,
menampilkan: hasil
Edi Jajal Jetski di Sungai Kapuas, Dorong Potensi Wisata Air
Grand Opening Panorama Jetski, Tekankan Faktor Keselamatan
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengapresiasi inisiatif generasi muda yang menghadirkan aktivitas jetski sebagai upaya meramaikan kawasan Sungai Kapuas yang menjadi kebanggaan Kota Pontianak.
Menurutnya, kehadiran fasilitas penyewaan jetski yang disediakan oleh Panorama Jetski Pontianak menjadi alternatif wisata baru yang memberikan pengalaman berbeda bagi masyarakat maupun wisatawan sembari menyusuri Sungai Kapuas.
“Ini merupakan hal positif. Anak-anak muda kita mampu berinovasi dan menghadirkan aktivitas yang bisa menghidupkan Sungai Kapuas,” ujarnya usai menjajal jetski saat Grand Opening Panorama Jetski di Sungai Kapuas, Sabtu (25/4/2026) sore.
Edi bilang, aktivitas olahraga air seperti jetski sebenarnya bukan hal baru di Pontianak. Pada era 1970-an hingga 1980-an, masyarakat sudah mengenal olahraga ski air yang saat itu ditarik menggunakan speedboat.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kondisi sungai saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan masa lalu. Tingkat kepadatan lalu lintas air yang semakin tinggi menuntut adanya perhatian serius terhadap aspek keselamatan.
“Sekarang lalu lintas di sungai semakin padat. Oleh karena itu, faktor keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam setiap kegiatan,” tegasnya.
Edi berharap, kehadiran jetski dapat menjadi daya tarik wisata yang mampu meningkatkan minat masyarakat untuk menikmati Sungai Kapuas dengan cara yang lebih variatif, tidak hanya menggunakan transportasi air konvensional.
Selain itu, ia juga mendorong adanya kolaborasi antara komunitas, pelaku usaha, dan pemerintah dalam mengembangkan berbagai kegiatan di sungai, baik yang bersifat rekreasi, prestasi, maupun edukasi.
“Kita harapkan generasi muda semakin mencintai Sungai Kapuas. Kegiatan di sungai harus dikemas dengan baik dan tentunya tetap memperhatikan regulasi serta perizinan yang berlaku,” tambahnya.
Ia pun menegaskan bahwa setiap aktivitas di perairan harus mengedepankan standar keselamatan demi menjaga keamanan seluruh pengguna sungai.
“Dengan pengelolaan yang baik, Sungai Kapuas diharapkan tidak hanya menjadi jalur transportasi, tetapi juga berkembang sebagai destinasi wisata unggulan di Kota Pontianak,” ucapnya.
Direktur Utama Panorama Jetski Pontianak, Fakhrul Rozi Berutu, menyampaikan bahwa kehadiran fasilitas ini merupakan bentuk kontribusi pihaknya dalam mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di Kalimantan Barat, khususnya di Kota Pontianak.
“Ini menjadi momen penting bagi kami, terutama dalam melihat peluang besar yang ada di Sungai Kapuas. Kami ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda dan memberi nilai tambah bagi pariwisata daerah,” ungkapnya.
Menurut Fakhrul, Sungai Kapuas memiliki potensi besar yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal sebagai destinasi wisata olahraga air. Melalui kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk sektor perhotelan, Panorama Jetski hadir sebagai alternatif wisata baru yang dapat dinikmati masyarakat maupun wisatawan.
Tidak hanya berorientasi pada sektor rekreasi, Panorama Jetski juga diharapkan menjadi wadah pembinaan atlet. Fakhrul menegaskan pihaknya berkomitmen mendukung lahirnya atlet jetski dari Pontianak yang mampu bersaing di tingkat nasional hingga internasional.
“Kami ingin menjadi tempat bagi para atlet untuk berkembang. Bahkan, salah satu anggota DPRD juga merupakan atlet jetski, sehingga ini menjadi motivasi tersendiri bagi generasi muda,” imbuh Fakhrul.
Selain itu, fasilitas yang disediakan juga terbuka bagi masyarakat umum yang ingin mencoba olahraga jetski dengan sistem penyewaan yang telah disiapkan.
“Kami menyediakan fasilitas lengkap bagi siapa saja yang ingin merasakan pengalaman bermain jetski di Sungai Kapuas. Harapannya, ini bisa menjadi daya tarik baru bagi wisatawan,” sebutnya.
Ia optimistis, dengan pengelolaan yang baik, Sungai Kapuas dapat menjadi salah satu pusat wisata air unggulan di Indonesia. (prokopim)
Wali Kota: Kampus Berkontribusi Tingkatkan IPM Pontianak
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menilai keberadaan perguruan tinggi memiliki kontribusi penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendongkrak Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Pontianak. Pontianak terus berkembang sebagai pusat pemerintahan, perdagangan, jasa, sekaligus pusat pendidikan di Kalimantan Barat.
Peran sektor pendidikan, termasuk perguruan tinggi, dinilai memberi dampak nyata terhadap capaian IPM Kota Pontianak yang saat ini berada pada angka 82,80 dan masuk kategori sangat tinggi.
“Pontianak juga pusat pendidikan. Ini yang sangat memberikan dampak terhadap IPM Pontianak. Sekarang IPM kita masuk kategori sangat tinggi,” ujarnya ketika Penandatanganan Prasasti Peresmian Gedung Leopold Mandic Universitas Widya Dharma Pontianak, Sabtu (25/4/2026) pagi.
Menurut Edi, peningkatan IPM bukan pekerjaan sederhana karena mencakup banyak aspek, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga kualitas hidup masyarakat. Karena itu, keberadaan kampus seperti Universitas Widya Dharma dinilai turut memperkuat upaya pemerintah dalam membangun sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan berbudaya.
“Kita ingin punya SDM yang sehat, cerdas, dan berbudaya. Keberadaan Universitas Widya Dharma tentu turut mendongkrak IPM Pontianak,” katanya.
Ia menambahkan, perkembangan kampus juga memberi dampak terhadap kawasan sekitarnya. Dengan jumlah mahasiswa yang besar, aktivitas perguruan tinggi berkontribusi pada ekonomi masyarakat, mulai dari hunian, kuliner, transportasi, hingga sektor jasa lainnya.
“Di sekitar kampus dengan ribuan mahasiswa pasti ada kontribusi bagi ekonomi. Di Pontianak ada sekitar 43 ribu mahasiswa dari luar daerah yang turut memberi warna bagi ekonomi dan kehidupan kota,” jelasnya.
Edi menyebut, dengan jumlah penduduk hampir 700 ribu jiwa, Kota Pontianak menghadapi berbagai tantangan perkotaan, mulai dari sampah, air bersih, hingga lalu lintas. Karena itu, ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi bagi pembangunan kota.
“Kami berusaha membuat Pontianak menjadi kota yang toleran, nyaman, dan berdampingan. Tentu ini membutuhkan sinergi semua pihak, termasuk perguruan tinggi,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Widya Dharma, Polycarpus Widjaja Tandra, menegaskan bahwa universitas tidak boleh menjadi menara gading yang terpisah dari masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi harus hadir dan bersinergi dengan pemerintah untuk menjawab kebutuhan kota.
“Universitas tidak boleh menjadi menara gading yang terpisah dari masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi dengan pemerintah,” tuturnya.
Polycarpus menyampaikan, Universitas Widya Dharma berkomitmen menyelaraskan pengembangan kampus dengan visi Pemerintah Kota Pontianak. Ia berharap lulusan yang dihasilkan tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu memberi solusi bagi masyarakat dengan mengedepankan nilai kemanusiaan.
“Kita belajar bukan hanya untuk ilmu, tetapi juga untuk hidup dan bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Universitas Widya Dharma Pontianak berdiri sejak 2019 dan saat ini memiliki tiga fakultas dengan delapan program studi. Polycarpus berharap kerja sama antara kampus dan Pemerintah Kota Pontianak dapat terus diperkuat untuk mendukung pembangunan sumber daya manusia dan kemajuan daerah. (prokopim)
Hari Kartini, PKK Pontianak Gelar Aksi Santuni Lansia
Aksi PKK Pontianak Berbagi lewat Program SEPEDA PKK
PONTIANAK – Di momen Hari Kartini tahun ini, Tim Penggerak (TP) PKK Kota Pontianak memperingatinya dengan cara berbeda. Tanpa acara seremonial, para kader TP PKK Kota Pontianak turun langsung ke masyarakat dengan menggelar aksi sosial, mulai dari senam sehat bersama, pemeriksaan kesehatan gratis, pelayanan Keluarga Berencana serta aksi berbagi bagi lansia tangguh dan mandiri di enam kecamatan se-Kota Pontianak.
Ketua TP PKK Kota Pontianak Yanieta Arbiastutie menerangkan, tujuan digelarnya kegiatan ini sebagai aksi nyata yang langsung menyentuh masyarakat. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Setia Peduli Daerah bersama PKK (SEPEDA PKK).
“Dalam peringatan Hari Kartini tahun 2026 ini, kami meniadakan kegiatan seremonial. Sebaliknya, kami melaksanakan kegiatan yang langsung menyentuh masyarakat, di antaranya melalui bakti sosial dengan turun langsung dan melibatkan para lansia yang tangguh dan mandiri, serta memberikan bantuan sembako kepada mereka,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Sebanyak 60 lansia menerima bantuan sembako untuk tahap pertama. Bantuan ini diberikan kepada para lansia untuk meringankan beban mereka. Yanieta berharap jumlah penerima manfaat dapat terus bertambah.
“Kami berharap para lansia di Kota Pontianak dapat terus menjadi lansia yang mandiri, tangguh, dan sehat,” harapnya.
Momentum Hari Kartini, lanjut Yanieta, menjadi pengingat bahwa perempuan di Kota Pontianak harus terus menjadi perempuan yang mandiri dan menjadi penggerak.
“Perempuan merupakan pilar keluarga dan garda terdepan. Saat ini adalah era di mana perempuan harus bergerak, inovatif, kreatif, dan penuh semangat. Tidak ada lagi anggapan bahwa perempuan hanya berperan sebagai pendamping. Semua harus aktif, berkarya, dan berkontribusi,” tuturnya.
Salah satu lansia penerima bantuan, Bahtiah (64) menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih atas bantuan yang diberikan oleh TP PKK Kota Pontianak. Bantuan ini baginya sangat bermanfaat untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.
“Terima kasih, mudah-mudahan yang memberikan bantuan selalu sehat,” pungkasnya. (humas PKK 2026)
Sulap Pasar Lama Jadi Ruang Kreatif Anak Muda
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono berencana merevitalisasi sejumlah pasar yang selama ini belum berfungsi optimal menjadi ruang ekonomi kreatif, termasuk sebagai tempat aktivitas anak muda. Langkah ini dilakukan agar pasar tidak hanya menjadi pusat transaksi kebutuhan harian, tetapi juga tumbuh sebagai kawasan produktif dan destinasi ekonomi baru di Kota Pontianak.
Edi mengatakan, beberapa pasar yang saat ini kurang aktif seperti Pasar Cempaka dan Pasar Kapuas Indah perlu ditata ulang dengan konsep baru. Keberadaan pasar di pusat kota memiliki potensi besar untuk dikembangkan, apalagi di tengah keterbatasan lahan Kota Pontianak.
“Pasar-pasar yang tadinya tidak aktif seperti Pasar Cempaka dan Pasar Kapuas Indah ini perlu direvitalisasi. Harapan kita ke depan pasar ini bisa hidup dengan konsep baru,” ujarnya saat meninjau Pasar Kapuas Indah dan Cempaka, Jumat (24/4/2026) sore.
Ia mencontohkan sejumlah pasar di kota besar seperti Jakarta dan Bandung yang berhasil menghidupkan lantai atas pasar sebagai ruang kreatif anak muda. Area yang sebelumnya sepi bisa diubah menjadi tempat berkumpul, berjualan, berkarya, hingga menjadi destinasi baru yang menarik pengunjung.
“Kalau saya lihat beberapa pasar di Jawa dan Jakarta, seperti Pasar Santa, lantai dua dan seterusnya bisa berfungsi menjadi pasar anak muda. Lebih kreatif, inovatif, menarik, dan akhirnya menjadi kawasan destinasi ekonomi,” katanya.
Menurut Edi, salah satu tantangan pasar tradisional adalah sepinya pengunjung di lantai dua. Karena itu, Pemkot Pontianak akan menyiapkan konsep penataan agar ruang-ruang tersebut kembali hidup dan bernilai ekonomi. Sebelum revitalisasi dilakukan, pemerintah akan mendata ulang kepemilikan dan penggunaan kios, termasuk menertibkan kios yang sudah beralih fungsi atau tidak lagi digunakan sesuai ketentuan.
“Kita akan data ulang dan lakukan penertiban terhadap pengguna kios yang sudah beralih. Ini perlu supaya pengelolaan pasar ke depan lebih tertib,” jelasnya.
Selain Pasar Cempaka dan Pasar Kapuas Indah, Pemkot Pontianak juga mulai menyiapkan rehabilitasi sejumlah pasar lain. Tahun ini, Pasar Flamboyan dan Pasar Puring termasuk pasar yang akan mendapat perhatian untuk ditata agar lebih bersih, aman, dan nyaman bagi pedagang maupun pengunjung.
“Beberapa pasar besar akan kita jadikan pasar yang bersih dan tertata, sehingga pedagang dan pengunjung lebih nyaman,” tambahnya.
Edi menilai pasar harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Di era digital, pedagang pasar menghadapi tantangan dari marketplace dan pola belanja daring. Karena itu, pasar fisik harus memiliki daya tarik tambahan agar tetap relevan dan dikunjungi masyarakat.
“Pasar yang bersih, aman, dan kreatif pasti akan didatangi pengunjung. Ini penting karena sekarang pedagang offline juga menghadapi tantangan dari marketplace,” katanya.
Terkait anggaran revitalisasi, Edi menyebut besarannya masih menunggu hasil kajian dan perhitungan konsultan. Pemerintah juga akan melihat kemungkinan pemberian insentif atau skema tertentu bagi pedagang, terutama setelah pasar ditata kembali. Ia berharap revitalisasi pasar tidak hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga menghidupkan aktivitas ekonomi baru yang melibatkan generasi muda, pelaku UMKM, dan komunitas kreatif di Kota Pontianak.
Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskumdag) Kota Pontianak Ibrahim mengatakan, kondisi Pasar Cempaka saat ini memerlukan sejumlah pembenahan, mulai dari atap bangunan, pengecatan, hingga penataan kembali kios-kios yang selama ini tidak berfungsi optimal. Setiap kios memiliki Surat Pemakaian Tempat Usaha (SPTU) yang memuat aturan pemanfaatan. Karena itu, pemerintah akan memeriksa kembali status kios, termasuk kios yang sudah lama kosong atau tidak lagi digunakan oleh pemegang hak pemakaian.
“Di SPTU itu ada aturan mainnya. Kalau sudah sekian lama tidak digunakan, maka bisa diambil kembali oleh pemerintah kota melalui dinas terkait,” jelasnya.
Menurutnya, lantai dua Pasar Cempaka selama ini banyak dalam kondisi kosong dan minim aktivitas. Pemerintah kota ingin menghidupkan kembali ruang tersebut dengan konsep baru, sesuai arahan Wali Kota Pontianak, yakni sebagai tempat kuliner, ruang kreatif anak muda, kafe, atau kegiatan usaha lain yang lebih menarik.
“Kita akan coba perbaiki dan baguskan. Pesan Pak Wali tadi, tempat ini bisa untuk kuliner, kreativitas pemuda, coffee shop dan sebagainya,” terangnya.
Ibrahim menilai, sebagai kota perdagangan dan jasa, Pontianak harus mampu memanfaatkan aset pasar yang belum optimal. Lantai dua pasar yang selama ini kosong perlu didorong agar memiliki fungsi ekonomi baru dan dapat menarik minat masyarakat. Setelah penataan dilakukan, pemerintah akan membuka peluang bagi pelaku usaha yang berminat mengisi kios atau ruang usaha di kawasan tersebut. Namun sebelum itu, Disperindagkop akan menyelesaikan pendataan, penertiban, serta perbaikan fisik bangunan.
“Kalau sudah bagus nanti kita umumkan. Siapa yang ingin berusaha, silakan. Kita harapkan tempat ini bisa benar-benar dimanfaatkan untuk aktivitas perdagangan,” ungkapnya.
Ibrahim menambahkan, saat ini terdapat 18 pasar yang dikelola Pemerintah Kota Pontianak. Perbaikan pasar akan dilakukan secara bertahap berdasarkan tingkat kerusakan, baik pada bangunan maupun fasilitas pendukung.
Khusus Pasar Cempaka, pihaknya menargetkan penataan dapat mulai dilakukan tahun ini. Selain itu, kawasan tersebut juga direncanakan terintegrasi dengan pengembangan aktivitas perdagangan lain, termasuk sentra kuliner malam dan pasar malam di sekitar kawasan pasar.
“Mudah-mudahan ini bisa disambut baik oleh pelaku usaha, sehingga ruang-ruang pasar yang selama ini kosong bisa kembali hidup dan memberi dampak bagi ekonomi Kota Pontianak,” pungkasnya. (prokopim)