,
menampilkan: hasil
Perkuat Budaya Integritas ASN Lewat Sosialisasi Gratifikasi hingga Sekolah
PONTIANAK – Inspektorat Kota Pontianak terus memperkuat budaya integritas di lingkungan Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui sosialisasi pengendalian gratifikasi yang dilakukan secara rutin. Upaya ini diharapkan mampu membentuk perilaku berintegritas yang pada akhirnya menjadi budaya dan memberi dampak positif bagi masyarakat.
Inspektur Kota Pontianak, Trisnawati, mengatakan penguatan integritas harus dimulai dari ASN sebagai penyelenggara pemerintahan. Menurutnya, ASN yang berintegritas akan menjadi teladan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
"Kita berharap apabila ASN sudah memiliki perilaku berintegritas, Insya Allah ini akan menyebar juga ke seluruh lapisan masyarakat. ASN harus menjadi contoh atau role model," ujarnya, Selasa (14/7/2026).
Ia menjelaskan, membangun budaya integritas bukanlah proses yang instan. Diperlukan pembiasaan melalui kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan hingga akhirnya menjadi bagian dari budaya kerja.
Karena itu, Inspektorat Kota Pontianak terus menggelar sosialisasi mengenai integritas dan pengendalian gratifikasi.
“Kegiatan tersebut telah menjadi agenda rutin setiap bulan melalui Unit Pengendalian Gratifikasi (UPG) dan kini telah memasuki bulan ketiga pelaksanaan," ujar Tina sapaan karibnya.
Tina mengakui masih banyak masyarakat maupun ASN yang belum memahami secara utuh mengenai gratifikasi. Menurutnya, tidak semua bentuk pemberian dilarang.
Gratifikasi yang berkaitan dengan jabatan atau berpotensi memengaruhi pelayanan publik tidak diperbolehkan. Sebaliknya, terdapat bentuk pemberian yang dibenarkan sesuai ketentuan, seperti hadiah dalam acara pernikahan atau kenang-kenangan bagi pegawai yang memasuki masa pensiun.
"Yang perlu dipahami masyarakat adalah mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Itu yang terus kami sosialisasikan secara perlahan dan rutin," katanya.
Pada bulan ini, Inspektorat kembali menggelar kegiatan bertajuk "ITKO TANGGUH". Kegiatan tersebut akan melibatkan berbagai perangkat daerah dan pemangku kepentingan, di antaranya Dinas Kesehatan dengan layanan pemeriksaan kesehatan, Dinas Komunikasi dan Informatika untuk penyebarluasan informasi, serta sejumlah stakeholder lainnya.
Melalui kegiatan yang diawali dengan senam bersama itu, Inspektorat mengundang perwakilan ASN dari seluruh organisasi perangkat daerah agar pemahaman mengenai gratifikasi semakin merata.
" Selain menyasar ASN, sosialisasi juga diperluas hingga masyarakat melalui kerja sama dengan Tim Penggerak PKK yang memiliki jaringan sampai tingkat kelurahan," imbuhnya.
Trisnawati mengungkapkan, meningkatnya kepedulian masyarakat mulai terlihat saat kegiatan sosialisasi di Car Free Day Jalan Ahmad Yani. Seorang pedagang bahkan secara langsung menanyakan apakah kondisi tertentu termasuk gratifikasi atau tidak.
"Artinya masyarakat sudah mulai peduli. Ini yang ingin terus kita bangun melalui pendekatan pencegahan agar tidak muncul persoalan di kemudian hari," tuturnya.
Inspektorat juga tengah menyiapkan model edukasi antikorupsi bagi pelajar. Saat ini, sosialisasi kepada institusi pendidikan telah dilakukan melalui guru bekerja sama dengan Dinas Pendidikan. Ke depan, edukasi akan dikembangkan agar dapat menjangkau langsung para siswa.
Selain itu, Inspektorat kembali menggelar lomba video bertema antikorupsi bagi pelajar. Tahun ini, lomba juga diperluas untuk kalangan mahasiswa dan wartawan dalam rangka memperingati Hari Antikorupsi Sedunia.
"Kami berharap teman-teman media juga berperan memberikan edukasi melalui narasi yang mudah dipahami masyarakat. Semakin banyak yang memahami gratifikasi dan korupsi, semakin besar peluang kita melakukan pencegahan," terang Tina.
Ia menambahkan, berbagai upaya tersebut turut mendukung capaian Pemerintah Kota Pontianak dalam Monitoring Center for Prevention (MCP) Komisi Pemberantasan Korupsi.
Pada tahun 2025, Kota Pontianak meraih peringkat pertama dengan nilai 90 persen yang mencakup delapan area penilaian, antara lain pelayanan publik, sumber daya manusia, pendapatan daerah, serta kapabilitas Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). (kominfo)
Musim Buah, Timbulan Sampah Naik 20 Persen
PONTIANAK – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pontianak mencatat adanya peningkatan timbulan sampah hingga sekitar 20 persen dalam beberapa waktu terakhir. Peningkatan itu dipicu musim buah yang membuat volume sampah organik meningkat dan berdampak pada beban kerja petugas kebersihan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak Usmulyono mengatakan, kondisi tersebut membuat petugas harus menambah ritasi pengangkutan sampah. Bahkan, pada beberapa titik, DLH harus menambah armada dan memberlakukan lembur bagi petugas lapangan.
“Tahun ini luar biasa. Semua buah turun pada bulan-bulan ini, sehingga kami mendapat limpahan pekerjaan. Paling tidak sekarang ada peningkatan sekitar 20 persen,” ujarnya, Sabtu (11/7/2026).
Menurutnya, peningkatan volume sampah tidak hanya menambah beban angkut, tetapi juga membutuhkan penanganan lebih cepat agar tidak terjadi penumpukan di tempat pembuangan sementara. Pada beberapa wilayah, tenaga manusia sudah tidak cukup untuk menangani tumpukan sampah sehingga harus dibantu menggunakan alat berat.
“Kami terpaksa menambah armada angkutan, jumlah ritasi, dan petugas kami lemburkan. Kadang-kadang di satu daerah, tenaga manusia tidak cukup lagi, sehingga kami sudah menggunakan alat berat,” katanya.
Saat ini, persoalan sampah masih menjadi tantangan besar bagi Kota Pontianak. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Tahun 2025, timbulan sampah di Kota Pontianak mencapai 480,213 ton per hari. Dari jumlah tersebut, pengurangan sampah baru mencapai 18,87 persen, sehingga sampah yang masuk ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) masih sekitar 377,83 ton per hari.
Upaya pengurangan dilakukan dengan menyediakan TPS 3R di tiap kecamatan. TPS 3R berfungsi untuk mengurangi sampah sejak dari tempat pengumpulan. Sampah yang masuk tidak langsung dibuang seluruhnya, tetapi dipilah dan dikelola terlebih dahulu. Hanya residu yang kemudian diangkut ke tempat pemrosesan akhir.
“Wujudnya TPS 3R. Jadi sampah yang masuk kita kurangi, residunya saja yang kita buang,” katanya.
Usmulyono menyebut, jika konsep tersebut dapat berjalan optimal, jumlah timbulan sampah yang masuk ke TPA akan berkurang. Selain itu, beban armada angkutan dan petugas kebersihan juga bisa ditekan. Ia menegaskan, pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Berdasarkan aturan, sampah menjadi tanggung jawab pihak yang menghasilkan. Karena itu, sampah seharusnya mulai dikelola dari rumah tangga, lingkungan, hingga tingkat wilayah.
Usmulyono berharap masyarakat semakin terbiasa memilah dan mengolah sampah dari rumah. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sementara sampah yang masih bernilai ekonomi dapat disalurkan melalui bank sampah atau kelompok pengelola sampah di lingkungan masing-masing.
Dengan pola tersebut, ia optimistis pengelolaan sampah di Kota Pontianak dapat berjalan lebih efektif. Selain mengurangi penumpukan sampah, kebiasaan memilah dari sumber juga akan mendukung target pengurangan sampah yang masuk ke TPA.
“Pengolahan sampah harus dimulai dari rumah dan di tingkat wilayah. Kalau residunya saja yang dibuang, beban pengangkutan dan TPA akan jauh berkurang,” pungkasnya. (prokopim)
Konsul Malaysia di Pontianak Pamit, Kenang Keakraban dengan Kota Khatulistiwa
Edi Kamtono Nilai Peran Konsulat Malaysia di Pontianak Sangat Strategis
PONTIANAK – Konsul Malaysia di Pontianak, Azizul Zekri, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasinya kepada Pemerintah Kota Pontianak dan masyarakat Kalimantan Barat menjelang berakhirnya masa tugasnya di Kota Pontianak.
Selama hampir lima tahun bertugas sejak November 2021, Azizul mengaku memiliki banyak kenangan dan pengalaman berharga, terutama dalam mempererat hubungan kerja sama antara Malaysia dan Kota Pontianak di berbagai bidang.
“Pemerintah Kota Pontianak telah banyak memberikan kerja sama, bantuan, dan memfasilitasi hubungan bilateral antara Malaysia dan Kota Pontianak. Banyak program yang telah kita laksanakan bersama, mulai dari promosi pariwisata, kuliner, pendidikan, hingga kegiatan kemasyarakatan,” ujarnya usai berpamitan dengan Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono di Ruang VIP Wali Kota, Selasa (14/7/2026).
Ia menuturkan, berbagai kunjungan muhibah dan kunjungan balasan juga telah dilakukan selama masa tugasnya, baik dari Pontianak ke Kuching maupun ke Labuan. Ke depan, kerja sama tersebut diharapkan terus berlanjut, termasuk melalui kegiatan promosi budaya dan ekonomi seperti Borneo International Halal Showcase di Kuching yang direncanakan turut melibatkan partisipasi dari Kota Pontianak.
Lebih dari sekadar hubungan diplomatik, Azizul mengaku memiliki kedekatan emosional dengan masyarakat Pontianak. Keramahan warga, kekayaan budaya, serta ragam kuliner khas menjadi kesan mendalam yang akan selalu dikenangnya.
“Pontianak sangat dekat di hati saya. Masyarakatnya ramah dan saya merasa seperti berada di tengah keluarga sendiri,” katanya.
Menurutnya, kedekatan itu terjalin melalui berbagai aktivitas sosial dan keagamaan yang diikutinya selama bertugas, termasuk menghadiri kegiatan pengajian bersama sejumlah komunitas di Pontianak.
“Saya menganggap masyarakat di sini sebagai keluarga saya sendiri. Saya banyak mengikuti kegiatan kemasyarakatan dan pengajian bersama komunitas yang ada di Pontianak,” ungkapnya.
Meski masa tugasnya telah berakhir, Azizul memastikan dirinya akan kembali mengunjungi Kota Pontianak di masa mendatang. Ia mengaku memiliki hubungan yang erat dengan masyarakat maupun jajaran Pemerintah Kota Pontianak.
“Saya pasti akan kembali lagi ke Pontianak. Kedekatan yang telah terjalin dengan masyarakat, Pemerintah Kota Pontianak, dan Bapak Wali Kota Edi Kamtono menjadi kenangan yang sangat berarti bagi saya,” tuturnya.
Azizul berharap hubungan persahabatan dan kerja sama antara Malaysia, khususnya Sarawak, dengan Kota Pontianak dapat terus terjalin dan semakin berkembang di berbagai sektor pada masa mendatang.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menyampaikan apresiasi atas kontribusi Konsul Malaysia di Pontianak, Azizul Zekri yang telah menyelesaikan masa tugasnya selama lima tahun di Kota Pontianak.
Menurut Edi, keberadaan Konsulat Malaysia di Pontianak memiliki peran yang sangat strategis, tidak hanya bagi Kota Pontianak dan Provinsi Kalimantan Barat, tetapi juga untuk seluruh wilayah Kalimantan mengingat kedekatan geografis dan hubungan sosial budaya yang terjalin erat dengan negara bagian Sarawak, Malaysia.
"Hubungan Kalimantan Barat dengan Sarawak sudah seperti keluarga. Selain karena wilayah perbatasan yang sangat panjang, kita juga memiliki banyak kesamaan, baik dari sisi budaya maupun suku, seperti Melayu dan Dayak," imbuhnya.
Edi menuturkan, selama bertugas di Pontianak, Konsul Malaysia Azizul dinilai sangat komunikatif dan terbuka dalam membangun berbagai kerja sama yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Ia menyebut sejumlah bentuk kerja sama yang telah terjalin, mulai dari sektor perdagangan, pendidikan, kesehatan hingga pengembangan sumber daya manusia. Bahkan saat pandemi COVID-19 melanda, Malaysia melalui Sarawak turut memberikan bantuan oksigen bagi Kalimantan Barat.
"Pada masa pandemi, kita sempat mendapatkan bantuan oksigen melalui beberapa mobil tangki. Hingga saat ini, pasokan listrik dari Sarawak juga masih berlangsung," ungkapnya.
Selain itu, hubungan perdagangan dan ekspor antara Kalimantan Barat dan Malaysia juga terus berkembang. Produk-produk unggulan daerah, seperti kopi dan beras, turut mendapatkan dukungan promosi melalui berbagai kegiatan yang difasilitasi Konsulat Malaysia.
Edi menambahkan, berbagai kegiatan budaya dan kuliner yang digelar setiap tahun juga menjadi sarana mempererat hubungan kedua wilayah, termasuk promosi kuliner khas Malaysia seperti teh tarik dan makanannya.
Atas berakhirnya masa tugas Azizul di Pontianak, Edi mengaku merasa kehilangan sosok diplomat yang dinilainya rendah hati dan memiliki kedekatan dengan pemerintah daerah di Kalimantan Barat.
"Kami merasa kehilangan karena beliau sangat humble dan mudah berkomunikasi. Setiap ada peluang kerja sama yang menguntungkan kedua pihak, beliau selalu memberikan dukungan," katanya.
Ia berharap hubungan baik yang telah terjalin selama ini dapat terus dilanjutkan dan semakin diperkuat pada masa mendatang demi mendorong kemajuan bersama antara Kalimantan Barat dan Sarawak. (prokopim/kominfo)
Pemkot Pontianak dan UNU Kalbar Perkuat Kerja Sama Tridarma Perguruan Tinggi
PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak meningkatkan kerja sama dengan Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat (UNU Kalbar) dalam pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Wali Kota Pontianak Edi Kamtono mengatakan, Pemerintah Kota Pontianak siap membuka peluang kerja sama di berbagai bidang yang dapat memberikan manfaat bagi pembangunan kota dan masyarakat.
“Kita meningkatkan kerja sama dengan UNU Kalbar terkait Tridarma Perguruan Tinggi. Kota Pontianak siap bekerja sama di segala bidang sesuai kewenangan dan kebutuhan daerah,” ujarnya usai penandatanganan MoU di Kampus UNU Kalbar, Senin (13/7/2026).
Kesepakatan bersama tersebut akan ditindaklanjuti secara teknis melalui perjanjian kerja sama antara UNU Kalbar dan perangkat daerah terkait. Setiap organisasi perangkat daerah akan memetakan program yang dapat dikerjasamakan.
“Kita secara teknis akan menurunkan MoU ini menjadi kerja sama yang lebih konkret,” katanya.
Edi berharap kerja sama tersebut dapat mendukung peningkatan mutu pendidikan dan kualitas sumber daya manusia di Kota Pontianak. Peningkatan kualitas pendidikan dinilainya menjadi salah satu faktor penting dalam mendorong kenaikan Indeks Pembangunan Manusia atau IPM.
Menurutnya, peningkatan IPM tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga mencakup kualitas kesehatan dan kemampuan ekonomi masyarakat.
Oleh sebab itu, kontribusi perguruan tinggi dibutuhkan melalui pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta kajian kebijakan publik. Kerja sama juga diharapkan dapat membantu pemerintah daerah mengatasi persoalan pengangguran. Perguruan tinggi dapat berperan menyiapkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja serta mendorong tumbuhnya kewirausahaan di kalangan mahasiswa dan masyarakat.
Edi juga menyampaikan apresiasi kepada Nahdlatul Ulama yang selama ini berkontribusi meningkatkan kualitas pendidikan dan kehidupan keagamaan masyarakat di Kalimantan Barat, khususnya Kota Pontianak.
“Terima kasih kepada NU yang terus berperan meningkatkan kualitas keagamaan masyarakat dan pendidikan. Kita berharap kerja sama ini memberikan hasil nyata untuk meningkatkan kualitas masyarakat dan pembangunan Kota Pontianak,” tutupnya. (prokopim)