,
menampilkan: hasil
Malam Lebaran, Warga Diimbau Buang Sampah Sebelum Pukul 03.00 Subuh
DLH Pontianak Siagakan 42 Armada Antisipasi Lonjakan Sampah Lebaran
PONTIANAK - Menjelang Hari Raya Idulfitri, volume sampah di Kota Pontianak diperkirakan akan meningkat hingga sekitar 20 persen. Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak Syarif Usmulyono.
Ia menyebut, untuk mengantisipasi lonjakan volume sampah tersebut, pihaknya akan menyiagakan petugas hingga malam lebaran.
Pada malam takbiran, ia mengimbau masyarakat untuk membuang sampah paling lambat hingga pukul 03.00 dini hari agar seluruh sampah dapat segera diangkut sebelum petugas melaksanakan salat Idulfitri.
“Dengan begitu kami pastikan tidak ada sampah yang tertinggal di jalan maupun di Tempat Penampungan Sementara,” jelasnya, Minggu (15/3/2026).
Saat ini, Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak memiliki sebanyak 42 unit armada pengangkut sampah. Dengan adanya peningkatan volume sampah menjelang Lebaran, pihaknya juga menyiapkan tambahan kapasitas armada untuk mengantisipasi lonjakan tersebut.
“Kami mohon dukungan masyarakat agar upaya menjaga kebersihan Kota Pontianak dapat berjalan dengan baik,” ujar Syarif Usmulyono.
Selain menyiagakan armada pengangkut sampah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak juga mengerahkan seluruh petugas kebersihan untuk tetap bekerja secara maksimal selama momentum Lebaran. Para petugas dijadwalkan bekerja secara bergiliran agar pelayanan pengangkutan sampah tetap berjalan lancar, terutama di kawasan permukiman padat penduduk dan pusat aktivitas masyarakat.
Ia menambahkan, peningkatan volume sampah umumnya dipicu oleh meningkatnya aktivitas masyarakat menjelang Hari Raya Idulfitri, seperti kegiatan belanja kebutuhan rumah tangga, pembersihan rumah, hingga aktivitas memasak.
“Biasanya menjelang Lebaran terjadi peningkatan sampah rumah tangga, terutama dari sisa kemasan makanan, plastik, dan limbah dapur. Karena itu kami mengoptimalkan jadwal pengangkutan agar tidak terjadi penumpukan sampah,” katanya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk ikut berperan aktif menjaga kebersihan lingkungan dengan cara membuang sampah pada tempatnya serta mematuhi jadwal pembuangan sampah yang telah ditetapkan. Menurutnya, partisipasi masyarakat sangat penting agar pengelolaan sampah di Kota Pontianak dapat berjalan efektif.
Selain itu, pihaknya juga mengingatkan warga agar tidak membuang sampah sembarangan, terutama ke parit dan saluran air, karena dapat menyebabkan penyumbatan yang berpotensi menimbulkan genangan air ketika hujan turun.
“Menjaga kebersihan kota bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab kita bersama. Dengan kerja sama antara petugas dan masyarakat, kami berharap suasana Kota Pontianak tetap bersih dan nyaman selama perayaan Idulfitri,” pungkasnya. (*)
Senyum Para Penjaga Kota, Abdullah Senang Dapat Paket Lebaran
720 Petugas Kebersihan Terima Paket Sembako dan Uang Tali Asih
PONTIANAK – Abdullah (58), satu di antara 720 petugas kebersihan, mengungkapkan rasa bahagianya setelah menerima paket lebaran dan tali asih dari dunia usaha. Paket yang diterima berupa sembako serta uang tunai sebesar Rp200 ribu itu sangat membantu bagi keluarganya dalam menghadapi Hari Raya Idulfitri.
Abdullah mengaku bersyukur atas perhatian yang diberikan kepada para petugas kebersihan yang setiap hari bekerja menjaga kebersihan kota.
“Saya sangat senang dan bersyukur bisa menerima bantuan ini. Terima kasih kepada Pemerintah Kota dan para donatur yang telah memperhatikan kami,” lirihnya usai menerima paket bantuan di halaman Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak, Sabtu (14/3/2026).
Pria yang telah bekerja sebagai petugas kebersihan selama sekitar tujuh tahun ini mengatakan, aktivitas kerjanya dimulai sejak dini hari. Ia biasanya sudah turun ke lapangan untuk membersihkan jalan pada pukul empat hingga lima pagi.
“Biasanya saya mulai bekerja sekitar pukul empat atau lima pagi untuk membersihkan jalan, terutama di tepi-tepi jalan,” ujarnya.
Meski demikian, Abdullah mengaku pekerjaan tersebut juga memiliki tantangan tersendiri. Salah satunya saat arus lalu lintas sedang padat sehingga menyulitkan dirinya untuk menyapu jalan dengan leluasa.
“Kesulitannya kalau arus lalu lintas padat, jadi tidak begitu leluasa untuk menyapu jalan,” katanya.
Sementara itu, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, mengatakan bantuan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Pemerintah Kota Pontianak dan sejumlah pihak dari dunia usaha.
Menurutnya, bantuan berasal dari beberapa pihak di antaranya Bank Kalbar, Yayasan Kharitas Bakti, PT Wilmar serta Telkom Indonesia. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi 720 petugas kebersihan yang selama ini bekerja menjaga kebersihan fasilitas umum di Kota Pontianak.
“Mudah-mudahan bantuan ini dapat membantu para petugas, terutama menjelang Idulfitri. Bantuan yang diberikan berupa paket sembako serta uang tali asih yang diharapkan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan Lebaran,” tuturnya.
Ia menilai peran berbagai pihak yang terlibat dalam program tersebut sangat besar dalam mendukung kebersihan kota.
“Perannya sangat besar. Kita bisa melihat sendiri bahwa Kota Pontianak tetap bersih dan terjaga. Itu yang paling penting. Kita terus berkolaborasi untuk meningkatkan kualitas kebersihan kota, tidak hanya sekadar bersih, tetapi juga memperhatikan keindahan lingkungan,” pesannya.
Edi juga mengungkapkan bahwa selama bulan Ramadan terjadi peningkatan volume sampah di Kota Pontianak. Jika pada hari biasa volume sampah berkisar antara 350 hingga 440 ton per hari, maka pada bulan Ramadan jumlahnya meningkat sekitar 20 persen.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Pontianak menambah jam kerja petugas kebersihan serta armada pengangkut sampah.
“Petugas kebersihan bekerja lembur dan jumlah armada pengangkut sampah juga ditambah agar penanganannya tetap optimal,” terangnya.
Ia juga menyampaikan pesan kepada para petugas kebersihan agar tetap bertugas menjelang Hari Raya Idulfitri sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
“Walaupun menjelang Lebaran, tetap ada petugas yang harus piket. Kami berharap kebersihan Kota Pontianak tetap terjaga. Kita juga mendoakan agar para petugas selalu diberikan kesehatan dalam menjalankan tugasnya,” ucap Edi.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak Syarif Usmulyono, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada para donatur yang telah memberikan perhatian kepada para petugas kebersihan.
Ia mengatakan, jumlah donatur yang terlibat tahun ini cukup banyak, di antaranya Bank Kalbar, PT Wilmar, Yayasan Kharitas Bakti dan Telkom. Menurutnya, dukungan tersebut menunjukkan adanya apresiasi dari berbagai pihak terhadap kerja keras para petugas kebersihan yang selama ini menjaga kebersihan Kota Pontianak.
“Bantuan ini mungkin tidak besar secara nominal, tetapi bentuk perhatian ini sangat berarti bagi para petugas kami,” ungkapnya.
Saat ini, lanjutnya, terdapat sebanyak 720 petugas kebersihan yang bertugas di lapangan untuk menangani persoalan sampah dan menjaga kebersihan kota.
Ia juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi menjaga kebersihan dengan disiplin membuang sampah sesuai tempat dan jadwal yang telah ditentukan.
“Yang kami harapkan dari masyarakat adalah kedisiplinan dalam membuang sampah sesuai tempat dan jadwal yang sudah ditetapkan,” tukasnya.
Direktur Pemasaran dan Unit Usaha Syariah Bank Kalbar, Yuse Chaidi Amzar, mengatakan, pihaknya menyerahkan bantuan berupa uang tali asih dengan jumlah total Rp144 juta, yang kemudian disalurkan kepada 720 petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU), masing-masing menerima Rp200 ribu. Menurutnya, bantuan itu merupakan bentuk kepedulian perusahaan kepada para pekerja yang selama ini berperan menjaga kebersihan kota.
“Program ini sudah berjalan cukup lama dan rutin kami lakukan setiap tahun, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri,” sebutnya.
Ia menjelaskan bantuan tersebut juga menjadi bagian dari dukungan Bank Kalbar terhadap program kebersihan yang dijalankan Pemerintah Kota Pontianak.
Menurutnya, menjaga kebersihan kota membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, baik pemerintah, perusahaan, maupun masyarakat.
“Pemerintah kota tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada sinergi dengan berbagai pihak untuk bersama-sama menjaga kebersihan Kota Pontianak,” pungkasnya. (prokopim)
Lingkungan Kerja Bersih Pengaruhi Produktivitas ASN
ASN Gotong Royong Bersihkan Lingkungan Kantor Wali Kota
PONTIANAK - Seluruh ASN di lingkungan Kantor Wali Kota Pontianak tampak sibuk. Ada yang memungut sampah, membersihkan tanaman liar, saluran hingga merapikan ruangan kerja. Aktivitas tersebut rutin dilaksanakan setiap pekan di hari Jumat. Korve atau gotong royong merupakan arahan Presiden yang mewajibkan ASN untuk menjaga kebersihan, disiplin dan tanggung jawab. Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap Jumat pagi ini dinilai mampu meningkatkan kenyamanan sekaligus kinerja aparatur sipil negara (ASN).
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, menegaskan bahwa kegiatan korve merupakan bagian dari upaya menciptakan budaya kerja yang bersih dan tertata. Selain mendukung program pemerintah pusat, kegiatan tersebut juga menjadi komitmen daerah dalam membangun lingkungan kerja yang sehat.
“Kita memang sudah rutin setiap hari Jumat pagi gotong royong membersihkan lingkungan kerja, mulai dari ruang kerja sampai halaman kantor,” ujarnya saat meninjau langsung sejumlah ruangan di Kantor Wali Kota, Jumat (27/2/2026).
Hasil dari peninjauan ke sejumlah ruangan, ia masih menemukan beberapa ruang kerja yang kurang tertata rapi. Debu terlihat menumpuk di sejumlah sudut ruangan, arsip lama yang sudah tidak diperlukan masih tersimpan, hingga kabel internet yang tidak lagi digunakan namun belum dirapikan.
“Masih banyak debu, masih berantakan, masih ada arsip-arsip yang sebenarnya tidak perlu lagi dipertahankan. Kabel-kabel, terutama kabel internet yang sudah mati, ini harus dibersihkan,” tegasnya.
Menurutnya, kebersihan ruang kerja berpengaruh langsung terhadap suasana dan produktivitas kerja ASN. Lingkungan yang bersih dan rapi akan menciptakan kenyamanan sehingga berdampak positif terhadap kinerja.
“Kalau suasana kerja bersih, kinerja juga meningkat. Ini juga mencerminkan bagaimana kita mau menjadikan Pontianak sebagai kota yang bersih kalau lingkungan kerja sendiri tidak bersih, tentu sulit mewujudkan itu,” katanya.
Edi pun mengimbau seluruh ASN di lingkungan Pemerintah Kota Pontianak untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan, tidak hanya di kantor tetapi juga di lingkungan rumah dan kota secara keseluruhan.
“Saya minta ASN lebih peduli dengan ruang kerjanya, lingkungan kantornya, lingkungan rumahnya, dan kotanya. Sebagai abdi dan pelayan masyarakat, kita harus menunjukkan kepedulian yang tinggi,” pesannya.
Margaretha, salah satu ASN yang ikut serta dalam korve, mendukung penuh pelaksanaan korve rutin setiap Jumat pagi. Ia menilai kegiatan gotong royong tidak hanya membuat lingkungan kerja menjadi lebih bersih, tetapi juga mempererat kebersamaan antar pegawai.
“Dengan korve seperti ini, kami jadi lebih peduli terhadap kebersihan ruang kerja masing-masing. Suasana kantor terasa lebih nyaman dan rapi, sehingga kami juga lebih semangat dalam bekerja,” tuturnya.
Menurut Margaretha, kegiatan bersih-bersih bersama juga menjadi pengingat bagi ASN untuk tidak menunda penataan arsip maupun perlengkapan kerja yang sudah tidak digunakan. Ia berharap kegiatan tersebut terus dipertahankan sebagai bagian dari budaya kerja di lingkungan Pemerintah Kota Pontianak.
“Kalau lingkungan kerja bersih dan tertata, kami yang bekerja di dalamnya juga merasa lebih fokus dan produktif. Ini tanggung jawab bersama,” tutupnya. (prokopim/kominfo)
Pontianak Perkuat Ketangguhan Hadapi Bencana Berbasis Air
PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak terus memperkuat langkah dalam mewujudkan kota yang tangguh menghadapi bencana berbasis air. Sebagai kota delta yang disatukan oleh Sungai Kapuas dan Sungai Landak, Pontianak memiliki karakter geografis yang unik sekaligus penuh tantangan. Dengan topografi yang datar dan elevasi rata-rata hanya berkisar 0,8 hingga 1,5 meter di atas permukaan laut, kota ini sangat rentan terhadap genangan, terutama ketika hujan ekstrem terjadi bersamaan dengan pasang sungai.
Kepala Bidang Riset dan Inovasi (RIDA) BAPPERIDA Pontianak, Eko Prihandono menegaskan bahwa air bukan sekadar persoalan infrastruktur, tetapi bagian dari identitas kota yang harus dikelola secara cerdas dan berkelanjutan. Menurutnya, sejak awal berdiri, Pontianak telah hidup berdampingan dengan air.
"Tantangan yang dihadapi saat ini adalah bagaimana menjadikan air sebagai bagian dari sistem kota yang adaptif, bukan ancaman yang berulang setiap musim hujan," ujar Eko Prihandono ketika menjadi narasumber dalam diskusi program Resilient Indonesian Slums Envisioned (RISE) di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).
Berdasarkan studi terbaru tentang perkembangan skenario bahaya banjir Kota Pontianak, menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah kota rawan genangan. Bahkan dalam simulasi 50 tahun mendatang, banjir dengan kedalaman lebih dari 0,5 meter diproyeksikan meningkat hingga 17 persen apabila tidak ada intervensi serius.
Kondisi ini dapat diperparah apabila terjadi penurunan muka tanah, hilangnya lahan resapan akibat ekspansi permukiman, serta fenomena banjir gabungan antara curah hujan tinggi dan pasang sungai.
Eko menekankan bahwa persoalan ini menjadi prioritas pembangunan. Pemerintah kota telah melakukan berbagai langkah mulai dari pemeliharaan dan normalisasi drainase, operasional pompa dan pintu air, hingga interkoneksi saluran primer, sekunder, dan tersier. Saat ini, total jaringan drainase Kota Pontianak mencapai lebih dari 604 ribu meter yang berfungsi mengalirkan limpasan air hujan dan air pasang.
"Kami juga memanfaatkan pompa banjir dan Bapak Wali Kota menggencarkan kegiatan gotong-royong tiap bulan di enam kecamatan. Ini menjadi bagian dari upaya jangka pendek dan menengah," ujar Eko Prihandono.
Di sisi lain, pendekatan infrastruktur hijau juga diperkuat melalui perluasan ruang terbuka hijau, restorasi lahan basah dan gambut, serta rencana pengembangan area kota multifungsi yang mampu menampung air saat hujan besar. Ia menyebut bahwa mengembalikan ruang bagi alam menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan kota.
Upaya tersebut tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga kolaboratif. Pemerintah Kota Pontianak telah menggandeng akademisi, lembaga riset, komunitas, dan sektor swasta dalam menyusun strategi adaptasi iklim. Rencana Aksi Iklim telah disusun, dan isu keberlanjutan dimasukkan sebagai prioritas dalam dokumen perencanaan pembangunan jangka menengah dan panjang daerah. Program 100 hari kerja wali kota dan wakil wali kota juga difokuskan pada normalisasi saluran dan penguatan kesadaran masyarakat untuk menjaga parit serta tidak membuang sampah sembarangan.
Menurutnya, ketangguhan kota tidak semata diukur dari besar kecilnya proyek infrastruktur, tetapi dari kesadaran kolektif warganya. Pontianak yang dijuluki “Kota Seribu Parit” memiliki sejarah panjang adaptasi terhadap air. Namun perubahan tata ruang dan pertumbuhan penduduk menuntut pendekatan yang lebih terintegrasi dan berbasis ilmu pengetahuan.
“Air adalah identitas Pontianak. Kita harus memastikan bahwa generasi mendatang tetap bisa hidup aman dan selaras dengan air. Ketangguhan kota bukan hanya soal membangun tanggul atau pompa, tetapi tentang kolaborasi pemerintah dan warga dalam menjaga akses air, kesehatan, dan masa depan kota,” pungkasnya. (prokopim)