungan dengan peningkatan gizi dan kesehatan, sementara intervensi gizi sensitif adalah intervensi pendukung seperti penyediaan air bersih dan sanitasi," terangnya usai membuka secara resmi Rapat Koordinasi Percepatan Penurunan Stunting di Kota Pontianak Tahun 2023, di Hotel Mercure, Selasa (20/6/2023).
Bahasan menekankan, persoalan stunting pada balita menandakan masih terdapat masalah dalam manajemen penyelenggaraan pelayanan dasar. Pelayanan untuk mencegah dan menurunkan prevalensi stunting belum tersedia dalam skala dan kualitas yang memadai hingga belum menyentuh secara lengkap kelompok prioritas.
Melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 72 Tahun 2021 tentang Percepatan Penurunan Stunting kemudian memperkuat payung hukum strategis nasional. Dengan demikian kerangka intervensi perangkat daerah yang bertanggung jawab turut diperkuat. Perpres itu mengukuhkan lima pilar utama percepatan penurunan stunting. Kelimanya adalah komitmen politik dan kepemimpinan nasional dan daerah, kampanye nasional dan komunikasi perubahan perilaku, konvergensi program pusat, daerah dan masyarakat, ketahanan pangan dan gizi serta, monitoring dan evaluasi.
"Masalah stunting balita harus segera kita atasi demi terwujudnya visi Kota Pontianak dan perwujudan arahan Presiden. Semua sudah tertuang dalam RPJMN 2020-2024. Targetnya di tahun 2024, angka stunting nasional turun menjadi 14 persen. Pontianak juga harus demikian, kalau bisa kita tekan sampai zero stunting," tegasnya.
Untuk mencapai cita-cita itu, seluruh pihak harus berkolaborasi mulai dari pemerintah daerah, TP-PKK, Dharma Wanita, dinas terkait, kecamatan dan kelurahan hingga kelompok masyarakat di akar rumput. Bahasan mengajak berbagai lapisan masyarakat untuk bahu-membahu mengentaskan stunting di Kota Pontianak.
"Konvergensi adalah kata yang mudah diucapkan tetapi sulit diwujudkan. Untuk mewujudkannya diperlukan upaya keras dari kita semua, setiap OPD yang terlibat saya minta menghilangkan ego sektoral. Karena konvergensi membutuhkan kerja kolaborasi. Sebagai contoh penanganan stunting yang baik yaitu Kecamatan Pontianak Timur," tutupnya. (prokopim/kominfo)
Wako Minta Dinas Terkait Proaktif Cek Kesehatan Hewan Kurban
PONTIANAK - Menjelang Hari Raya Iduladha 1444 Hijriyah atau Hari Raya Kurban, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menginstruksikan Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan Kota Pontianak proaktif melakukan pengecekan dan pengawasan terhadap hewan-hewan kurban, baik yang berasal dari peternakan yang ada di Pontianak dan sekitarnya maupun yang didatangkan dari luar pulau.
"Tujuannya untuk memastikan kesehatan hewan-hewan kurban tersebut sehingga layak untuk dikonsumsi," ujarnya, Selasa (20/6/2023).
Edi bilang, kesehatan hewan kurban merupakan aspek yang sangat penting dalam pelaksanaan ibadah kurban. Seperti diketahui, kurban adalah salah satu ritual penting dalam agama Islam yang dilakukan pada Hari Raya Iduladha.
"Dalam menjalankan ibadah kurban, kita perlu memahami dan mengutamakan kesehatan hewan yang akan dikurbankan," ungkapnya.
Menurutnya, hewan kurban yang sehat merupakan jaminan kesehatan bagi masyarakat yang mengkonsumsi daging kurban. Apabila hewan kurban menderita suatu penyakit, maka dapat menyebabkan penyebaran penyakit kepada manusia melalui konsumsi daging yang tidak layak.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam berkurban, yakni memastikan hewan kurban sehat, konsultasikan dengan dokter hewan atau petugas kesehatan hewan setempat untuk memastikan kesehatan hewan kurban sebelum dan setelah pemotongan. Kondisi kandang hewan ternak juga harus terjaga kebersihannya.
"Tak kalah pentingnya adalah pastikan penyembelihan dilakukan dengan benar sesuai syariat Islam," tutur Edi.
Hampir sebagian besar hewan kurban terutama sapi banyak yang didatangkan dari luar pulau Kalimantan. Meski terjadi kenaikan harga hewan kurban lantaran meningkatnya kebutuhan pasokan jelang Iduladha, namun Edi menilai harga masih terbilang stabil.
"Sepanjang stok hewan kurban mencukupi, harga masih terbilang stabil," imbuhnya. (prokopim)
Poltekkes Pontianak Berperan Dongkrak Kualitas Kesehatan Masyarakat
Wako Edi Hadiri Dies Natalis ke-22 Poltekkes Kemenkes Pontianak
PONTIANAK - Kualitas kesehatan masyarakat menjadi hal penting dalam pembangunan manusia. Keberadaan Poltekkes Kemenkes di Kota Pontianak telah banyak memberikan sumbangsih pada penyediaan sumber daya manusia (SDM) dalam pelayanan kesehatan.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, Poltekkes Kemenkes Pontianak sangat berperan dan membantu dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Alumni-alumni Poltekkes yang tersebar di Provinsi Kalbar, khususnya di Kota Pontianak sudah banyak memberikan andil yang signifikan bagi pelayanan kesehatan.
"Semoga Poltekkes Kemenkes Pontianak bisa menghasilkan lulusan-lulusan terbaik dalam bidang pelayanan kesehatan sehingga memberikan kontribusi bagi kualitas kesehatan masyarakat," ujarnya usai melepas peserta Jalan Sehat dalam rangka Dies Natalis ke-22 Poltekkes Kemenkes Pontianak di halaman Poltekkes, Jumat (16/6/2023).
Ia berharap, Dies Natalis ke-22 Poltekkes Kemenkes Pontianak ini menjadi momentum untuk terus berinovasi dan berkreativitas seiring dengan kian meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Apalagi di tengah bermunculannya jenis-jenis penyakit baru sehingga memerlukan penanganan khusus. Sebagaimana kejadian yang pernah dialami pada masa pandemi Covid-19 di tahun 2020-2021 lalu, hampir seluruh dunia dihadapkan pada permasalahan kesehatan.
"Saya yakin kita semua merasa ketidaknyamanan dengan kondisi itu, dan kita sekarang patut bersyukur bisa melewati musibah yang menimpa kita semua," ucap Edi.
Berkaitan dengan SDM, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kota Pontianak di angka 80,48 persen. Angka ini masuk kategori sangat tinggi jika dibandingkan angka rerata IPM nasional maupun provinsi.
"Kita masih terus berusaha mendongkrak IPM ini sebagai tolok ukur pembangunan masyarakat," katanya.
Sementara itu, Edi bilang, usia harapan hidup di Kota Pontianak hingga kini mencapai rerata 73,2 tahun. Dirinya menyebut capaian itu sedikit banyak tidak terlepas dari kontribusi dari para lulusan Poltekkes dalam mendongkrak Indeks Kesehatan Masyarakat di Kota Pontianak.
"Itu semua tantangan bagi kita semua bagaimana masyarakat Kota Pontianak bisa lebih sehat, terutama pencegahan terhadap penyakit. Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) harus kita galakkan, lebih baik mencegah dari pada mengobati," tutupnya. (prokopim)
Optimis Turunkan Stunting Lewat Gerakan Makanan Bergizi Selama 90 hari
Terobosan Puskesmas Tanjung Hulu Bersama Kader Posyandu
PONTIANAK - Puskesmas Tanjung Hulu Kecamatan Pontianak Timur menjadi percontohan dalam penanganan stunting. Lewat gerakan pemberian makanan bergizi oleh kader posyandu kepada anak-anak terindikasi stunting selama 90 hari, menjadi sebuah inovasi yang dilakukan Puskesmas Tanjung Hulu. Berawal dari gerakan pembagian telur oleh Puskesmas Tanjung Hulu di Kecamatan Pontianak Timur sejak dua tahun lalu, kini mereka kembali melakukan terobosan dengan memberikan menu makanan bergizi bervariasi pada anak terpapar stunting setiap hari.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono berharap gerakan tersebut bisa lebih besar dengan menyentuh di seluruh kelurahan. Dengan inovasi yang dilakukan Puskesmas Tanjung Hulu ini, harapannya agar bisa ditiru puskesmas-puskesmas dan posyandu lainnya.
"Kalau gerakan ini dilakukan secara masif, saya yakin angka stunting di Kota Pontianak bisa turun secara drastis," ujarnya, Rabu (31/5/2023).
Alokasi anggaran bersumber dari hasil kegiatan Ngamen Amal Peduli Stunting yang dilakukan belum lama ini oleh teman-teman musisi. Hasilnya didapat Rp 4,5 juta. Dari angka itu sudah dihitung dan bisa menangani delapan anak terpapar stunting. Penangananya diberikan makanan bergizi setiap hari selama 90 hari. Harapan dia, dengan pemberian makanan bergizi setiap hari oleh para kader posyandu di Puskesmas Tanjung Hulu, akan terdapat perbaikan gizi.
"Dengan begitu harapannya para anak ini bisa terbebas dari stunting," kata Edi.
Dia berkeinginan gerakan pemberian makanan selama tiga bulan ini skalanya diperluas. Setiap puskesmas di tiap kelurahan bisa melakukan hal yang sama. Kuncinya di sini adalah pergerakan para kader posyandu.
"Jika kader-kader posyandu mau bergerak memberi makanan bergizi setiap hari pada penderita stunting selama tiga bulan, saya optimis angka stunting yang kini berada di 19,7 persen bisa turun di 10 persen," tuturnya.
Soal anggaran penanganan stunting, pandangan dia banyak masyarakat mau terlibat. Contoh kecil gerakan dari bawah yang dilakukan teman-teman musisi ini. Suara dari akar. Jika gerakan kecil ini kembali dilakukan dengan skala lebih besar, pastinya akan banyak anggaran yang didapat buat penanganan stunting.
Artinya masyarakat mau terlibat dalam misi kemanusian ini. Jika metodenya sudah tepat. Semuanya bisa satu visi dan misi menurunkan stunting. Ia pun optimis dengan gerakan berkelanjutan dan terpantau ini dapat menurunkan angka stunting di Kota Pontianak. Bukan tidak mungkin, gerakan yang dilakukan oleh Puskesmas Tanjung Hulu ini juga bisa menjadi percontohan. Baik di tingkat kabupaten/kota dan Provinsi. Bukan tidak mungkin juga, gerakan terobosan ini dicontoh di skala nasional. (prokopim)