,
menampilkan: hasil
Zakat Perkuat Solidaritas dan Atasi Ketimpangan Sosial
Baznas Pontianak Gelar Rakorda IX UPZ Masjid dan Surau se-Kota Pontianak
PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak menegaskan peran strategis zakat sebagai instrumen sosial dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat dan mengurangi ketimpangan sosial. Hal tersebut disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Pontianak, Ismail, saat membuka Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) IX Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Masjid dan Surau se-Kota Pontianak. Rakorda IX ini mengusung tema “Zakat Menguatkan Indonesia” ini digelar di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Pontianak, Sabtu (7/2/2026).
Ismail menilai tema Rakorda sangat relevan dengan kondisi bangsa saat ini. Menurutnya, zakat tidak hanya bernilai ibadah individual, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang kuat dalam membangun persatuan dan kesejahteraan umat.
“Zakat bukan hanya membersihkan harta, tetapi juga menghadirkan keadilan sosial, memperkuat solidaritas, serta menjadi solusi dalam mengatasi kemiskinan dan ketimpangan sosial,” ujarnya.
Ia menjelaskan, visi pembangunan jangka menengah Pemerintah Kota Pontianak, yakni “Pontianak Maju, Sejahtera, Berwawasan Lingkungan yang Humanis”, menempatkan kesejahteraan masyarakat dan nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama. Dalam konteks tersebut, zakat dinilai memiliki peran yang sangat strategis.
Ismail juga menekankan peran UPZ masjid dan surau sebagai garda terdepan dalam membumikan nilai-nilai zakat di tengah masyarakat. Melalui pengelolaan yang profesional, transparan, dan akuntabel, zakat diharapkan tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi mampu mendorong kemandirian ekonomi mustahik.
“Melalui pengelolaan zakat yang baik, kita tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar mustahik, tetapi juga mendorong mereka menjadi insan yang mandiri, produktif, dan berdaya saing,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebut masjid dan surau memiliki peran strategis bukan hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga sebagai pusat peradaban, pendidikan moral, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat. Optimalisasi zakat, infak, dan sedekah akan memperkuat fungsi masjid sebagai simpul kesejahteraan sosial dan penguatan karakter masyarakat.
Dalam kesempatan itu, Ismail mengajak seluruh pengurus UPZ untuk terus meningkatkan sinergi dengan BAZNAS, pemerintah daerah, dan seluruh elemen masyarakat. Ia juga mendorong penguatan tata kelola zakat berbasis digital serta peningkatan literasi zakat di tengah umat.
“Zakat harus kita dorong agar tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga transformatif dan berkelanjutan melalui program-program pemberdayaan ekonomi produktif,” ungkapnya.
Ismail menyampaikan apresiasi kepada seluruh pengurus UPZ, BAZNAS, tokoh agama, dan masyarakat yang telah berperan aktif mengelola zakat umat dengan penuh keikhlasan.
“Semoga Rakorda IX ini menghasilkan rumusan kebijakan dan langkah strategis untuk memperkuat peran zakat dalam mewujudkan masyarakat Pontianak yang sejahtera dan humanis, sekaligus berkontribusi nyata dalam menguatkan Indonesia,” imbuhnya.
Ketua Baznas Kota Pontianak Sulaiman, menambahkan, Rakorda menjadi momentum strategis untuk menyamakan persepsi dan memperkuat peran UPZ Masjid dan Surau dalam mendukung pengelolaan zakat yang profesional, transparan dan akuntabel.
“UPZ Masjid dan Surau merupakan ujung tombak pengumpulan zakat di tengah masyarakat. Melalui Rakorda ini, kami ingin memastikan pengelolaan zakat berjalan sesuai regulasi serta memberi dampak nyata bagi kesejahteraan umat,” sebutnya.
Ia menuturkan, Baznas Kota Pontianak terus mendorong peningkatan kapasitas pengurus UPZ, baik dari sisi administrasi, pelaporan, maupun pemahaman regulasi zakat. Hal ini penting agar pengelolaan dana zakat dapat dilakukan secara tertib dan tepat sasaran.
Sulaiman bilang potensi zakat di Kota Pontianak masih sangat besar dan perlu dioptimalkan melalui kolaborasi yang kuat antara Baznas dan UPZ di tingkat masjid dan surau. Dengan pengelolaan yang baik, zakat diharapkan mampu menjadi instrumen penguatan ekonomi umat dan pengentasan kemiskinan.
Rakorda IX UPZ Masjid dan Surau se-Kota Pontianak ini juga menjadi wadah evaluasi kinerja UPZ selama setahun terakhir serta penyusunan program kerja ke depan.
“Kami berharap melalui forum ini, peran masjid dan surau tidak hanya sebagai pusat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan sosial dan ekonomi masyarakat,” tutupnya. (prokopim)
Pemkot Pontianak Dorong Masjid Berperan Aktif dalam Pembinaan Anak Panti Asuhan
PONTIANAK – Rumah ibadah tidak hanya berfungsi sebagai tempat ritual keagamaan, tetapi juga sebagai pusat pembinaan sosial dan karakter, khususnya bagi anak-anak panti asuhan. Hal tersebut disampaikan Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono saat meresmikan Masjid Al Ma’un di lingkungan Panti Asuhan Tunas Melati, Pontianak, Jumat (6/2/2026).
Edi menekankan, keberadaan masjid di lingkungan panti asuhan memiliki peran strategis dalam membentuk keimanan, akhlak, serta ketahanan mental anak-anak. Menurutnya, masjid tidak cukup hanya berdiri secara fisik, tetapi harus dihidupkan dengan berbagai aktivitas yang memberi dampak nyata bagi lingkungan sekitarnya.
“Masjid di lingkungan panti asuhan harus menjadi tempat yang ramah bagi anak-anak, tempat mereka belajar nilai agama, membangun karakter, dan mendapatkan pendampingan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menyampaikan, Pemerintah Kota Pontianak akan terus memberikan dukungan terhadap keberadaan panti asuhan, masjid, serta fasilitas pendukung lainnya sebagai bagian dari upaya membangun kualitas umat dan masyarakat.
“Pemkot Pontianak akan terus memberikan dukungan dan semangat untuk keberadaan panti asuhan dan masjid serta fasilitas lainnya demi kemajuan umat, kemajuan masyarakat, dan warga Kota Pontianak,” kata Edi yang juga selaku Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Pontianak.
Selain pembangunan sarana ibadah, Edi menilai perhatian terhadap kualitas lingkungan dan fasilitas pendukung juga menjadi hal penting. Pemerintah kota, kata dia, berkomitmen memberikan dukungan secara bertahap dan berkelanjutan agar masjid dan fasilitas sosial dapat berkembang dengan baik.
Menurutnya, pembinaan anak-anak panti asuhan tidak dapat berjalan sendiri tanpa sinergi berbagai pihak. Karena itu, dibutuhkan kolaborasi dari seluruh pihak.
“Perlu kolaborasi antara pemerintah, pengelola panti, pengurus masjid, dan masyarakat sekitar agar anak-anak ini tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, dan berakhlak baik,” tuturnya.
Menjelang bulan suci Ramadan, Edi mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kepedulian sosial dan mengoptimalkan peran masjid sebagai pusat kegiatan keagamaan sekaligus sosial.
“Ramadan adalah momentum untuk meningkatkan kepedulian. Masjid harus menjadi pusat penguatan nilai kemanusiaan, solidaritas, dan gerakan sosial yang memberi manfaat nyata bagi sesama,” pungkasnya.
Pemerintah Kota Pontianak berharap, keberadaan masjid di lingkungan panti asuhan dapat menjadi bagian dari ekosistem pembinaan umat yang berkelanjutan, sehingga pembangunan kota tidak hanya tercermin dari infrastruktur fisik, tetapi juga dari kualitas sumber daya manusia dan lingkungan sosial yang kuat. (prokopim)
Isra Mikraj Momentum Menguatkan Iman di Era Penuh Ujian
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan bahwa peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah harus dimaknai lebih dari sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, peristiwa agung dalam sejarah Islam tersebut merupakan momentum penting untuk menenangkan hati dan menguatkan iman di tengah berbagai tantangan kehidupan saat ini.
Hal itu disampaikan Wali Kota Pontianak saat menghadiri peringatan Isra Mikraj yang digelar bersama Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) Kota Pontianak di Aula Rumah Dinas Wali Kota Pontianak, Kamis (29/1/2026). Ia menyebut tema yang diusung, “Menenangkan Hati, Menguatkan Iman di Era Penuh Ujian”, sangat relevan dengan kondisi global dan nasional yang tengah dihadapi.
“Isra Mikraj adalah tonggak sejarah umat Islam karena di sanalah perintah salat diturunkan. Di tengah era digital saat ini, ketika arus informasi dan komunikasi begitu cepat, peringatan Isra Mikraj harus menjadi ruang refleksi untuk memperkuat keimanan dan ketenangan batin,” ujarnya.
Wali Kota menjelaskan, kondisi dunia yang masih belum stabil, bencana alam, hingga tekanan ekonomi seperti nilai tukar rupiah, turut berdampak pada kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, kebersamaan dan penguatan ukhuwah Islamiyah menjadi kunci untuk menghadapi berbagai ujian tersebut.
“Ini bukan hanya seremoni rutin tahunan. Isra Mikraj harus kita jadikan momentum untuk mempererat silaturahmi, memperkuat kebersamaan, dan meningkatkan kualitas kehidupan kita, baik sebagai individu maupun sebagai keluarga dan masyarakat,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi atas peran BKMT dalam membina majelis taklim dan menguatkan nilai-nilai keagamaan di tengah masyarakat. Pemerintah Kota Pontianak, lanjutnya, akan terus mendukung kegiatan-kegiatan keagamaan sebagai bagian dari upaya membangun karakter dan spiritualitas warga.
“Kolaborasi dan sinergi antara BKMT dan Pemerintah Kota Pontianak perlu terus dijaga. Majelis taklim memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas organisasi sekaligus kualitas keimanan masyarakat,” ungkapnya.
Menjelang datangnya bulan suci Ramadan yang tinggal beberapa pekan lagi, Wali Kota mengajak seluruh masyarakat untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin.
“Mudah-mudahan kita semua diberikan kesehatan, keberkahan di bulan Rajab ini, dan dapat melaksanakan ibadah Ramadan nanti dengan optimal,” tuturnya.
Ia berharap, melalui penguatan nilai-nilai keagamaan, Kota Pontianak senantiasa mendapatkan rahmat dan keberkahan, serta mampu mewujudkan kehidupan masyarakat yang bahagia dan sejahtera.
“Insyaallah, Pemerintah Kota Pontianak akan terus berupaya mendukung kegiatan keagamaan demi mewujudkan Pontianak sebagai kota yang religius, aman, dan harmonis,” pungkasnya.
Ketua BKMT Kota Pontianak, Yanieta Arbiastutie menyampaikan bahwa BKMT saat ini terus bertransformasi, tidak lagi hanya menjadi wadah pembinaan bagi kaum ibu, tetapi berkembang menjadi ruang kebersamaan umat yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk kaum bapak. Transformasi ini menjadi upaya BKMT untuk menjadikan organisasi tersebut sebagai rumah bersama pembinaan keimanan dan ukhuwah di Kota Pontianak. Ia menjelaskan, keterlibatan lintas unsur dalam kepengurusan BKMT merupakan langkah strategis agar pembinaan keagamaan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
"BKMT ingin hadir sebagai ruang yang inklusif, tempat menimba ilmu, mempererat silaturahmi, serta menguatkan nilai-nilai keislaman di tengah tantangan kehidupan modern," katanya. (prokopim)
Berkhidmat Tanpa Batas: Jejak Pengabdian Hasyim untuk Umat hingga Pontianak
PONTIANAK - Kepergian Ahmad Hasyim Hadrawi, pada Selasa (20/1/2026), meninggalkan duka mendalam bagi Pemerintah Kota Pontianak dan keluarga besar Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat. Almarhum bukan sekadar seorang aparatur sipil negara, tetapi sosok pengabdi yang sepanjang hidupnya banyak berurusan dengan manusia, dengan keberagaman, dinamika sosial serta ikhtiar menjaga harmoni di tengah kemajemukan kota.
Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan dalam sambutan pelepasan jenazah, menyampaikan bahwa mendiang dikenal sebagai ASN yang berdedikasi, bertanggung jawab, dan memiliki loyalitas tinggi dalam menjalankan amanah pemerintahan serta pelayanan kepada masyarakat.
‘Kepergian almarhum merupakan kehilangan besar, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi jajaran ASN dan seluruh pihak yang pernah bekerja sama,” ujarnya di hadapan para pelayat, Rabu (21/1/2026).
Menurutnya, almarhum adalah sosok yang selalu memberikan teladan dalam bekerja. Integritas dan komitmennya terhadap tugas dan tanggung jawab yang diembannya telah memberikan banyak kontribusi positif bagi pembangunan Kota Pontianak. Tidak hanya di dalam struktur pemerintahan, tetapi juga dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan yang mempererat hubungan antarwarga.
"Di tengah kesedihan ini, kita perlu mengingat betapa pentingnya nilai pengabdian, persatuan, dan saling menghormati yang selalu beliau tekankan. Ahmad Hasyim Hadrawi adalah teladan bagi kita semua dalam mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi. Mari kita teruskan semangat beliau dalam memberikan yang terbaik bagi kota ini dan masyarakat yang kita cintai,” pesannya.
Dalam struktur birokrasi, Hasyim Hadrawi menempati ruang kerja yang tidak sederhana. Sejak dipercaya menjabat sebagai Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Pontianak pada Oktober 2022, ia berada di garis depan pengelolaan relasi sosial dan politik. Kesbangpol menjadi simpul pertemuan berbagai kepentingan—ormas, tokoh agama, dinamika politik, isu kebangsaan, hingga upaya pencegahan radikalisme.
Almarhum menjalankan perannya dengan pendekatan dialog dan empati. Stabilitas kota, tidak dibangun dengan ketegasan administratif semata, melainkan dengan kepercayaan dan kemampuan memahami manusia yang ada di balik setiap persoalan.
Ahmad Hasyim Hadrawi dilahirkan di Yogyakarta pada 15 Juni 1968. Ia memulai pengabdian sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil pada 1 Maret 1998 dan diangkat menjadi PNS pada 1 November 1999. Kariernya ditempuh secara bertahap, menandai konsistensi dan integritas dalam birokrasi pemerintahan daerah.
Sejumlah jabatan strategis pernah diembannya, antara lain Kepala Bidang Pemuda, Kepala Bidang Industri, hingga Sekretaris Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata. Puncak karier birokrasi almarhum ditandai dengan pengangkatan sebagai Kepala Kesbangpol Kota Pontianak.
Dalam setiap jabatan, ia dikenal disiplin, teliti, dan bertanggung jawab. Etos kerjanya tercermin dari penilaian kinerja yang konsisten, serta anugerah Satyalancana Karya Satya 10 Tahun pada 2012 sebagai bentuk pengakuan atas kesetiaan dan pengabdiannya kepada negara.
Pengabdian Hasyim Hadrawi tidak bisa dilepaskan dari latar keluarganya. Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat. Dari sinilah ia mewarisi nilai keikhlasan, kesabaran, dan keberpihakan pada umat.
Kaderisasinya di lingkungan NU berlangsung lengkap. Ia berproses melalui Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), hingga Gerakan Pemuda Ansor. Di luar NU, almarhum juga pernah berkhidmat di DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), memperluas jejaring dan pengalaman lintas organisasi.
Perpaduan pengalaman organisasi dan birokrasi inilah yang membuat Hasyim Hadrawi dikenal luwes, komunikatif, dan mampu menjadi penghubung antara pemerintah dan masyarakat, khususnya dalam isu-isu sensitif kebangsaan dan kerukunan.
Wakil Wali Kota Pontianak menutup sambutannya dengan menyampaikan penghormatan atas jasa dan pengabdian almarhum, sekaligus permohonan maaf apabila semasa hidup terdapat khilaf atau kekurangan dalam pergaulan maupun pelaksanaan tugas.
Kini, Ahmad Hasyim Hadrawi telah berpulang. Namun jejak pengabdiannya tertinggal di banyak ruang—di meja-meja birokrasi, forum dialog lintas organisasi, serta upaya sunyi menjaga kohesi sosial Kota Pontianak. Ia telah menunaikan khidmatnya, tanpa batas, sebagaimana tagline yang diusungnya dalam Konferensi Wilayah NU Kalbar 2022. Walau ketika itu ia gagal, posisinya sebagai tokoh sentral tidak bergeser. Ia tetap menjadi rujukan, penyeimbang, dan jembatan hingga sekarang. Dan dari sanalah semangatnya, pengabdiannya akan terus dikenang. (prokopim)