,
menampilkan: hasil
Aila Afifah Asal Pontianak Jadi Calhaj Termuda di Indonesia
PONTIANAK - Aila Afifah (13 tahun) asal Kota Pontianak menjadi jemaah calon haji termuda di Indonesia. Siswa kelas VI SD LKIA Pontianak Selatan ini akan berangkat ibadah haji bersama ayah dan bibinya.
"Saya senang bisa doakan ibu di sana," ujarnya saat Manasik Haji Terintegrasi Kota Pontianak di Aula Masjid Raya Mujahidin, Selasa (14/4/2026) pagi.
Aila berangkat menggantikan ibundanya yang meninggal beberapa waktu lalu. Bersama 1.508 jemaah calon haji lain, ia akan bertolak ke tanah suci di awal Mei. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya yang hanya di angka 619 jemaah.
“Ini luar biasa. Tahun ini jemaah haji Kota Pontianak mencapai 1.508 orang. Yang perempuan bahkan lebih banyak dari laki-laki,” kata Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono saat membuka manasik haji.
Jika dirinci, dari jumlah tersebut, 843 orang merupakan perempuan dan 665 orang laki-laki. Jemaah tertua tahun ini berusia 83 tahun, sedangkan yang termuda berusia 13 tahun.
"Ini menunjukkan antusiasme masyarakat Pontianak untuk menunaikan rukun Islam kelima sangat tinggi," sebutnya.
Kepada para jemaah, Wali Kota berpesan untuk tetap optimis, menjaga kesehatan, dan memperkuat mental selama menjalankan rangkaian ibadah haji. Apalagi jemaah telah melalui proses panjang. Dimulai dari niat, pendaftaran, hingga berbagai tahapan persiapan sebelum puncak ibadah di Arafah. Karena itu, para jemaah diminta meyakini bahwa kesempatan menunaikan ibadah haji adalah anugerah besar dari Allah SWT.
“Bapak-Ibu harus optimis. Dengan keyakinan itu, kita percaya apa yang kita lakukan diridai Allah SWT. Ini adalah proses panjang menuju puncaknya nanti di wukuf di Arafah,” imbuhnya.
Ia mengatakan tidak semua orang memperoleh kesempatan yang sama untuk berangkat haji pada waktu yang sama. Karena itu, para jemaah diminta mensyukuri kesempatan tersebut dan menyiapkan diri sebaik mungkin, baik secara fisik maupun spiritual. Ia menekankan bahwa haji bukan sekadar ritual, melainkan perjalanan menata hati yang membutuhkan kesabaran, kekuatan mental, serta kondisi fisik yang prima.
“Yang paling penting adalah menjaga kesehatan, karena puncaknya nanti di Arafah. Selain itu, mental juga harus kuat dan sabar, karena jutaan orang dari seluruh dunia berkumpul di sana dengan cuaca yang panas,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan para jemaah untuk mengikuti seluruh rangkaian pembinaan dan program dari Kementerian Agama, baik di tingkat kota maupun provinsi, agar perjalanan ibadah berjalan lancar hingga kembali ke tanah air. Menutup sambutannya, Wali Kota meminta para jemaah untuk turut mendoakan Kota Pontianak agar senantiasa diberikan keberkahan, kedamaian, dan kemajuan.
“Jangan lupa doakan Kota Pontianak juga. Mudah-mudahan seluruh jemaah diberikan kesehatan, kelancaran, dan pulang menjadi haji yang mabrur,” tutupnya.
Kepala Kementerian Haji dan Umrah Perwakilan Kota Pontianak Muslimin menjelaskan jumlah jemaah tahun ini memang meningkat dari tahun sebelumnya. Kuota jemaah tersebut telah dibagi untuk masing-masing kabupaten kota sejak awal penetapan.
"Biasa kami kendala paspor jemaah, tapi tahun ini tidak ada kendala hingga tenggat waktunya," pungkasnya. (prokopim)
63 Pahlawan Kemanusiaan Terima Penghargaan dari PMI Pontianak
PONTIANAK – Sebanyak 63 pahlawan kemanusiaan yang telah lebih dari 100 kali berdonor menerima penghargaan dari Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Pontianak. Mereka diganjar pin emas sebagai tanda perhormatan dan kenang-kenangan. Tentu hal itu tak setimpal dengan apa yang telah mereka lakukan. Sebab, untuk bisa mencapai 100 kali donor, gaya hidup sehat itu pasti telah bertahan antara 25 sampai 30 tahun.
Salah seorang pendonor, Zulfydar Zaidar bercerita ia mulai berdonor ketika kuliah di Jakarta pada tahun 1990-an. Di tengah kehidupan mahasiswa yang serba terbatas, ia menghadapi situasi yang membekas kuat dalam ingatan; seorang seniornya membutuhkan bantuan karena istrinya sakit dan memerlukan darah.
“Kalau saya boleh cerita, saya mulai donor karena ada orang yang membutuhkan donor,” ujarnya dalam Penyerahan Penghargaan dan Halalbihalal PMI Kota Pontianak di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Senin (13/4/2026).
Ia mengaku, pertama kali donor darah bukanlah hal yang mudah. Ada rasa takut, ngeri. Namun di balik rasa takut itu, ia justru menemukan pertanyaan yang lebih besar dalam dirinya. Bagaimana membantu orang lain di saat dirinya sendiri juga hidup pas-pasan.
Saat itu, hidupnya sebagai mahasiswa di Jakarta jauh dari kata mewah. Kiriman dari orang tua, hanya sekitar Rp400 ribu per bulan. Ia harus kuliah pagi, lalu bekerja di malam hari demi bertahan hidup. Dalam keterbatasan itulah, ia menyadari bahwa membantu orang tidak selalu harus dengan uang.
Donor darah baginya berubah makna. Ia melihat bahwa darah yang mengalir dalam tubuh setiap orang adalah pemberian dari orang tua, hasil dari kasih sayang, pengasuhan, dan rezeki yang selama ini diterima. Ketika darah itu didonorkan, ia bukan hanya berpindah dari satu tubuh ke tubuh lain, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan orang lain yang sedang diperjuangkan.
“Kalau kita bicara amal jariyah, ini mengalir terus, tidak putus-putusnya. Membantu orang tidak putus-putusnya,” ucap anggota DPRD Provinsi Kalbar tersebut.
Karena itulah, Zulfydar terus menjaga semangat itu hingga hari ini. Bukan hanya karena donor bermanfaat bagi kesehatan pendonor, tetapi juga karena di ujung sana selalu ada orang yang membutuhkan, orang yang mungkin sedang menunggu kesempatan untuk hidup lebih lama.
Cerita Zulfidar selaras dengan apa yang disampaikan Wali Kota Pontianak, yang juga Ketua PMI Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono. Menurutnya, para pendonor adalah pahlawan kemanusiaan. Sebab yang mereka lakukan merupakan bentuk aksi nyata penyelamatan jiwa.
"Secara akumulatif, seorang pendonor 100 kali telah menyumbang sekitar 30 liter darah. Diperkirakan telah menolong dan menyelamatkan 100 hingga 200 jiwa," katanya.
Saat ini, kebutuhan darah di Kota Pontianak masih tergolong tinggi. Dalam sehari, kebutuhan darah rata-rata mencapai 100 hingga 150 kantong, sementara ketersediaan rutin yang dapat dipenuhi berkisar antara 70 sampai 100 kantong per hari. Jumlah pendonornya di tahun 2025 mencapai 21.644 orang, dengan 86,3 persennya merupakan pendonor sukarela, dan 13,6 persennya pendonor pengganti.
"Kekurangan stok darah selama ini diatasi dengan menghubungi para pendonor yang datanya sudah dimiliki PMI, termasuk sukarelawan maupun keluarga pasien yang sedang membutuhkan darah dalam kondisi mendesak," sebutnya.
Ia mengakui PMI Kota Pontianak masih memiliki berbagai keterbatasan dalam memberikan pelayanan, baik dari sisi teknis maupun administrasi. Karena itu, pihaknya terus berupaya melakukan pembenahan, termasuk memenuhi sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
Salah satu hal yang tengah diupayakan PMI, adalah penyediaan lahan untuk pembangunan laboratorium tersendiri. Hal itu penting karena standar akreditasi dari pemerintah pusat mensyaratkan agar pelayanan donor darah dipisahkan dengan laboratorium.
“Nah ini sedang kita usahakan ke depan untuk kita bangun laboratorium tersendiri,” jelasnya.
Edi juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada para pendonor yang telah berkontribusi bagi kemanusiaan. Ia menilai dedikasi mereka tidak dapat dibalas dengan kata-kata.
“Saya tidak bisa lagi berkata-kata membalas Bapak-Ibu atas jasa kemanusiaan ini. Tidak ada kata-kata yang bisa diucapkan selain mudah-mudahan Bapak-Ibu diberikan kesehatan dan pahala yang setimpal,” ungkapnya.
Edi menambahkan, penghargaan berupa pin emas yang diberikan kepada pendonor 100 kali menjadi simbol ucapan terima kasih dari warga yang pernah tertolong oleh darah yang didonorkan. Ia menilai setiap tetes darah yang disumbangkan telah membantu menyelamatkan nyawa banyak orang, baik pasien operasi, korban kecelakaan, maupun mereka yang membutuhkan penanganan cepat.
“Pin emas ini membuktikan bahwa saya mewakili warga yang telah mendapatkan darah dari Bapak-Ibu selama ini, yang telah terselamatkan. Mudah-mudahan ini menjadi amal jariah yang terus mengalir sepanjang masa,” pungkasnya. (prokopim)
Launching RBM Kalbar, Pemkot Siap Bersinergi Dukung Program Sosial
PONTIANAK – Kehadiran Yayasan Rumah Bunda Mulia (RBM) di Kalimantan Barat (Kalbar) sebagai lembaga sosial memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat.
Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengatakan, keberadaan RBM diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam membantu anak-anak yatim piatu, khususnya di Kota Pontianak dan Kalbar secara umum. Menurutnya, lembaga sosial seperti RBM memiliki peran strategis dalam mendukung upaya pemerintah di bidang kesejahteraan sosial.
“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kota Pontianak, kami mendukung sepenuhnya launching RBM Kalbar sekaligus pelantikan pengurusnya. Semoga RBM dapat terus eksis dan memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama anak-anak yatim piatu,” ujarnya saat melaunching Yayasan RBM yang dirangkaikan dengan pelantikan Pengurus RBM Wilayah Kalbar di Aula Rumah Dinas Wakil Wali Kota, Minggu (12/4/2026).
Ia menyatakan dukungan penuh terhadap kehadiran Yayasan RBM di Kalimantan Barat. Di tengah keterbatasan pemerintah dalam menjangkau seluruh kebutuhan sosial masyarakat, kehadiran organisasi sosial seperti Yayasan RBM dinilai sangat membantu dalam memperluas jangkauan pelayanan kemanusiaan.
“Kami tentu tidak bisa bekerja sendiri. Kehadiran yayasan seperti RBM ini sangat membantu dalam mendukung upaya sosial kemasyarakatan,” katanya.
Bahasan juga berharap RBM dapat terus berkembang dan menjalin sinergi dengan berbagai pihak, baik organisasi di tingkat kota maupun provinsi. Dengan kolaborasi yang baik, program-program yang dijalankan diyakini akan lebih optimal dan tepat sasaran.
“Ke depan, Pemerintah Kota Pontianak akan terus membersamai kegiatan-kegiatan positif seperti ini. Kami berharap adanya sinergi yang kuat agar seluruh program RBM dapat berjalan maksimal,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan RBM Pusat, Hj Latifah, mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mendukung dan mencintai RBM sebagai wadah pemberdayaan perempuan.
Ia menegaskan, RBM akan terus bergerak memuliakan kaum perempuan, mengangkat harkat dan martabat mereka, serta melahirkan perempuan-perempuan tangguh di tengah masyarakat.
“Kami berharap akan lahir generasi-generasi hebat di Kalimantan Barat, seperti teladan para ulama yang tumbuh dan berkembang di daerah ini,” ungkapnya.
Latifah juga mengaku bahagia atas kehadiran berbagai tokoh dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, dukungan para tokoh menjadi energi positif sekaligus pembimbing bagi perjalanan organisasi ke depan.
Ia menambahkan, sinergi dengan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kota Pontianak, diharapkan dapat terus diperkuat dalam upaya memuliakan umat dan membangun masyarakat yang lebih baik.
“Dengan nilai-nilai Al-Qur’an dan hadirnya generasi penghafal Al-Qur’an, kami yakin Kalimantan Barat akan menjadi daerah yang diberkahi,” tuturnya.
Launching Yayasan RBM turut dihadiri sejumlah tokoh dan undangan dari berbagai unsur masyarakat, sekaligus menjadi momentum awal bagi RBM Kalbar dalam menjalankan berbagai program sosial dan pemberdayaan di tengah masyarakat. (prokopim)
Wako Serahkan Bantuan Darurat bagi Korban Kebakaran Parwasal
PONTIANAK - Peristiwa kebakaran yang terjadi pada Rabu (25/3/2026) malam di Jalan Parwasal Kelurahan Siantan Tengah Kecamatan Pontianak Utara, menyisakan puing-puing reruntuhan dari enam bangunan rumah milik warga.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono meninjau langsung ke lokasi kebakaran sekaligus menyerahkan bantuan darurat bagi warga yang terdampak. Sejumlah bantuan seperti kasur, peralatan masak, selimut, makanan siap saji serta kelengkapan dokumen kependudukan diserahkan bagi korban kebakaran.
Edi menjelaskan bahwa berdasarkan informasi yang dihimpun dari masyarakat maupun pihak kepolisian, sebagian besar kejadian kebakaran di Kota Pontianak disebabkan oleh korsleting listrik.
“Umumnya, dari beberapa kejadian yang saya tanyakan, baik langsung ke masyarakat maupun melalui.kepolisian, indikasi sementara penyebabnya adalah korsleting listrik,” ujarnya usai menyerahkan bantuan, Kamis (26/3/2026).
Ia terus mengimbau masyarakat untuk rutin mengontrol dan memeriksa instalasi listrik di rumah masing-masing. Selain itu, masyarakat juga diminta melibatkan pihak yang berkompeten, seperti PLN atau instalatir listrik, untuk mengecek kondisi meteran, daya, hingga MCB agar kejadian serupa tidak terulang.
Menurutnya, kondisi bangunan di Pontianak yang sebagian masih menggunakan material kayu, termasuk rangka atap, serta cuaca kering, membuat bangunan sangat mudah terbakar.
“Api cepat sekali membesar. Walaupun banyak bantuan dari pemadam kebakaran, termasuk swasta yang jumlahnya lebih dari 45 unit, namun sering kali kalah cepat dengan besarnya api,” jelasnya.
Tercatat sedikitnya enam rumah terdampak dari musibah kebakaran Jalan Parwasal. Meski saat kejadian air sedang pasang sehingga sumber air tersedia, besarnya api tetap sulit dikendalikan.
Pemerintah Kota Pontianak pun mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam penggunaan instalasi listrik di rumah tangga, guna meminimalisir risiko kebakaran yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Sementara itu, satu di antara korban kebakaran, Wakil (44), pemilik bengkel motor, mengungkapkan harapannya agar bantuan dari berbagai pihak dapat meringankan beban yang dialaminya pasca kejadian tersebut.
“Dengan adanya bantuan ini, mudah-mudahan bisa membantu kami yang sedang tertimpa musibah seperti ini. Kami sangat berharap bantuan dari semua pihak bisa meringankan beban kami,” lirihnya.
Ia menuturkan, bengkel yang terbakar tersebut sebenarnya masih berstatus sewa dan baru dijalankannya sekitar enam bulan terakhir. Namun, usaha yang baru dirintis itu harus terhenti akibat kebakaran.
“Bengkel ini sebenarnya masih sewa. Baru sekitar enam bulan saya mulai usaha di sini, tapi sudah terkena musibah kebakaran,” tuturnya.
Terkait peristiwa kebakaran, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti sumber api. Saat kejadian, api tiba-tiba muncul dan membuat warga panik.
“Kejadian api itu kami juga tidak tahu penyebabnya dari mana. Tiba-tiba saja sudah ada api, dan semua langsung panik. Saat kejadian, kebanyakan orang berada di luar, meskipun ada juga yang masih di dalam. Posisi api berada di samping bengkel kami,” jelasnya.
Akibat kebakaran tersebut, seluruh peralatan bengkel hangus terbakar, termasuk kendaraan milik pelanggan yang tengah diperbaiki.
“Di bengkel ini, alat-alat kerja habis terbakar, termasuk motor-motor milik pelanggan. Ada sekitar empat unit motor yang sedang diservis, sebagian sudah selesai, tapi belum sempat diambil oleh pemiliknya,” katanya.
Ia menambahkan, saat kejadian dirinya sempat menyelamatkan satu unit sepeda motor sebelum api membesar dan sulit dikendalikan.
“Saat kejadian, saya sempat menyelamatkan satu unit motor. Setelah itu sudah tidak bisa lagi, karena api semakin besar. Jadi yang bisa diselamatkan hanya satu motor saja,” sebutnya.
Wakil memperkirakan total kerugian akibat kebakaran tersebut mencapai lebih dari Rp100 juta, bahkan bisa menembus Rp200 juta. Saat ini, ia bersama keluarga terpaksa tinggal sementara di sekitar lokasi karena bengkel tersebut juga difungsikan sebagai tempat tinggal.
“Untuk kerugian diperkirakan bisa mencapai lebih dari Rp100 juta, bahkan mungkin sampai Rp200 juta. Saat ini saya sementara tinggal bersama keluarga di sekitar sini, karena bengkel ini juga sekaligus tempat tinggal,” ucapnya.
Ia berharap adanya perhatian dari pemerintah untuk membantu dirinya bangkit kembali pasca kebakaran. Untuk sementara waktu, ia mengaku hanya bekerja serabutan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Saya berharap ada perhatian dari pemerintah untuk membantu kami bangkit kembali. Saat ini saya hanya bekerja serabutan,” tuturnya.
Meski mengalami kerugian besar, ia bersyukur seluruh anggota keluarganya selamat dalam peristiwa tersebut.
“Untuk kondisi keluarga, alhamdulillah semuanya dalam keadaan aman,” terangnya.
Ia mengaku sangat terpukul atas musibah yang menimpanya, terlebih usaha tersebut merupakan satu-satunya sumber penghidupan bagi dirinya dan keluarga.
“Perasaan saya tentu sangat terpukul. Usaha yang baru dirintis harus habis begitu saja. Ini satu-satunya mata pencaharian saya,” pungkasnya. (prokopim)