,
menampilkan: hasil
Dorong Budaya Jadi Penggerak Ekonomi Kreatif
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mendorong kekayaan budaya kota menjadi penggerak ekonomi kreatif. Terlebih di bulan Mei ini, sejumlah event kebudayaan berlangsung di Pontianak. Salah satunya Festival Oriental Khatulistiwa 2026 yang digelar di Pontianak Convention Center (PCC) 21-24 Mei 2026.
“Masih banyak kegiatan yang menjadi agenda wisata dan ekonomi kreatif yang bisa meningkatkan Kota Pontianak sebagai kota budaya,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026) malam.
Festival Oriental Khatulistiwa 2026 tersebut turut dirangkai dengan kontes arwana yang menampilkan salah satu ikon kebanggaan Kalimantan Barat. Ia mengatakan semua itu tidak hanya menjadi agenda hiburan dan budaya, tetapi juga ruang kolaborasi untuk menggerakkan ekonomi kreatif, memperkuat kerukunan, serta membuka peluang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Menurutnya, Kota Pontianak merupakan kota yang terbuka bagi seluruh masyarakat Indonesia dengan keberagaman suku, budaya, dan tradisi. Karena itu, pemerintah kota membuka ruang seluas-luasnya bagi berbagai pihak untuk berkolaborasi menjadikan budaya sebagai kekuatan pembangunan.
“Pemerintah Kota Pontianak membuka ruang yang luas untuk berkolaborasi bersama-sama menjadikan budaya sebagai bagian dari kehidupan yang memberi dampak positif, baik dari sisi kerukunan, ekonomi, maupun sosial,” katanya.
Edi menyebut ikan arwana, khususnya jenis super red, merupakan salah satu ikon Kalimantan Barat yang telah dikenal hingga mancanegara. Menurutnya, kontes arwana bukan sekadar ajang menampilkan keindahan satwa, tetapi juga memiliki nilai strategis dalam mendorong ekonomi kreatif serta pelestarian pesona endemik lokal.
“Ikan arwana, khususnya super red, adalah salah satu ikon kebanggaan Kalimantan Barat yang sudah mendunia. Memamerkan dan melombakan ikan arwana bukan sekadar kontes kecantikan satwa, tetapi juga langkah strategis dalam mendorong ekonomi kreatif dan pelestarian potensi lokal,” jelasnya.
Melalui sinergi antara Festival Oriental Khatulistiwa dan Arwana Contest, Edi berharap Pontianak Convention Center dapat menjadi pusat perputaran ekonomi bagi pelaku UMKM sekaligus destinasi wisata akhir pekan bagi masyarakat Pontianak maupun wisatawan dari luar daerah.
Ia juga mengucapkan selamat kepada seluruh peserta lomba dan kontes yang ikut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Edi berpesan agar seluruh peserta menjunjung sportivitas dan menjadikan festival ini sebagai ruang mempererat persaudaraan.
“Menang atau kalah adalah hal biasa. Pengalaman dan persaudaraan yang terjalin di sini adalah yang utama,” tuturnya.
Kepada panitia, Edi berpesan agar penyelenggaraan Festival Oriental Khatulistiwa terus dievaluasi dan ditingkatkan kualitasnya ke depan. Ia berharap kegiatan serupa tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat, pertumbuhan ekonomi, serta pelaku UMKM.
“Terus evaluasi dan tingkatkan kualitas penyelenggaraan ke depan, supaya tidak hanya menjadi acara seremonial, tetapi bermanfaat bagi masyarakat Kota Pontianak, pertumbuhan ekonomi, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah,” pungkasnya. (prokopim)
Ladies Program APEKSI se-Kalimantan, Gelar Pelatihan Buat Pokok Telok
PONTIANAK - Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Pontianak Yanieta Arbiastutie Kamtono menekankan pentingnya peran perempuan dalam mendukung pembangunan daerah melalui pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi kreatif.
Hal tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan workshop “Pokok Telok” yang digelar dalam rangka Ladies Program rangkaian Rapat Kerja (Raker) Komisariat Wilayah (Komwil) V Regional Kalimantan di Hotel Novotel Pontianak, Sabtu (23/5/2026). Ladies Program diikuti peserta dari berbagai daerah di Kalimantan sebagai wadah berbagi budaya dan memperkuat kolaborasi antardaerah.
Yanieta menjelaskan bahwa workshop pokok telok bukan sekadar kegiatan keterampilan biasa, tetapi juga sarat dengan nilai filosofi dan budaya lokal.
Menurutnya, pokok telok merupakan simbol kerapian, ketekunan, doa, keberkahan, kesuburan dan kebahagiaan yang biasa hadir dalam berbagai acara adat seperti khitanan, pernikahan, akikah, hingga khataman Al-Qur’an.
“Melalui workshop ini, kami ingin membagikan budaya tradisional agar tetap hidup dan lestari. Selain itu, kegiatan ini juga melatih kesabaran dan ketelitian,” katanya.
Ia menambahkan, keterampilan membuat pokok telok juga memiliki potensi ekonomi kreatif yang dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat. Karena itu, Dekranasda Kota Pontianak turut melakukan pembinaan kepada kelompok disabilitas agar dapat terlibat dalam pengembangan kerajinan tersebut.
Selain workshop, kegiatan juga diramaikan dengan fashion show yang menampilkan berbagai motif dan kearifan lokal khas Kota Pontianak, termasuk motif caping yang terinspirasi dari topi tradisional nelayan di Kampung Caping, Kelurahan Benua Melayu Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara.
Yanieta mengatakan, Kampung Caping saat ini menjadi salah satu pusat ekonomi kreatif masyarakat yang mendapat perhatian luas. Bahkan, istri Wakil Presiden RI, Selvi Ananda, baru-baru ini turut mengunjungi kawasan tersebut dan memberikan apresiasi terhadap kreativitas masyarakat.
Mengusung tema “Perempuan Berdaya Mendukung Fiskal Tangguh Menuju Kota Tumbuh”, Yanieta menilai tema tersebut merupakan cerminan nyata kontribusi perempuan dalam pembangunan daerah.
Ia menegaskan, perempuan tidak hanya berperan sebagai pendamping keluarga, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi, pelestari budaya, serta penjaga nilai sosial di tengah masyarakat.
“Peran Tim Penggerak PKK, Dekranasda, Dharma Wanita, dan organisasi perempuan lainnya sangat strategis dalam mendukung pembangunan daerah. Dari tangan perempuan lahir banyak gagasan baik yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” tuturnya.
Ia berharap kegiatan workshop tersebut dapat membuka ruang kolaborasi antarkota di Kalimantan sehingga setiap daerah dapat saling belajar dan memperkaya budaya serta produk kreatif masing-masing.
Dalam kesempatan itu, Yanieta juga memperkenalkan Kota Pontianak sebagai kota kuliner yang memiliki daya tarik tersendiri meski tidak memiliki wilayah yang luas.
“Kota Pontianak memang tidak terlalu luas, namun cukup dirindukan bagi siapapun yang pernah berkunjung ke sini karena terkenal dengan wisata kulinernya. Selain itu, Pontianak juga dikenal sebagai kota dengan seribu warung kopi,” tutupnya. (prokopim/kominfo)
Wadah Kota se-Kalimantan Cari Solusi Fiskal
Pembukaan Raker Komwil V APEKSI Regional Kalimantan 2026
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan Rapat Kerja (Raker) Komisariat Wilayah (Komwil) V Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) Regional Kalimantan Tahun 2026 menjadi wadah penting bagi pemerintah kota untuk mencari solusi bersama atas tantangan fiskal daerah. Tema ‘Fiskal Tangguh, Kota Tumbuh’, sangat relevan dengan kondisi yang dihadapi pemerintah daerah saat ini. Menurutnya, kota-kota di Kalimantan menghadapi persoalan serupa, mulai dari rendahnya kemandirian fiskal, terbatasnya ruang fiskal, kesenjangan kapasitas antardaerah, hingga dampak penyesuaian transfer pusat ke daerah.
“Tema ini merupakan tantangan nyata yang mesti kita sikapi dan cari solusi bersama. Hari ini kita menghadapi isu strategis yang sama, sementara tuntutan pembangunan terus meningkat,” ujarnya ketika membuka raker tersebut di Hotel Novotel, Sabtu (23/5/2026) pagi.
Edi yang juga Ketua Komwil V APEKSI Regional Kalimantan menyebut ketahanan fiskal tidak lagi cukup dimaknai sebagai kemampuan mengelola anggaran. Daerah harus mampu membangun ketangguhan fiskal agar tidak terus bergantung pada transfer pemerintah pusat.
“Kita tidak bisa terus bergantung pada transfer pusat. Kita harus mampu memperkuat kapasitas pembiayaan dari kekuatan ekonomi daerah kita sendiri,” katanya.
Ia menjelaskan, pengelolaan pendapatan daerah menjadi kunci penting dalam memastikan keberlanjutan fiskal dan pembangunan. Upaya tersebut harus diarahkan untuk meningkatkan kemandirian fiskal, mengoptimalkan sumber pendapatan yang ada, serta menerapkan prinsip tata kelola pemerintahan yang baik.
Di Kota Pontianak, Edi memaparkan sejumlah langkah yang sudah dilakukan. Pertama, optimalisasi pemungutan pajak dan retribusi daerah melalui digitalisasi pendapatan daerah terintegrasi atau e-PONTI. Menurutnya, inovasi tersebut berhasil mendorong kenaikan transaksi perpajakan setiap tahun sebesar 11,37 persen. Kedua, Pemerintah Kota Pontianak juga melakukan intensifikasi sumber pendapatan melalui inovasi Online Tax Monitoring (OTM). Melalui sistem tersebut, tingkat kepatuhan wajib pajak meningkat dari 65 persen menjadi 85 persen.
“Digitalisasi menjadi bagian penting untuk memperkuat pendapatan daerah. Dengan e-PONTI dan Online Tax Monitoring, kita ingin pemungutan pajak dan retribusi menjadi lebih transparan, efektif, dan akuntabel,” jelasnya.
Selain itu, Pontianak juga mengembangkan diversifikasi sumber pendapatan alternatif melalui QROP Spasial, yakni sinkronisasi data lintas sektor dan ekstensifikasi berbasis spasial. Langkah ini dilakukan agar potensi pendapatan daerah dapat dipetakan dan dikelola lebih tepat. Dari sisi aset, Pemkot Pontianak telah memiliki Sistem Informasi Manajemen Aset (SIMA) untuk mengelola aset daerah. Pemerintah kota juga bekerja sama dengan Kejaksaan Negeri dalam rangka memastikan kepastian dan pengamanan aset milik daerah.
Edi menegaskan, forum APEKSI menjadi penting karena memberikan ruang bagi kota-kota untuk saling belajar, berbagi praktik terbaik, dan membangun kolaborasi. Menurutnya, tantangan fiskal bukan hanya persoalan satu daerah, melainkan persoalan bersama kota-kota di Indonesia.
“Di forum inilah kita bisa saling belajar, berbagi praktik terbaik, dan membangun kolaborasi antarkota. Tantangan fiskal ini bukan hanya milik satu daerah, tetapi tantangan bersama,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Dewan Pengurus APEKSI Alwis Rustam memuji Komwil V APEKSI Regional Kalimantan sebagai salah satu komwil yang paling aktif dan produktif dalam memberikan masukan terhadap berbagai isu strategis daerah. Komwil V memiliki peran penting karena mampu menghimpun persoalan-persoalan daerah secara lebih detail, terutama yang berkaitan dengan dinamika pembangunan di Kalimantan.
“Komwil ini paling produktif dalam memberikan input yang lebih detail kepada Sekretariat Dewan Pengurus APEKSI,” tuturnya.
Alwis menjelaskan, berbagai masukan dari Komwil V bahkan telah diteruskan ke sejumlah kementerian dan lembaga, mulai dari Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Koordinator, hingga surat yang ditujukan kepada Presiden dan Kementerian Keuangan. Masukan tersebut disampaikan sejak sebelum pembangunan Ibu Kota Nusantara hingga saat mulai berjalan.
Menurutnya, peran komwil sangat strategis karena menjadi ujung tombak dalam melihat persoalan secara detail dan regional. Melalui forum komwil, kekhasan, kesenjangan, dan tantangan tiap daerah dapat tersampaikan dengan lebih baik.
“Komisariat wilayah ini merupakan ujung tombak untuk melihat persoalan-persoalan secara detail dan regional. Kita tidak ingin kebijakan untuk daerah digeneralisasi begitu saja,” ungkapnya.
Ia menambahkan, setiap wilayah memiliki karakteristik, disparitas, dan tantangan yang berbeda. Karena itu, rapat kerja komwil menjadi ruang penting agar aspirasi kota-kota dapat dihimpun secara lebih utuh sebelum dibawa ke forum nasional. Dari enam komwil se Indonesia, rekomendasi yang dibawa ke Rapat Kerja Nasional bahkan bisa mencapai puluhan poin.
“Biasanya di Rakernas kita bisa mencapai 62 rekomendasi dari enam komwil. Artinya, persoalan yang dihimpun dari daerah sangat banyak dan perlu dibahas bersama,” jelasnya.
Ia juga menilai Raker Komwil V APEKSI Regional Kalimantan menjadi forum pembelajaran antardaerah atau horizontal learning. Tidak hanya dalam sesi formal, pertukaran pengalaman juga terjadi dalam suasana informal antara wali kota, sekretaris daerah, asisten, hingga perangkat daerah.
“Forum ini menjadi ajang pembelajaran horizontal. Antarkota bisa saling belajar, antar-OPD juga bisa saling bertukar pengalaman,” pungkasnya. (prokopim/kominfo)
Wali Kota se-Kalimantan Gowes Bareng Keliling Pontianak
Tanam Pohon dan Tabur Bibit Ikan Simbol Kepedulian Lingkungan
PONTIANAK - Sembilan pemerintah kota yang tergabung dalam Komisariat Wilayah (Komwil) V Regional Kalimantan mengitari Kota Pontianak mengendarai sepeda, Sabtu (23/5/2026) pagi. Sembilan kota yang terdiri dari Kota Balikpapan, Banjarbaru, Banjarmasin, Bontang, Palangkaraya, Pontianak, Tarakan, Samarinda dan Singkawang, berkumpul dalam rangka Rapat Kerja (Raker) Komwil V Regional Kalimantan.
Rute dimulai dari Hotel Novotel, para wali kota dan perwakilan dari pemerintah kota se-Kalimantan gowes bersama menuju Jalan Ahmad Yani, Teuku Umar, Diponegoro, Tanjungpura dan berakhir di waterfront Bank BNI untuk melakukan penanaman pohon dan penaburan ikan di Sungai Kapuas.
Usai rangkaian tersebut, para tamu menikmati sarapan berbagai hidangan kuliner, mulai dari bubur kampung, lontong sayur, roti cane, sate, kue lupis, chai kue, pisang goreng, dan lainnya.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menerangkan, rangkaian kegiatan digelar untuk memperkenalkan wajah Kota Pontianak yang hijau, bersih dan tertata kepada para tamu yang berasal dari kota-kota di Kalimantan.
Menurut Edi, kegiatan tersebut menjadi sarana memperlihatkan perkembangan dan penataan Kota Pontianak kepada para tamu dari berbagai kota di Kalimantan.
“Para peserta melihat langsung bagaimana Kota Pontianak yang hijau, bersih dan tertata. Ini menjadi kesan positif bagi tamu yang datang ke Pontianak,” ujarnya.
Selain bersepeda, para peserta juga mengikuti kegiatan penebaran benih ikan di kawasan waterfront. Jenis ikan yang ditebar di antaranya ikan jelawat dan ikan patin serta udang galah. Edi berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan dan ekosistem perairan.
“Kegiatan ini menjadi simbol kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mengajak masyarakat menjaga kelestarian sungai dan ekosistemnya,” kata dia.
Dalam rangkaian penyambutan, Pemerintah Kota Pontianak juga menyajikan beragam kuliner khas Pontianak kepada para peserta Raker Komwil V APEKSI. Hidangan yang disuguhkan antara lain sate kuah, bubur pedas, roti cane, lontong sayur hingga aneka kue tradisional khas Pontianak.
Edi menambahkan, pertemuan para kepala daerah se-Kalimantan tersebut juga membahas berbagai isu strategis daerah, terutama terkait keterbatasan anggaran akibat pengurangan dana transfer dari pemerintah pusat. Meski demikian, pemerintah kota di wilayah Kalimantan diharapkan tetap mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui berbagai inovasi dan kolaborasi antardaerah.
“Melalui forum ini, kita saling bertukar pengalaman dan mencari solusi bersama agar pembangunan serta pertumbuhan ekonomi di kota-kota Kalimantan tetap berjalan optimal,” pungkasnya. (prokopim/kominfo)