,
menampilkan: hasil
Pemkot Kebut Target Penurunan Stunting
PONTIANAK – Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak terus melakukan pembaharuan terhadap status stunting. Di tahun 2023, terjadi penurunan angka stunting di Kota Pontianak. Berbagai upaya masih dilaksanakan, mulai dari pendataan secara masif maupun intervensi gizi bayi.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kota Pontianak, Multi Juto Bhatarendro mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bahu-membahu menurunkan angka stunting.
“Target kita di tahun depan, stunting turun menjadi 14 persen, sesuai target nasional lewat RPJMN 2020-2024. Untuk mencapainya diperlukan kerjasama seluruh elemen,” ungkapnya usai Rapat Koordinasi (Rakor) Monitoring dan Evaluasi (Monev) Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kota Pontianak di Hotel Harris Jalan Gajah Mada, Rabu (6/12/2023).
Mulai dari kecamatan, kelurahan dan puskesmas yang tergabung dalam TPPS Kota Pontianak senantiasa turun melakukan monitoring terhadap perkembangan balita. Bukan hanya itu, pendidikan terhadap calon pengantin (catin) pun dilakukan. Multi menerangkan, berbagai inovasi masyarakat bermunculan seiring dengan upaya lintas sektor.
“Setiap tahun targetnya harus turun lima persen. Di tahun ini, berkat kerjasama lintas sektoral mulai dari TNI, Polri, swasta, perguruan tinggi sampai media massa, angka stunting terjadi penurunan,” katanya.
Koordinator Bidang Pelayanan Intervensi Spesifik dan Sensitif TPPS Kota Pontianak, Saptiko menerangkan, upaya prioritas kedepan adalah penimbangan dan imunisasi dasar lengkap pada balita. Intervensi spesifik kepada sasaran prioritas. Ia memaparkan, terdapat 13 intervensi spesifik yang sedang berjalan.
“OPD terkait seperti Dinas Sosial, DP2KBP3A, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) dan Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan (DPPP) mengampu kerja sesuai fungsi,” terangnya, yang juga selaku Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak.
Saptiko menambahkan, keluarga yang berisiko stunting akan mendapat pendampingan secara serius. Pemkot Pontianak juga akan melakukan pengawasan terhadap air dan sanitasi di lingkungan masyarakat Kota Pontianak yang teridentifikasi stunting.
“Keluarga berisiko stunting juga akan memperoleh bantuan seperti konsumsi ikan,” tutupnya. (kominfo)
Peran Komunitas Masyarakat Penting Tekan Angka HIV
Peran Komunitas Masyarakat Penting Tekan Angka HIV
PONTIANAK – Hari AIDS Sedunia di Kota Pontianak diperingati dengan karnaval yang diikuti masyarakat serta komunitas peduli HIV/AIDS di Kota Pontianak. Berbagai rangkaian acara digelar oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Pontianak seperti lomba video reels, seminar anti stigma, jalan sehat sampai tes HIV/AIDS. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pontianak Saptiko menjelaskan, pelayanan prioritas selalu diberikan kepada warga yang mengidap virus HIV/AIDS seperti pengobatan BPJS.
“Dukungan selalu kita berikan, baik terhadap penderita maupun keluarganya,” katanya usai membuka Peringatan Hari AIDS Sedunia Kota Pontianak, di halaman Kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pontianak Jalan Ahmad Yani, Minggu (3/12/2023).
Menurut Saptiko, cara paling tepat untuk menurunkan angka tertular virus HIV/AIDS adalah dengan penyuluhan berkala kepada masyarakat. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk saling mengingatkan orang-orang terdekat. Kemudian langkah lainnya yang tidak kalah penting adalah skrining atau pemeriksaan. Khususnya untuk ibu hamil, apabila tidak ingin anak yang lahir tertular virus, segera diminta diperiksakan untuk mendapat penanganan.
“Periksa apakah ada virus itu dalam tubuh kita. Itu lebih bagus. Kalau negatif, kita fokus pencegahan. Kalau positif, itu bisa ditangani, dengan tidak menularkan dan kita bisa hidup seperti biasa,” imbuhnya.
Saptiko menuturkan, berbeda dengan penanganan pada tahun 2001 saat awal mula program pemberantasan HIV/AIDS dimulai, kini program-program penanganan HIV/AIDS sudah lebih mutakhir. Bahkan ia menjelaskan, beberapa kasus individu yang tertular dapat menikah dan memiliki anak tanpa menularkan virus.
“Semua itu sudah ada programnya. Kini sudah canggih dan lengkap, tetapi perlu minum obat seumur hidup,” ungkapnya.
Bentuk dukungan kepada warga tertular HIV/AIDS pun kini dinilai Saptiko sudah sangat baik. Tidak ada diskriminasi dan tindakan yang dilakukan berdasarkan rasa takut berlebihan kepada pengidap.
“Dulu itu kasur tempat pengidap HIV/AIDS setelah digunakan langsung dibakar. Itu diskriminasi, tapi sekarang tidak. Itu membuktikan dukungan kita semakin kuat kepada pengidap,” paparnya. (kominfo/prokopim)
Posyandu Terima Bantuan 96 Alat Permainan Edukatif
Dukung Tumbuh Kembang Anak Cegah Stunting
PONTIANAK – Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak menyerahkan sejumlah 96 Alat Permainan Edukatif (APE) secara simbolis untuk kemudian disebar ke seluruh kecamatan se-Kota Pontianak. Penyerahan dilakukan oleh Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan kepada lima petugas posyandu perwakilan dari masing-masing kecamatan. Kelima petugas itu adalah Maya dari Kecamatan Pontianak Kota, Ruslawati dari Kecamatan Pontianak Selatan, Nur Aini dari Kecamatan Pontianak Tenggara, Leili dari Kecamatan Pontianak Barat dan Agustinah dari Kecamatan Pontianak Timur.
“Di Pontianak Kota ada enam, Pontianak Selatan ada 15, Pontianak Tenggara 16, Pontianak Barat 31 dan Pontianak Timur ada 28,” tutur Bahasan usai penyerahan secara simbolis, di Aula Sultan Syarif Abdurrahman (SSA) Kantor Wali Kota, Rabu (29/11/2023).
APE adalah alat permainan yang dapat merangsang kreativitas balita, sehingga mengoptimalkan perkembangan otaknya. Adapun beberapa jenis APE seperti puzzle, balok, kartu sampai boneka jari. Bahasan berharap dengan penyerahan ini, seluruh balita di Pontianak memiliki tumbuh kembang otak yang maksimal.
“Yang akhirnya akan memacu nafsu makan, diiringi dengan konsumsi nutrisi dan gizi yang tepat, semoga terhindar dari stunting. Ini juga upaya kita untuk menurunkan angka stunting,” paparnya.
Keberadaan Posyandu di setiap titik kelurahan sangat penting dalam upaya menekan angka stunting. Bahasan ingin, sarana dan prasarana Posyandu harus memadai dan tepat guna. Ia menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada kader Posyandu yang telah turut serta berjibaku membantu Pemkot Pontianak menurunkan angka stunting.
“Semoga APE membantu stimulasi tumbuh kembang bayi dan balita,” tutupnya. (kominfo/prokopim)
Lintas Sektoral Komitmen Entaskan TBC di Kota Pontianak
PONTIANAK - Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pontianak terus berupaya menekan angka pengidap penyakit Tuberkulosis atau TBC di Kota Pontianak. Hal itu dibuktikan dengan penjaringan kerja sama layanan Rumah Sakit (RS) swasta, klinik dan Dokter Praktek Mandiri (DPM) yang ada di Kota Pontianak. Selain itu juga dengan membuka Layanan TBC RO (Resisten Obat) di Rumah Sakit Sultan Syarif Mohamad dan diterbitkannya Peraturan Wali Kota Nomor 56 tentang Penanggulangan Tuberkulosis.
Kepala Dinkes Kota Pontianak Saptiko menjelaskan, kini juga sudah tersedia alat Tes Cepat Molekuler (TCM) sebanyak tujuh unit yang tersebar di lima puskesmas, mulai dari Siantan Tengah, Saigon, Gang Sehat, Alianyang sampai Perumnas 1 serta di dua RSUD yaitu di RSUD Dr Soedarso dan RSUD Sultan Syarif Mohamad Alkadrie.
“Serta memaksimalkan kolaborasi dengan komunitas terutama dalam hal investigasi kontak dan penyuluhan edukasi di lapangan yang banyak dilakukan oleh kader komunitas yang ditugaskan di 23 puskesmas Kota Pontianak,” paparnya saat Konferensi Pers Upaya Kolaborasi Penanggulangan Tuberkulosis Kota Pontianak, di Hotel Harris Jalan Gajah Mada, Rabu (22/11/2023).
Berdasarkan sebaran kasus yang tercatat Dinkes Kota Pontianak, kecamatan tertinggi yang ditemukan pengidap TBC adalah Kecamatan Pontianak Barat, disusul oleh Kecamatan Pontianak Utara dan posisi ketiga diisi oleh Kecamatan Pontianak Timur. Saptiko menyebut, pihaknya menyiapkan enam strategi yang menjadi prioritas untuk mendorong Sistem Pelayanan Minimal (SPM) di Kota Pontianak.
“Pertama Pembentukan Tim Percepatan Tuberkulosis, kedua memperkuat mekanisme koordinasi dan kolaborasi penanggulangan TBC antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Pemangku Kepentingan dan Mitra. Ketiga, pelibatan otoritas setempat dalam optimalisasi penemuan terduga TBC dengan kolaborasi faskes dan komunitas, serta masyarakat. Keempat, pembentukan Tim Penyuluh TBC. Kelima, pengembangan Kampanye TBC terintegrasi dengan kolaborasi lintas sektor hingga pelibatan CSR dalam penanggulangan TBC,” jelasnya.
Sebelumnya, Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TPPT) juga telah dibentuk untuk menekan angka penyebaran TBC dengan optimalisasi penyelenggaraan SPM. Saptiko menambahkan, setiap daerah memiliki target SPM untuk pelayanan tuberkulosis yang harus dicapai sebesar seratus persen, tidak terkecuali Kota Pontianak. Berdasarkan capaian, Kota Pontianak di tahun 2023 telah mencapai 8.656 terduga untuk SPM TBC. Menurutnya, secara angka memang sudah cukup baik, tetapi berdasarkan target masih perlu ditingkatkan.
“Selain itu, Komunitas juga turut berkolaborasi bersama Dinas Sosial Kota Pontianak dengan pelibatan CSR untuk mendata pasien TBC yang kurang mampu secara ekonomi agar mendapatkan bantuan sosial,” tukasnya.
TBC merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian di dunia. Menurut WHO dalam Global TB Report (GTR) tahun 2022, Indonesia berada di peringkat kedua di dunia dengan kasus TBC terbanyak. Diperkirakan estimasi insidensi tahun 2022 sebesar 969.000 kasus atau 367 per 100.000 penduduk. Kematian karena TBC diperkirakan sebesar 107.000 atau 40 per 100.000 penduduk dan kematian akibat TB-HIV sebesar 9.400 atau 4 per 100.000 penduduk. Dengan estimasi insiden sebesar 969.000 kasus tahun 2022 dan notifikasi kasus TBC sebesar 443.235 kasus maka masih ada sekitar 55 persen kasus masih belum ditemukan dan diobati (un-reach) atau sudah ditemukan dan diobati tetapi belum tercatat oleh program (detected, un-notified). Kondisi ini membuat negara Indonesia masih berjuang dalam menuju eliminasi TBC 2030. (kominfo)