,
menampilkan: hasil
Kualitas Udara Tidak Sehat, Wali Kota Ajak Warga Pontianak Gunakan Masker
PONTIANAK – Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan menyusul kualitas udara di Kota Pontianak yang masih tidak sehat akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan. Kondisi udara saat ini perlu menjadi perhatian bersama, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga yang memiliki riwayat gangguan pernapasan. Ia meminta masyarakat tidak memaksakan diri beraktivitas di luar rumah apabila tidak mendesak.
“Saya mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah. Kalau tidak ada keperluan mendesak, sebaiknya kurangi aktivitas di luar ruangan,” ujarnya, Senin (24/8/2026).
Berdasarkan laporan kualitas udara 24 jam terakhir dari Stasiun Pemantau Kualitas Udara AQMS Pontianak Tenggara pada Senin (24/8/2026) pukul 07.00 WIB, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) menunjukkan angka 193 atau berada pada kategori tidak sehat. Parameter kritis yang terpantau adalah PM2,5, dengan temperatur udara 25,7 derajat Celsius.
Paparan partikel halus PM2,5 dapat berdampak pada kesehatan, terutama saluran pernapasan. Karena itu, penggunaan masker menjadi langkah sederhana namun penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan.
“Masker ini penting untuk melindungi diri dari paparan asap. Jadi tidak menunggu sakit baru memakai masker,” katanya.
Ia juga meminta masyarakat memperbanyak minum air putih, menjaga daya tahan tubuh, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala seperti batuk, sesak napas, mata perih, tenggorokan sakit, atau keluhan pernapasan lainnya.
Berdasarkan data BMKG Kalimantan Barat, sebaran titik panas pada 23 Agustus 2026 pukul 00.00 WIB hingga 23.00 WIB tercatat sebanyak 956 titik panas di Kalimantan Barat. Namun tak satu pun berada di wilayah Kota Pontianak. Meski demikian, dampak asap dari karhutla di sejumlah daerah tetap memengaruhi kualitas udara di Kota Pontianak.
“Walaupun titik panas di Pontianak tidak ada, asap dari daerah lain tetap berdampak kepada warga kita. Karena itu, kewaspadaan tetap harus kita tingkatkan,” ujar Edi.
Pemerintah Kota Pontianak terus menyiagakan layanan kesehatan untuk membantu masyarakat yang terdampak kabut asap. Warga yang mengalami keluhan pernapasan dapat mendatangi puskesmas terdekat, rumah sakit, atau Posko Segar di halaman PMI Kota Pontianak.
“Silakan datang ke puskesmas, rumah sakit, atau Posko Segar di halaman PMI apabila membutuhkan pemeriksaan kesehatan atau oksigen,” ungkapnya.
Ia berharap masyarakat saling mengingatkan untuk menjaga kesehatan, terutama di lingkungan keluarga dan sekitar tempat tinggal. Orang tua juga diminta membatasi aktivitas anak di luar rumah selama kualitas udara belum membaik.
“Yang paling penting, jaga kesehatan keluarga. Gunakan masker, kurangi aktivitas luar ruangan, dan segera periksa apabila ada keluhan,” pungkasnya. (prokopim)
Dekranasda Pontianak Apresiasi Paskibraka, Beri Kain Motif Khusus Cerite Kote
PONTIANAK – Ketua Dekranasda Kota Pontianak Yanieta Arbiastutie memberikan apresiasi kepada anggota Paskibraka Kota Pontianak Tahun 2026 yang telah sukses menjalankan tugas pengibaran dan penurunan Bendera Merah Putih pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Apresiasi itu disampaikan dalam agenda Ramah Tamah dan Apresiasi Paskibraka Kota Pontianak Tahun 2026 di UMKM Center Kota Pontianak, Minggu (23/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Dekranasda Kota Pontianak juga memberikan kain dengan motif khusus Cerite Kote kepada para anggota Paskibraka.
Yanieta mengatakan, penghargaan yang diberikan bukan sekadar bentuk seremoni. Apresiasi tersebut merupakan ungkapan rasa bangga kepada para pelajar yang telah menjalankan tugas negara dengan penuh tanggung jawab.
“Hari ini bukan hanya sekadar memberikan penghargaan atau apresiasi kepada anak-anak kita semua, tetapi bagaimana kami mengatakan kepada kalian bahwa kami sangat bangga,” ujarnya.
Menurutnya, tugas sebagai Paskibraka bukan hal yang mudah. Setiap gerak dan langkah para anggota disaksikan banyak orang, sehingga membutuhkan kedisiplinan, tanggung jawab, kekompakan, dan kerja keras.
“Itu adalah tugas negara, dilihat dan ditonton oleh banyak orang. Di setiap langkah adik-adik, saya merasakan bagaimana para pelatih membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, kekompakan, dan kerja keras,” katanya.
Yanieta menyebut, keberhasilan para anggota Paskibraka dalam menjalankan tugas pengibaran dan penurunan Bendera Merah Putih menjadi kebanggaan bagi Kota Pontianak. Ia juga mengapresiasi para pelatih, pamong, serta seluruh pihak yang telah membimbing para peserta hingga mampu tampil dengan baik.
“Adik-adik semua sudah membanggakan, telah bertugas dengan baik di tingkat nasional, provinsi maupun di Kota Pontianak,” ucapnya.
Ia berharap pengalaman menjadi Paskibraka tidak berhenti setelah tugas pengibaran dan penurunan bendera selesai. Nilai-nilai yang diperoleh selama latihan harus menjadi bekal dalam kehidupan sehari-hari.
“Pengalaman menjadi Paskibraka ini jangan berhenti setelah tugas kalian selesai. Jadikan kedisiplinan yang kalian dapat sebagai kekuatan dan kebiasaan yang diterapkan setiap hari,” pesannya.
Yanieta menambahkan, pemberian kain motif khusus Cerite Kote merupakan bentuk penghargaan sekaligus pengingat bahwa para anggota Paskibraka adalah bagian dari wajah muda Kota Pontianak. Motif tersebut diharapkan dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap identitas, budaya, dan cerita daerah sendiri.
Menurutnya, semangat Paskibraka sejalan dengan nilai yang ingin terus ditanamkan kepada generasi muda, yakni cinta tanah air, kebanggaan terhadap daerah, serta kemauan untuk terus berproses menjadi pribadi yang lebih baik.
Ia berharap para anggota Paskibraka terus menjaga karakter yang telah terbentuk selama pelatihan. Disiplin, kerja keras, tanggung jawab, dan kekompakan harus menjadi modal untuk meraih cita-cita dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
“Jadikan pengalaman ini sebagai kekuatan untuk terus melangkah. Kami bangga kepada anak-anak semua,” pungkasnya. (prokopim)
Kisah Paskibraka Pontianak Menjaga Semangat Kemerdekaan
Pemkot Beri Apresiasi Pengibar Bendera
PONTIANAK – Pemerintah Kota Pontianak dan sejumlah mitra memberikan apresiasi kepada Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kota Pontianak Tahun 2026 yang telah sukses menjalankan tugas pada peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Apresiasi dari Dekranasda Kota Pontianak, Bank Kalbar, Hotel Novotel, Mitra Anda dan Optik Pontianak tersebut disampaikan dalam agenda Ramah Tamah dan Apresiasi Paskibraka Kota Pontianak Tahun 2026 di UMKM Center Kota Pontianak, Minggu (23/8/2026).
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengatakan, keberhasilan Paskibraka dalam menjalankan tugas pengibaran dan penurunan bendera Merah Putih merupakan kebanggaan bagi Kota Pontianak. Ia secara khusus menyampaikan apresiasi kepada Celine Olivia Apriani Theo, anggota Paskibraka dari SMK 5 Pontianak yang dipercaya menjadi pembawa baki pada pengibaran Merah Putih di Istana Merdeka.
“Saya mengucapkan apresiasi, terima kasih, dan tentu berbahagia atas prestasi adik-adik yang telah menjalankan tugas pengibaran dan penurunan bendera Merah Putih, terutama Celine yang membawa harum nama Kota Pontianak dan Kalimantan Barat di event nasional,” ujarnya.
Menurut Edi, kepercayaan menjadi bagian dari Paskibraka, apalagi tampil di tingkat nasional, bukan hal yang mudah. Dibutuhkan ketangguhan fisik, mental, spiritual, kedisiplinan, serta semangat juang yang tinggi. Kehadiran Paskibraka menjadi bukti bahwa generasi muda Pontianak mampu berprestasi hingga tingkat nasional. Hal itu diharapkan menjadi motivasi bagi siswa-siswi lain di Kota Pontianak maupun Kalimantan Barat untuk terus berani bermimpi dan bekerja keras.
“Kita ingin memberikan semangat bagi generasi muda, bahwa kita bisa berprestasi di tingkat nasional,” ucapnya.
Edi berharap pengalaman sebagai Paskibraka menjadi bekal bagi para peserta untuk terus disiplin, berkarya, dan berprestasi. Nilai kekompakan, tanggung jawab, dan cinta tanah air yang diperoleh selama latihan harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari.
“Tugas pengibaran bendera mungkin telah selesai, tetapi tugas untuk menjaga kehormatan bangsa dan menjadi teladan generasi muda baru saja dimulai,” jelasnya.
Bagi Celine, menjadi pembawa baki pada pengibaran Bendera Merah Putih di Istana Merdeka bukan hanya tentang berdiri di barisan kehormatan pada 17 Agustus. Pengalaman itu menjadi perjalanan yang mengajarkannya tentang disiplin, tanggung jawab, keberanian, dan keyakinan pada diri sendiri.
“Saya sangat senang dan bangga karena bisa bertemu dengan teman-teman dari 38 provinsi yang ada di Indonesia,” ujar Celine.
Selama menjalani pemusatan di Jakarta, Celine bertemu dengan teman-teman sebaya dari berbagai daerah, dengan latar belakang, budaya, dan cerita yang berbeda. Dari sana, ia belajar bahwa Indonesia begitu luas, beragam, dan disatukan oleh semangat yang sama: cinta tanah air. Selama pelatihan dirinya tidak hanya ditempa secara fisik. Para anggota Paskibraka Nasional juga belajar tentang kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan mengatur waktu dengan baik.
Celine berharap pengalaman dan ilmu yang diperolehnya selama berada di Jakarta dapat dibawa pulang dan dibagikan kepada teman-teman di daerah. Ia ingin generasi muda Pontianak tidak takut bermimpi dan tidak ragu terhadap kemampuan diri sendiri.
“Pesan saya untuk teman-teman semuanya, tetap semangat dan jangan pernah takut untuk bermimpi. Jangan pernah ragu sama kemampuan diri kita sendiri. Teruslah berproses, karena proses itulah yang akan mengantarkan kita ke kesuksesan,” ucapnya.
Kisah perjuangan juga datang dari Adrian Dimas Christoper Situmorang, anggota Paskibraka asal SMA Negeri 4 Pontianak. Bagi Adrian, menjadi bagian dari pengibaran Bendera Merah Putih di tingkat Kota Pontianak meninggalkan cerita tentang letih, rindu kepada orang tua, mental yang diuji, hingga rasa bangga karena mampu menuntaskan tugas.
“Kami merasa letih, lelah, dan rindu sama orang tua. Jujur kami juga merasa ingin cepat-cepat pulang,” ujarnya.
Adrian mengaku sempat tergoda ketika pelatih memberi kesempatan kepada peserta yang merasa tidak kuat untuk mundur. Namun, ia kembali mengingat pesan pelatih bahwa mereka yang terpilih menjadi Paskibraka Kota Pontianak adalah orang-orang terbaik dari ratusan siswa yang mengikuti seleksi.
“Saya tahu bahwa Pak Fajar (pelatih) selalu mengingatkan, orang-orang yang terpilih sebagai Paskibraka Kota Pontianak merupakan orang-orang terbaik dari banyak sekolah,” katanya.
Seiring waktu, rasa letih dan keinginan untuk pulang mulai berubah menjadi semangat. Adrian mulai memahami bahwa proses berat yang dijalani bukan sekadar latihan fisik, tetapi bagian dari pembentukan mental dan tanggung jawab.
“Perasaan letih, lelah, dan ingin cepat-cepat pulang mulai menghilang. Malahan berganti menjadi semangat yang menggebu-gebu,” tuturnya.
Puncak dari seluruh proses itu terjadi pada 17 Agustus. Sejak pagi, Adrian merasakan semangat yang berbeda. Pikiran dan hatinya tertuju sepenuhnya pada satu hal, yaitu menjalankan tugas pengibaran dan penurunan bendera dengan sebaik-baiknya. Meski pengibaran berjalan lancar, ujian datang saat penurunan bendera. Cuaca yang kurang baik dan hujan membuat mental para anggota sempat terguncang. Namun menjelang pelaksanaan penurunan, hujan berhenti dan kondisi cuaca membaik.
“Ketika penurunan, mental kami sempat terguncang karena cuacanya kurang baik. Waktu itu hujan. Puji Tuhan, ketika penurunan tiba-tiba hujan berhenti dan kondisi cuaca membaik,” katanya.
Ia bersyukur dapat menjadi bagian dari Paskibraka Kota Pontianak, dan memastikan pengalaman itu tak akan mungkin terlupakan. (prokopim)
Tutup Rakorda MUI se-Kalimantan, Edi Dorong Sinergi Ulama dan Pemerintah
PONTIANAK - Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono resmi menutup Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Wilayah V se-Kalimantan Tahun 2026 di Hotel Grand Mahkota Pontianak, Minggu (23/8/2026).
Edi menyampaikan apresiasi kepada MUI yang telah memilih Kota Pontianak sebagai lokasi pelaksanaan Rakorda yang diikuti pengurus MUI dari berbagai wilayah di Kalimantan, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur.
“Atas nama Pemerintah Kota Pontianak, saya merasa tersanjung dan bersyukur diberikan kesempatan untuk menutup kegiatan Rapat Koordinasi Daerah MUI Wilayah V se-Kalimantan Tahun 2026,” ujar Edi usai menutup agenda acara.
Ia berharap Rakorda tersebut tidak hanya memperkuat silaturahmi antarpengurus MUI, tetapi juga menghasilkan rekomendasi yang dapat memperkuat peran ulama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Menurutnya, sinergi antara pemerintah dan ulama memiliki peran penting dalam pembangunan daerah. Hal itu sejalan dengan pembagian kewenangan pemerintahan antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, serta pemerintah kabupaten dan kota.
“Kita memiliki kewenangan yang terbagi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota. Karena itu, sinergi antara pemerintah dan para ulama menjadi sangat penting dalam membangun masyarakat dan daerah,” katanya.
Edi juga mengapresiasi kehadiran Ketua Komisi II DPR RI dalam rangkaian Rakorda. Ia menilai perhatian terhadap tata kelola pemerintahan, khususnya di daerah, menjadi bagian penting dalam mendorong peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Edi turut menyampaikan kondisi yang tengah dihadapi sejumlah wilayah di Kalimantan akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menimbulkan kabut asap.
Di Kota Pontianak, kondisi kualitas udara dalam beberapa waktu terakhir turut berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Pemerintah Kota Pontianak telah mengambil sejumlah langkah perlindungan, termasuk meliburkan kegiatan belajar mengajar bagi peserta didik jenjang TK, SD, dan SMP serta membatasi aktivitas masyarakat di luar ruangan.
Edi pun meminta doa kepada seluruh peserta Rakorda yang berasal dari berbagai daerah di Kalimantan agar hujan segera turun dan kondisi kabut asap dapat berakhir.
“Kepada seluruh tamu dari berbagai wilayah Kalimantan, kami mohon doa agar Allah segera menurunkan hujan yang berkah, sehingga kondisi kabut asap dapat segera berakhir dan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan nyaman,” tuturnya.
Ia berharap hujan yang turun nantinya menjadi rahmat bagi seluruh wilayah Kalimantan dan membantu mengakhiri kondisi kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Edi berharap Rakorda MUI Wilayah V se-Kalimantan dapat semakin memperkuat tali silaturahmi dan sinergi antara ulama, umara, serta seluruh elemen masyarakat.
“Mudah-mudahan kegiatan ini semakin memperkuat tali silaturahmi, memperkuat sinergi antara ulama, umara, dan seluruh elemen masyarakat, serta menghasilkan rekomendasi yang memberikan manfaat bagi umat dan bangsa,” pungkasnya. (prokopim)