,
menampilkan: hasil
Warga Ponbar Tumpah Ruah Ikuti Jalan Sehat dan Zumba
PONTIANAK – Warga Kecamatan Pontianak Barat tumpah ruah mengikuti Jalan Sehat dan Senam Zumba dalam rangka menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, Jumat (7/8/2026) pagi. Kegiatan berlangsung meriah dengan antusiasme warga yang hadir mengenakan nuansa merah putih.
Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengatakan, kegiatan tersebut memiliki tiga makna penting. Pertama, sebagai bentuk rasa syukur atas perjuangan para pahlawan yang telah merebut kemerdekaan. Kedua, mempererat silaturahmi masyarakat Pontianak Barat. Ketiga, mengajak warga membiasakan hidup sehat.
Bahasan menyebut, jalan sehat dan zumba menjadi cara sederhana tetapi bermakna untuk mengisi momentum kemerdekaan. Selain meriah, kegiatan ini juga mendorong masyarakat agar terus bergerak aktif menjaga kesehatan.
“Kita isi dengan Jalan Sehat dan Senam Zumba, semata-mata untuk menjaga kesehatan kita bersama. Hidup sehat itu dengan terus bergerak aktif, agar kita selalu sehat kapanpun dan di manapun,” katanya.
Ia mengapresiasi kehadiran warga Pontianak Barat yang memenuhi lokasi kegiatan. Menurutnya, antusiasme masyarakat menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan dalam menyambut bulan kemerdekaan. Bahasan juga mengapresiasi panitia, sponsor, dan seluruh pihak yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan tersebut. Ia menyebut, kolaborasi banyak pihak membuat agenda jalan sehat dan zumba dapat terlaksana dengan baik.
Di hadapan warga, Bahasan juga menyapa para peserta, khususnya ibu-ibu yang hadir mengenakan pakaian merah putih. Suasana berlangsung akrab dan penuh semangat.
“Para emak-emak menggunakan baju merah putih, ini sangat luar biasa,” katanya.
Ia berpesan agar peserta tetap menjaga ketertiban, keamanan, dan kebersihan selama kegiatan berlangsung. Menurutnya, semangat merayakan kemerdekaan juga harus dibarengi dengan tanggung jawab menjaga lingkungan. Kegiatan semakin meriah dengan pembagian doorprize bagi peserta. Bahasan menyebut, hadiah tersebut menjadi penyemangat tambahan bagi warga yang hadir mengikuti jalan sehat dan zumba.
Ketua TP PKK Kota Pontianak Yanieta Arbiastutie menambahkan, momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI menjadi ajakan bagi warga Pontianak Barat untuk semakin peduli terhadap kesehatan. Menurutnya, tubuh yang sehat, jiwa yang kuat, dan semangat yang mantap menjadi modal penting dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
“Dengan tubuh yang sehat, jiwa yang kuat, semangat yang mantap, insya Allah kita bisa melaksanakan dan menghadapi setiap kegiatan dengan baik dan lancar,” ujarnya.
Yanieta juga menyampaikan, rangkaian peringatan kemerdekaan turut diisi dengan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan masyarakat. Di antaranya Bulan Imunisasi Anak Sekolah, layanan posyandu di kecamatan, serta cek kesehatan gratis atau CKG. Ia berharap masyarakat terus membiasakan pola hidup sehat, tidak hanya saat kegiatan seremonial, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan sederhana seperti olahraga, pemeriksaan kesehatan, dan menjaga kebugaran dinilai penting untuk membangun keluarga yang sehat.
“Semua bapak ibu harus membiasakan pola hidup sehat. Semangat kita supaya badan sehat, jiwa kuat, dan kegiatan kita berjalan lancar,” tutupnya. (prokopim)
Pemerintahan Berintegritas Berdampak ke Kualitas Pelayanan Warga
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menegaskan budaya antikorupsi harus terus diperkuat karena berdampak langsung pada kualitas pelayanan publik, pemerataan pembangunan, dan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Korupsi bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga masalah moral, tata kelola, dan pelayanan kepada masyarakat. Penyalahgunaan kewenangan dapat merugikan keuangan negara maupun perekonomian negara, serta menghambat hak masyarakat untuk memperoleh pelayanan yang adil.
“Korupsi menimbulkan ketidakadilan dalam pelayanan publik dan distribusi sumber daya, sehingga hak masyarakat tidak terpenuhi secara merata,” ujarnya dalam Sosialisasi Antikorupsi Pemerintah Kota Pontianak di Aula Sultan Syarif Abdurrahman, Kantor Wali Kota Pontianak, Kamis (6/8/2026).
Menurutnya, dampak korupsi sangat luas. Dari sisi ekonomi, korupsi menyebabkan kerugian negara akibat penyalahgunaan anggaran dan dapat menurunkan kepercayaan investor. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi, pembangunan, dan penciptaan lapangan kerja tidak berjalan optimal.
Dari sisi sosial dan politik, korupsi menggerus kepercayaan publik kepada pemerintah dan lembaga negara. Jika kepercayaan menurun, partisipasi masyarakat dalam pembangunan juga dapat melemah.
“Kepercayaan masyarakat adalah modal penting pemerintahan. Karena itu, setiap aparatur harus menjaga integritas dalam menjalankan tugas dan pelayanan,” katanya.
Edi menyebut, korupsi bisa dipicu faktor internal maupun eksternal. Faktor internal antara lain sifat tamak, lemahnya moral dan integritas, serta gaya hidup konsumtif yang tidak seimbang dengan pendapatan sah. Sementara faktor eksternal dapat muncul dari lemahnya pengawasan, budaya permisif, dan tata kelola yang buruk.
Karena itu, pencegahan korupsi harus dilakukan sejak dini melalui pendidikan karakter. Nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan integritas perlu ditanamkan di keluarga, sekolah, lingkungan kerja, serta dalam kehidupan masyarakat.
Selain pencegahan, Edi menegaskan pentingnya strategi kuratif melalui penegakan hukum dan sanksi tegas bagi pelaku korupsi. Langkah tersebut diperlukan untuk memberikan efek jera sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum.
Ia juga mengajak masyarakat ikut berperan dalam pengawasan penyelenggaraan pemerintahan. Partisipasi publik dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang transparan, jujur, dan bebas dari praktik korupsi.
“Masyarakat memiliki peran penting melalui pengawasan partisipatif dan penerapan budaya integritas dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Pemkot Pontianak sendiri mencatat capaian positif dalam Survei Penilaian Integritas (SPI) Komisi Pemberantasan Korupsi. Nilai SPI Kota Pontianak meningkat dari 77,72 pada 2024 menjadi 77,92 pada 2025. Nilai tersebut menempatkan Pontianak sebagai kota dengan tingkat integritas tertinggi di Pulau Kalimantan dan melampaui rata-rata nasional yang berada pada angka 71.
Edi mengatakan, capaian itu menjadi penanda bahwa tata kelola pemerintahan Kota Pontianak berjalan ke arah yang tepat. Namun, capaian tersebut tetap harus dijaga melalui konsistensi, pengawasan, dan komitmen seluruh aparatur.
“Capaian ini harus menjadi motivasi untuk terus memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan melayani,” tutupnya. (prokopim)
Tiga Strategi Pemkot Tekan Kemiskinan Pontianak
PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak menyiapkan tiga strategi besar untuk mempercepat penanggulangan kemiskinan. Strategi tersebut meliputi pengurangan beban pengeluaran masyarakat miskin, peningkatan pendapatan warga, serta penyusutan kantong-kantong kemiskinan di wilayah perkotaan.
Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan mengatakan, tiga strategi tersebut harus dijalankan secara terpadu oleh seluruh perangkat daerah. Menurutnya, penanggulangan kemiskinan tidak bisa hanya dibebankan kepada Dinas Sosial atau Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD), tetapi menjadi tanggung jawab bersama sesuai tugas dan fungsi masing-masing.
“Penanggulangan kemiskinan bukan hanya tugas Dinas Sosial ataupun TKPKD semata, tetapi merupakan tanggung jawab seluruh perangkat daerah,” ujarnya dalam Rapat Koordinasi TKPKD Kota Pontianak di Aula Rohana Muthalib, Bapperida Pontianak, Kamis (6/8/2026).
Bahasan menjelaskan, strategi pertama adalah mengurangi beban pengeluaran masyarakat miskin. Upaya ini dilakukan melalui peningkatan akses terhadap pelayanan dasar, terutama pendidikan dan kesehatan, pemenuhan kebutuhan pokok, stabilitas harga bahan pangan, serta penguatan perlindungan sosial. Ia meminta perangkat daerah yang menangani hal tersebut memperkuat koordinasi. Dengan demikian, tidak ada masyarakat miskin yang tertinggal dari pelayanan pemerintah.
Strategi kedua adalah meningkatkan pendapatan masyarakat. Bahasan menegaskan, tujuan akhir penanggulangan kemiskinan bukan sekadar memberi bantuan, tetapi mendorong warga menjadi mandiri dan produktif.
“Peningkatan pendapatan menjadi sangat penting karena tujuan akhir penanggulangan kemiskinan bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi menciptakan masyarakat yang mandiri dan produktif,” katanya.
Upaya peningkatan pendapatan dilakukan melalui pelatihan tenaga kerja, pemberdayaan UMKM, peningkatan investasi daerah, serta pengembangan produktivitas ekonomi lokal. Ia meminta pelatihan kerja benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha, sehingga peserta pelatihan memiliki peluang kerja atau usaha setelah mengikuti program.
“Pelatihan tenaga kerja harus disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha. Program pemberdayaan UMKM juga harus diarahkan agar mampu naik kelas,” ujarnya.
Strategi ketiga adalah menyusutkan kantong-kantong kemiskinan. Langkah ini diarahkan melalui peningkatan kualitas perumahan dan permukiman, perbaikan rumah tidak layak huni, peningkatan pelayanan dasar kawasan, serta penataan lingkungan agar warga dapat hidup lebih sehat, aman, dan produktif. Bahasan secara khusus meminta camat dan lurah memperkuat pendataan rumah tidak layak huni dan sanitasi warga. Menurutnya, perangkat wilayah paling memahami kondisi riil masyarakat, sehingga data harus disusun secara objektif dan berdasarkan kebutuhan mendesak.
“Saya lihat masih banyak rumah yang semestinya mendapat bantuan rumah tidak layak huni. Tolong lurah, yang punya wilayah dan tahu detail kondisi rumah tidak layak huni termasuk WC yang tidak layak, benar-benar didata,” tegasnya.
Agar tiga strategi tersebut berjalan efektif, Bahasan meminta seluruh perangkat daerah menggunakan data yang sama sebagai dasar penyusunan program. Ia tidak ingin terjadi perbedaan sasaran penerima manfaat atau duplikasi kegiatan antardinas. Selain itu, ia mendorong kolaborasi lebih kuat dengan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Forum CSR dan Baznas juga diminta bergerak lebih aktif agar dukungan terhadap warga miskin dan rentan bisa semakin luas dan tepat sasaran.
Bahasan menambahkan, monitoring dan evaluasi harus dilakukan secara berkala untuk memastikan setiap anggaran yang digunakan benar-benar menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Program yang menyentuh langsung kebutuhan warga harus diperkuat, sementara program yang belum berdampak perlu dievaluasi.
“Setiap kebijakan yang kita rumuskan harus benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Ini ikhtiar bersama untuk mewujudkan Kota Pontianak yang semakin maju, sejahtera, berwawasan lingkungan, dan humanis,” pungkasnya. (prokopim)
Ario Sabrang Kembali Nahkodai Rumpon
PONTIANAK – Ario Sabrang kembali dipercaya menahkodai Rumah Komunitas Pontianak (Rumpon) masa bakti 2026–2029. Pengukuhan pengurus Rumpon dilakukan oleh Wakil Wali Kota Pontianak Bahasan, Rabu (5/8/2026).
Bahasan mengatakan, Rumpon diharapkan menjadi rumah besar bagi komunitas di Kota Pontianak. Wadah ini menjadi ruang untuk menyatukan berbagai potensi, memperkuat jejaring antarkomunitas, serta membangun kolaborasi yang terbuka, inklusif, dan produktif.
“Rumah Komunitas Pontianak atau Rumpon diharapkan menjadi wadah yang mampu menyatukan berbagai potensi, memperkuat jaringan antarkomunitas, serta menjadi ruang kolaborasi yang terbuka, inklusif, dan produktif,” ujarnya.
Menurut Bahasan, kemajuan sebuah kota tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia dan kuatnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, media, dan komunitas. Yang disebut terakhir memiliki peran penting sebagai ruang lahirnya ide kreatif, gerakan sosial, pelestarian budaya, pengembangan ekonomi kreatif, pendidikan, lingkungan hidup, hingga pemberdayaan generasi muda.
“Dengan bersatu, kita akan mampu melahirkan lebih banyak inovasi dan solusi untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan kota,” katanya.
Bahasan meminta pengurus Rumpon yang baru benar-benar memaksimalkan peran komunitas dalam memberikan gagasan dan solusi. Menurutnya, setiap komunitas perlu fokus pada bidang masing-masing, tetapi tetap memiliki tujuan yang sama, yakni memberi manfaat bagi masyarakat dan mendukung pembangunan Kota Pontianak.
“Pemerintah Kota Pontianak insya Allah tidak akan pernah menutup diri. Silakan berkomunikasi, baik melalui perangkat daerah, sampai kepada Pak Wali Kota maupun saya selaku Wakil Wali Kota,” ujarnya.
Bahasan juga mengingatkan bahwa tantangan pelayanan publik di era digital semakin kompleks. Masyarakat kini lebih kritis dan cepat menyampaikan keluhan melalui berbagai kanal. Karena itu, pemerintah dan komunitas perlu bersama-sama membangun cara kerja yang lebih terbuka, elegan, dan solutif.
“Semangatnya harus sama, kalau bisa dipermudah, mengapa harus dipersulit. Itu yang harus kita bangun dalam pelayanan,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Bahasan juga menyinggung pentingnya peran komunitas dalam melawan hoaks dan mengedukasi masyarakat agar tidak mudah percaya pada informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, arus informasi di media sosial harus disikapi dengan bijak.
Ia mencontohkan, informasi keliru yang beredar luas dapat menimbulkan kepanikan dan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Karena itu, komunitas diharapkan ikut menjadi mitra pemerintah dalam menyebarkan informasi yang benar dan membangun literasi publik.
“Kalau ada pohon yang sudah rawan, komunitas lingkungan bisa menyampaikan. Pemerintah bisa langsung melakukan aksi nyata,” tutupnya. (prokopim)