,
menampilkan: hasil
Wali Kota Pontianak Tekankan Literasi Media untuk Jaga Kondusivitas Kota
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menekankan pentingnya literasi media di tengah derasnya arus informasi dan kebebasan bermedia sosial yang kian sulit dibendung. Menurutnya, kemampuan masyarakat dalam menyaring informasi menjadi kunci utama menjaga suasana kota tetap kondusif di era digital. Ia menilai, media sosial saat ini menghadirkan tantangan yang jauh berbeda dibandingkan media penyiaran konvensional seperti televisi dan radio yang masih relatif terkendali dari sisi konten.
“Kalau televisi dan radio masih ada rambu-rambu dan etika penyiaran. Tapi di media sosial, kontennya sangat bebas, baik dari tampilan, bahasa, maupun isinya. Ini yang perlu disikapi dengan kecerdasan,” ujarnya ketika membuka Sosialisasi Literasi Media yang digelar KNPI Pontianak dan KPID Kalbar di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Rabu (21/1/2026) malam.
Edi menjelaskan, di era digital saat ini banyak konten dibuat secara sepihak demi mengejar viralitas, tanpa mempertimbangkan dampak sosial yang ditimbulkan. Padahal, konten-konten provokatif, radikal, kekerasan, hingga pornografi dapat mempengaruhi opini publik dan perilaku masyarakat, terutama generasi muda.
“Kalau dulu sebuah berita selalu berimbang, ada klarifikasi dari berbagai pihak. Sekarang, kalau tidak viral, dianggap bukan konten. Ini berbahaya kalau tidak diimbangi literasi yang kuat,” katanya.
Wali Kota juga menyoroti bagaimana pemberitaan atau konten terkait kasus-kasus sensitif, seperti kekerasan atau persoalan anak, kerap disajikan secara terbuka tanpa mempertimbangkan dampak psikologis terhadap korban. Penanganan kasus seperti itu, lanjutnya, membutuhkan kehati-hatian agar tidak justru menghancurkan masa depan pihak yang harus dilindungi.
“Di sinilah pentingnya literasi media. Kita perlu tahu mana yang pantas dibagikan, mana yang sebaiknya ditahan. Tidak semua yang menarik untuk ditonton layak untuk disebarkan,” tegasnya.
Ketua KNPI Pontianak, Zean Novrian menegaskan pentingnya peran pemuda dalam menjaga ruang publik yang sehat, informatif, dan beretika di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, penyiaran dan penyebaran informasi saat ini bukan lagi sekadar persoalan teknis, melainkan menyangkut tanggung jawab moral.
“Ini bukan hanya soal teknis penyiaran atau media, tetapi menyangkut beban moral dalam menyampaikan informasi yang benar, mendidik, dan tidak memecah belah,” ujarnya.
Ia menilai, kebebasan bermedia sosial harus diimbangi dengan kesadaran etis. Konten yang beredar luas di ruang digital memiliki dampak besar terhadap cara berpikir dan bersikap masyarakat, khususnya generasi muda. Karena itu, pemuda tidak boleh hanya hadir sebagai penikmat atau konsumen media semata.
“Pemuda harus berperan aktif. Jangan hanya menjadi penonton, tetapi menjadi agen literasi yang mampu menyaring informasi, berpikir kritis, dan tetap menjunjung nilai persatuan,” tegasnya. (prokopim)
Pontianak City Run 2026 Siap Jadi Magnet Pelari Dunia
Digelar 15 Februari 2026, Targetkan 8 ribu Peserta
PONTIANAK – Event lari berskala nasional hingga internasional, Pontianak City Run 2026, akan digelar pada 15 Februari 2026 dengan titik start dan finis di depan GOR Terpadu Ayani, Kota Pontianak. Ajang ini ditargetkan diikuti 8.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kota Pontianak, Rizal, mengajak seluruh masyarakat untuk turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Ia menyebut Pontianak City Run telah menjadi agenda rutin yang kini memasuki tahun ke delapan dengan tingkat antusiasme peserta yang terus meningkat.
“Kami mengajak seluruh warga Kota Pontianak, Kalimantan Barat, dan masyarakat secara umum untuk hadir dan mengikuti bersama-sama Pontianak City Run 2026, Event ini sudah rutin digelar dan antusiasmenya setiap tahun sangat luar biasa,” ujarnya usai menggelar media gathering, Rabu (21/1/2026).
Rizal menambahkan, pelaksanaan Pontianak City Run memberikan dampak positif yang signifikan, baik bagi pemerintah daerah maupun masyarakat. Selain meningkatkan kebahagiaan dan kesehatan masyarakat, kegiatan ini juga berdampak pada meningkatnya kunjungan ke Kota Pontianak yang berpengaruh terhadap sektor ekonomi dan pariwisata.
“Banyak orang datang, bersenang-senang, dan menikmati suasana kota. Bahkan meskipun tidak ikut berlari, masyarakat tetap ingin menikmati kemeriahan acara,” katanya.
Ia berharap penyelenggaraan seri kedelapan ini dapat dikemas dengan konsep yang lebih segar dan kekinian melalui kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan.
“Pontianak City Run harus terus berinovasi agar tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi benar-benar menjadi agenda tetap Kota Pontianak,” pesannya.
CEO Sporta Indonesia selaku penyelenggara Pontianak City Run 2026, Ongky Lesmana, menjelaskan bahwa panitia telah menetapkan sejumlah kategori jarak lomba, mulai dari 5 kilometer, 10 kilometer, 21 kilometer (half marathon), hingga 42 kilometer (marathon). Seluruh kategori akan mengambil star dan finis di area GOR Terpadu Ayani.
Untuk tahun ini, rute lari akan melewati sejumlah jalan utama di Kota Pontianak. Peserta akan melintasi Jalan Ahmad Yani, Jalan Gajah Mada, Jalan Tanjungpura, kawasan Sungai Jawi, Jalan Sutomo, hingga Kota Baru, sebelum kembali ke GOR Terpadu. Rincian rute, termasuk pembagian jalur untuk kategori 10 kilometer, 21 kilometer, dan 42 kilometer, akan diumumkan secara detail oleh panitia.
“Target peserta tahun ini sebanyak 8.000 orang. Kami berharap antusiasme dari pelajar, mahasiswa, komunitas lari, perusahaan, serta seluruh pemangku kepentingan dan sponsor terus meningkat hingga hari pelaksanaan,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, promosi Pontianak City Run telah dilakukan sejak Mei 2025 ke berbagai kota, seperti Jakarta, Kuching, Bali, dan Yogyakarta, dengan membuka booth pada sejumlah event besar. Promosi tersebut bertujuan memperkenalkan Pontianak sebagai kota yang kini memiliki event lari dengan kategori maraton 42 kilometer.
“Untuk peserta luar daerah, kami tidak melakukan undangan khusus. Namun promosi terus kami lakukan agar masyarakat luas mengetahui bahwa Pontianak sudah memiliki event maraton berskala besar,” jelasnya.
Dari sisi dukungan penonton, Pontianak City Run memiliki ciri khas tersendiri. Pada pelaksanaan sebelumnya, dukungan supporter didominasi oleh ibu-ibu PKK. Tahun ini, dukungan akan semakin meriah dengan keterlibatan drum band Kota Pontianak, bahkan akan digelar lomba yel-yel atau cheering di sepanjang rute.
Hingga saat ini, pendaftar datang tidak hanya dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri seperti Malaysia, Singapura, dan Kenya. Sementara dari dalam negeri, peserta berasal dari berbagai kota, antara lain Jakarta, Makassar, dan Surabaya.
Pendaftaran Pontianak City Run 2026 telah dibuka sejak Mei 2025 dan masih berlangsung hingga kuota terpenuhi. Saat ini, jumlah pendaftar telah melampaui 5.000 peserta. Ongky optimistis target 8.000 peserta dapat tercapai, mengingat data dari pelajar dan mahasiswa belum seluruhnya masuk.
“Untuk komunitas lari, sebagian besar datanya sudah masuk. Sementara dari pelajar dan mahasiswa, kami masih menunggu data final karena sebelumnya bekerja sama dengan guru olahraga dan pihak kampus,” sebutnya.
Pendaftaran dapat dilakukan melalui tautan yang tersedia di Instagram resmi Pontianak City Run serta Instagram Sporta Indonesia. Event ini juga akan dimeriahkan kehadiran influencer lari, di antaranya Elsa serta satu selebgram asal Jakarta.
Selain itu, total hadiah yang disiapkan panitia mencapai Rp129.800.000, ditambah berbagai door prize menarik seperti sepeda motor dan perangkat elektronik.
Dalam pelaksanaannya, Pontianak City Run 2026 juga melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Panitia menyediakan 20 stan UMKM.
“Kami ingin Pontianak City Run menjadi ajang sport tourism sekaligus mendorong pergerakan ekonomi kreatif secara berkelanjutan,” tuturnya.
Terkait persiapan, Ongky menyebutkan bahwa hingga kini progres telah mencapai sekitar 80 persen dan tinggal memasuki tahap pematangan akhir, termasuk pembagian t-shirt peserta serta perlengkapan lomba lainnya. (*)
Rutin Tindaklanjuti Aduan Warga soal Perawatan Pohon
PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) secara konsisten menindaklanjuti aduan masyarakat yang masuk. Salah satunya melalui kegiatan pemangkasan dan perawatan pohon di Jalan Selat Sumba, Kelurahan Siantan Tengah, Kecamatan Pontianak Utara, Rabu (21/1/2026).
Koordinator Lapangan Dinas PUPR Bidang Pertamanan, Isgiono, menyampaikan aduan warga menjadi acuan pelaksanaan kegiatan di lapangan. Setiap laporan yang diterima lebih dulu diverifikasi sebelum ditangani sesuai kondisi teknis.
“Pemangkasan di Jalan Selat Sumba merupakan tindak lanjut dari aduan masyarakat. Laporan umumnya disampaikan melalui lurah atau camat setempat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penanganan pohon tidak selalu dilakukan melalui penebangan. Pengelolaan pohon di wilayah kota telah diatur dalam peraturan daerah sehingga langkah penanganan disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.
“Penanganan diarahkan pada pemangkasan terukur dengan mempertimbangkan keselamatan dan penataan lingkungan,” jelas Isgiono.
Menurutnya, keselamatan masyarakat menjadi perhatian utama dalam setiap kegiatan pertamanan. Keberadaan pohon sebagai bagian dari tata kota dan ruang terbuka hijau tetap dijaga.
“Setiap kegiatan memperhatikan aspek keamanan serta kondisi lingkungan agar tetap tertata,” katanya.
Untuk wilayah Pontianak Utara dan Pontianak Timur, Dinas PUPR menurunkan 13 personel yang terdiri dari sopir dump truck, operator, petugas pendukung, serta petugas pemanjat pohon. Pelaksanaan pemangkasan umumnya dilakukan pada malam hari guna mengurangi gangguan terhadap arus lalu lintas.
“Pekerjaan utama dilaksanakan pada malam hari. Siang hari dilakukan di lokasi-lokasi tertentu yang dinilai aman,” tambahnya.
Isgiono berharap masyarakat memahami proses penanganan aduan yang dilakukan secara bertahap dan sesuai prosedur.
“Setiap aduan yang masuk diproses dan ditindaklanjuti sesuai mekanisme,” tutupnya. (kominfo)
Berkhidmat Tanpa Batas: Jejak Pengabdian Hasyim untuk Umat hingga Pontianak
PONTIANAK - Kepergian Ahmad Hasyim Hadrawi, pada Selasa (20/1/2026), meninggalkan duka mendalam bagi Pemerintah Kota Pontianak dan keluarga besar Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat. Almarhum bukan sekadar seorang aparatur sipil negara, tetapi sosok pengabdi yang sepanjang hidupnya banyak berurusan dengan manusia, dengan keberagaman, dinamika sosial serta ikhtiar menjaga harmoni di tengah kemajemukan kota.
Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan dalam sambutan pelepasan jenazah, menyampaikan bahwa mendiang dikenal sebagai ASN yang berdedikasi, bertanggung jawab, dan memiliki loyalitas tinggi dalam menjalankan amanah pemerintahan serta pelayanan kepada masyarakat.
‘Kepergian almarhum merupakan kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi jajaran ASN dan seluruh pihak yang pernah bekerja sama,” ujarnya di hadapan para pelayat, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, almarhum adalah sosok yang selalu memberikan teladan dalam bekerja. Integritas dan komitmennya terhadap tugas dan tanggung jawab yang diembannya telah memberikan banyak kontribusi positif bagi pembangunan Kota Pontianak. Tidak hanya di dalam struktur pemerintahan, tetapi juga dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang mempererat hubungan antarwarga.
"Di tengah kesedihan ini, kita perlu mengingat betapa pentingnya nilai pengabdian, persatuan, dan saling menghormati yang selalu beliau tekankan. Ahmad Hasyim Hadrawi adalah teladan bagi kita semua dalam mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Mari kita teruskan semangat beliau dalam memberikan yang terbaik bagi kota ini dan masyarakat yang kita cintai,” pesannya.
Dalam struktur birokrasi, Hasyim Hadrawi menempati ruang kerja yang tidak sederhana. Sejak dipercaya menjabat sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Pontianak pada Oktober 2022, ia berada di garis depan pengelolaan relasi sosial dan politik. Kesbangpol menjadi simpul pertemuan berbagai kepentingan—ormas, tokoh agama, dinamika politik, isu kebangsaan, hingga upaya pencegahan radikalisme.
Almarhum menjalankan perannya dengan pendekatan dialog dan empati. Stabilitas kota, tidak dibangun dengan ketegasan administratif semata, melainkan dengan kepercayaan dan kemampuan memahami manusia yang ada di balik setiap persoalan.
Ahmad Hasyim Hadrawi dilahirkan di Yogyakarta pada 15 Juni 1968. Ia memulai pengabdian sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil pada 1 Maret 1998 dan diangkat menjadi PNS pada 1 November 1999. Kariernya ditempuh secara bertahap, menandai konsistensi dan integritas dalam birokrasi pemerintahan daerah.
Sejumlah jabatan strategis pernah diembannya, antara lain Kepala Bidang Pemuda, Kepala Bidang Industri, hingga Sekretaris Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata. Puncak karier birokrasi almarhum ditandai dengan pengangkatan sebagai Kepala Kesbangpol Kota Pontianak.
Dalam setiap jabatan, ia dikenal disiplin, teliti, dan bertanggung jawab. Etos kerjanya tercermin dari penilaian kinerja yang konsisten, serta anugerah Satyalancana Karya Satya 10 Tahun pada 2012 sebagai bentuk pengakuan atas kesetiaan dan pengabdiannya kepada negara.
Pengabdian Hasyim Hadrawi tidak bisa dilepaskan dari latar keluarganya. Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat. Dari sinilah ia mewarisi nilai keikhlasan, kesabaran, dan keberpihakan pada umat.
Kaderisasinya di lingkungan NU berlangsung lengkap. Ia berproses melalui Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), hingga Gerakan Pemuda Ansor. Di luar NU, almarhum juga pernah berkhidmat di DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), memperluas jejaring dan pengalaman lintas organisasi.
Perpaduan pengalaman organisasi dan birokrasi inilah yang membuat Hasyim Hadrawi dikenal luwes, komunikatif, dan mampu menjadi penghubung antara pemerintah dan masyarakat, khususnya dalam isu-isu sensitif kebangsaan dan kerukunan.
Wakil Wali Kota Pontianak menutup sambutannya dengan menyampaikan penghormatan atas jasa dan pengabdian almarhum, sekaligus permohonan maaf apabila semasa hidup terdapat khilaf atau kekurangan dalam pergaulan maupun pelaksanaan tugas.
Kini, Ahmad Hasyim Hadrawi telah berpulang. Namun jejak pengabdiannya tertinggal di banyak ruang—di meja-meja birokrasi, forum dialog lintas organisasi, serta upaya sunyi menjaga kohesi sosial Kota Pontianak. Ia telah menunaikan khidmatnya, tanpa batas, sebagaimana tagline yang diusungnya dalam Konferensi Wilayah NU Kalbar 2022. Walau ketika itu ia gagal, posisinya sebagai tokoh sentral tidak bergeser. Ia tetap menjadi rujukan, penyeimbang, dan jembatan hingga sekarang. Dan dari sanalah semangatnya, pengabdiannya akan terus dikenang. (prokopim)